Sektor perhotelan di Indonesia mulai menunjukkan langkah signifikan dalam mengadopsi energi baru terbarukan, seiring dengan meningkatnya kesadaran akan efisiensi energi dan urgensi pengurangan emisi karbon. Salah satu wujud nyata dari transisi ini terlihat di Bali, destinasi wisata yang kian berupaya menerapkan praktik bisnis berkelanjutan.
Fairfield by Marriott Bali Kuta Sunset Road menjadi salah satu pionir dengan mulai mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 134,42 kWp di kawasan tersebut. Peresmian instalasi ini dilakukan pada Selasa, 21 April 2026, sebagai bagian dari proyek yang dikembangkan bersama Greenvolt Power Indonesia. Keberadaan PLTS ini diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam upaya pelestarian lingkungan.
Dengan kapasitas terpasang tersebut, Fairfield by Marriott Bali Kuta Sunset Road memproyeksikan dapat menekan emisi karbon hingga sekitar 146.923 kilogram karbon dioksida per tahun. Angka ini setara dengan upaya penyerapan karbon yang dapat dilakukan oleh ribuan pohon, sebuah pencapaian penting dalam mengurangi jejak lingkungan operasional hotel.
Dorong Efisiensi dan Keberlanjutan
General Manager Fairfield by Marriott Bali Kuta Sunset Road, Eric Gozal, menegaskan bahwa pemanfaatan energi surya merupakan bagian integral dari strategi pengelolaan energi hotel sekaligus komitmen untuk meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan.
“Adopsi energi surya menjadi langkah penting dalam mengelola energi sekaligus mengurangi jejak lingkungan,” ujar Eric Gozal dalam keterangan resmi yang diterima pada Selasa (21/4/2026).
Lebih lanjut, Eric menambahkan bahwa penggunaan energi terbarukan juga sejalan dengan standar global yang semakin ketat dalam industri perhotelan, di mana aspek keberlanjutan menjadi kian krusial.
Fanny Susanti, Head of Operations Greenvolt Power Indonesia, turut menyoroti pergeseran paradigma dalam sektor energi. Ia menilai bahwa transisi energi kini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah kebutuhan strategis bagi para pelaku usaha, termasuk di industri perhotelan yang memiliki konsumsi energi tinggi.
“Transisi energi di sektor dengan kebutuhan energi tinggi, seperti perhotelan, menjadi langkah penting untuk memastikan ketahanan bisnis jangka panjang,” jelas Fanny Susanti.
Fanny juga menyampaikan bahwa adopsi energi terbarukan dapat dilakukan melalui berbagai skema kemitraan yang fleksibel, termasuk opsi tanpa investasi awal. Hal ini diharapkan dapat meringankan beban operasional perusahaan dan mendorong lebih banyak hotel untuk beralih ke energi bersih.
Potensi Percepatan Dekarbonisasi
Adopsi energi surya di sektor perhotelan, khususnya di destinasi wisata seperti Bali yang membutuhkan pasokan energi besar, dinilai berpotensi besar untuk mempercepat upaya dekarbonisasi. Selain manfaat lingkungan dalam menekan emisi karbon, penggunaan energi terbarukan juga diyakini dapat meningkatkan efisiensi operasional.
Langkah ini juga diharapkan dapat memperkuat daya saing industri perhotelan di kancah global. Seiring dengan meningkatnya tuntutan konsumen dan pasar terhadap praktik bisnis yang berkelanjutan, hotel-hotel yang mengadopsi energi bersih akan memiliki keunggulan kompetitif tersendiri.






