Regional

Harum Cuan Daun Mint dari Pekarangan, Kisah Sukses Urban Farming di Pangkalpinang

Advertisement

PANGKALPINANG, KOMPAS.com – Di tengah kepadatan permukiman di Jalan Nila II, Kelurahan Rejosari, Kota Pangkalpinang, tercium semerbak aroma mint yang khas. Wangi segar ini bukan berasal dari kebun luas, melainkan dari pekarangan belakang rumah Trianti (63) yang disulap menjadi lahan pertanian urban. Di lahan terbatas inilah, Trianti menanam harapan yang kini berbuah nyata menjadi sumber penghasilan.

Tujuh bedeng hidroponik berjejer rapi, di mana gemericik air nutrisi mengalir tanpa henti. Daun-daun mint tumbuh rimbun, hijau, dan harum, menjadikannya komoditas yang kini banyak dicari oleh kafe dan hotel di kota itu.

“Awalnya saya hanya menanam sayur untuk konsumsi sendiri. Tapi dua tahun terakhir, saya fokus ke mint karena pasarnya ada setiap hari,” ujar Trianti saat ditemui, Rabu (22/4/2026).

Dari Hobi Pensiun Menjadi Sumber Cuan

Kegiatan hidroponik ini bermula dari Trianti yang ingin mengisi waktu luang setelah pensiun. Ia membeli bibit secara daring dan mulai mencoba menanam di halaman rumahnya. Tanaman mint yang dipilihnya ternyata membuka peluang usaha yang tak terduga.

Kini, daun mint hasil kebun Trianti telah menjadi pemasok rutin bagi berbagai kafe dan hotel di Pangkalpinang. Dengan harga Rp 250.000 per kilogram atau Rp 30.000 per ons, hasil panennya memberikan pemasukan yang stabil.

Kunci utama kesuksesan Trianti terletak pada kesegaran produknya. Daun mint dipetik sesaat sebelum dikirim, memastikan aroma tetap kuat dan kualitas terjaga. “Beda kalau didatangkan dari luar daerah. Perjalanan lama bikin kualitas turun. Di sini bisa langsung petik,” jelasnya.

Advertisement

Merawat Tanaman di Tengah Terik Kota

Menjaga kualitas mint di tengah iklim tropis Pangkalpinang yang cenderung panas bukanlah perkara mudah. Sistem hidroponik yang digunakannya sangat bergantung pada aliran air dan pasokan listrik yang stabil.

Untuk mengatasi suhu tinggi, Trianti mengaplikasikan solusi sederhana namun efektif: memasang jaring terpal di atas bedeng tanaman. Langkah ini terbukti mampu menjaga kesegaran daun mint dan mencegahnya cepat layu.

Bagi Trianti, kebun kecil ini bukan hanya tentang keuntungan finansial. Ia juga memelihara ikan patin, bebek, dan ayam kampung sebagai bagian dari upaya kemandirian pangan keluarga.

Bersama anaknya, Anjar, Trianti juga aktif berbagi pengalaman budidaya kepada warga sekitar. “Budidaya itu soal konsistensi. Panennya juga ada tekniknya supaya cepat tumbuh lagi,” tuturnya.

Harapan Trianti sederhana: ia ingin sektor pariwisata di Bangka Belitung terus bertumbuh, sehingga permintaan daun mint akan tetap terjaga. Dari pekarangan sempit di rumahnya, Trianti telah membuktikan bahwa wangi tanaman kecil dapat membawa keuntungan yang signifikan.

Advertisement