Global

Irak Diam-diam Terlibat Perang Iran, Serang Arab Saudi

Advertisement

RIYADH – Sejumlah milisi Irak yang didukung oleh Teheran dilaporkan telah melancarkan serangan menggunakan drone berisi bahan peledak ke wilayah Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya selama lebih dari lima minggu perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Serangan-serangan ini disebut terjadi di bawah bayang-bayang konflik yang lebih besar tersebut, yang dimulai sejak akhir Februari lalu.

Menurut laporan Wall Street Journal pada Senin (20/4/2026), mengutip setidaknya satu laporan dari pihak Saudi yang mengetahui situasi tersebut, setengah dari hampir 1.000 serangan drone yang menyasar wilayah kerajaan berasal dari Irak.

Serangan tersebut mencakup target-target strategis seperti kilang minyak Saudi di Yanbu, yang berlokasi di pesisir Laut Merah, serta ladang minyak di Provinsi Timur kerajaan. Selain itu, drone asal Irak juga dilaporkan mengarah ke bandara sipil di Kuwait dan menargetkan Bahrain setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata awal bulan ini. Aset-aset negara Teluk di Irak, termasuk konsulat Kuwait di Basra dan konsulat Uni Emirat Arab di Kurdistan, juga menjadi sasaran.

Keterlibatan milisi Irak ini, bersama dengan Hizbullah yang juga didukung Iran di Lebanon, dinilai memperluas pilihan Teheran dalam melancarkan serangan dan meningkatkan kapabilitas daya tembak yang bisa dikerahkan.

Mengapa Milisi Irak Membantu Iran?

Milisi Syiah Irak sendiri muncul dari kekacauan pasca-invasi Amerika Serikat lebih dari dua dekade lalu. Kelompok-kelompok ini awalnya dibentuk untuk membela wilayah Syiah dan melawan pasukan AS yang dianggap sebagai penjajah.

Iran telah menyalurkan dukungan senjata kepada kelompok-kelompok ini, yang kemudian memainkan peran signifikan dalam memerangi kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang menyerbu Irak dari Suriah pada tahun 2014. Keberadaan kelompok seperti Kataib Hezbollah dan Asaib Ahl al-Haq memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap pemerintah Irak, sekaligus mempererat hubungan dengan Iran.

Kelompok-kelompok milisi ini memang telah lama menyatakan permusuhan terhadap Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kuwait, mengingat hubungan dekat negara-negara tersebut dengan Amerika Serikat dan sikap mereka yang menentang Iran.

Advertisement

Meskipun milisi Irak dan Hizbullah tidak memainkan peran yang menonjol dalam perang Iran pada Juni tahun lalu, situasi kali ini berbeda. Para analis menilai bahwa rezim Iran menghadapi ancaman eksistensial yang juga membahayakan kelompok-kelompok ini, sehingga mendorong mereka untuk bertindak lebih agresif dan dalam beberapa kasus, bekerja langsung di bawah struktur komando militer Iran.

Potensi Respons dan Keterlibatan Lebih Lanjut

Michael Knights, Kepala Penelitian di Horizon Engage yang telah mempelajari kampanye militer yang dipimpin Saudi melawan milisi Houthi yang didukung Iran di Yaman, memperkirakan bahwa Arab Saudi kemungkinan akan mulai melancarkan serangan simbolis di Irak sebagai peringatan kepada milisi yang terlibat.

Sementara itu, Kuwait dan Bahrain berpotensi mengizinkan Amerika Serikat untuk menggunakan wilayah mereka sebagai basis peluncuran serangan rudal terhadap milisi Irak.

Renad Mansour, Direktur Proyek Iraq Initiative di Chatham House, sebuah lembaga kajian di London, menambahkan bahwa keberanian kelompok milisi semakin meningkat seiring dengan keterlibatan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran dalam mendukung serangan mereka.

“Prospek keruntuhan rezim, fragmentasi, atau degradasi bahkan di Teheran, terutama bagi kelompok-kelompok perlawanan ini, adalah ancaman eksistensial, karena itu adalah sumber kekuatan utama mereka,” ujar Mansour.

Mansour menambahkan, “Strategi Iran dan kelompok-kelompok yang berada di bawah komando Iran dalam perang ini adalah untuk merusak, mengganggu, dan menunjukkan konsekuensi dari perang melawan Iran.”

Advertisement