Petani di kawasan Subak Jatiluwih, Tabanan, Bali, kini mengadopsi teknologi drone untuk memupuk tanaman padi. Inovasi ini diklaim mampu memangkas waktu kerja secara drastis, dari yang semula memakan waktu berjam-jam menjadi hanya sekitar 10 menit per hektare.
I Gede Made Ardana, yang membidangi Pengembangan Destinasi Wisata Alam (DTW) Jatiluwih, menjelaskan bahwa efisiensi waktu ini sangat signifikan. “Kalau manual satu hektare bisa 2 sampai 3 jam. Dengan drone cukup sekitar 10 menit sudah selesai,” ujarnya pada Rabu (22/4/2026).
Selain memangkas waktu, penggunaan drone juga dinilai meringankan beban tenaga petani yang mengelola lahan seluas 227 hektare tersebut. Ardana menambahkan bahwa sistem penyemprotan menggunakan drone menghasilkan distribusi pupuk yang lebih merata, bahkan menjangkau area yang sulit diakses secara manual.
“Kalau manual itu kadang kurang merata karena lahannya luas dan berjauhan. Dengan drone, penyemprotannya bisa diatur dan hasilnya lebih merata,” tuturnya.
Dukungan Pertanian Organik
Aplikasi teknologi drone ini merupakan bagian dari upaya pengelola Subak Jatiluwih untuk mendukung sistem pertanian organik. Pupuk yang digunakan adalah jenis organik berbasis hormon yang kaya akan nutrisi esensial bagi tanah dan tanaman padi.
Teknologi ini mulai diterapkan sejak awal tahun 2025 dan digunakan secara rutin, meskipun pelaksanaannya tetap disesuaikan dengan kondisi cuaca. “Rutin dilakukan, tetapi memang ada kendala seperti angin kencang dan hujan,” ungkap Ardana.
Peningkatan Produktivitas Panen
Selain efisiensi operasional, penggunaan drone juga memberikan dampak positif terhadap peningkatan produktivitas hasil panen. Ardana mengestimasi peningkatan produktivitas rata-rata berkisar antara 15 hingga 20 persen.
Dalam praktiknya, pemupukan satu hektare lahan memerlukan sekitar 1,5 liter pupuk organik yang dicampur dengan 36 liter air. Pupuk ini kemudian disemprotkan dari ketinggian 2 hingga 3 meter, mengikuti pola yang telah dipetakan sebelumnya.
Tantangan Teknis dan Pengembangan ke Depan
Meskipun demikian, adopsi teknologi drone belum sepenuhnya merata di seluruh area sawah Jatiluwih. Beberapa kendala teknis, seperti keterbatasan lokasi pendaratan dan pengisian daya baterai, masih menjadi hambatan.
Drone yang saat ini digunakan merupakan bantuan dari Bank Indonesia yang diterima pada tahun 2025 dan dioperasikan oleh tiga pilot terlatih. Pengelola Subak Jatiluwih berencana untuk menambah jumlah unit drone di masa mendatang melalui kolaborasi dengan berbagai pihak.
“Apresiasi petani sangat bagus. Mereka merasa dimudahkan dengan drone,” tutup Ardana.






