Travel

Fakta Masjid Cut Meutia di Menteng, Berusia Lebih dari 100 Tahun

Advertisement

Masjid Cut Meutia di Menteng, Jakarta Pusat, berdiri kokoh sebagai saksi bisu perjalanan sejarah ibu kota selama lebih dari satu abad. Bangunan yang berlokasi di Jalan Taman Cut Mutiah Nomor 1 ini, awalnya bukanlah tempat ibadah, melainkan sebuah kantor biro arsitektur dan pengembang pada masa kolonial Belanda.

Gedung yang dikenal dengan nama “Boplo” ini dirancang oleh arsitek P.A.J Moojen, yang juga berperan dalam penataan kawasan Menteng. Sejarah panjangnya mencatat berbagai fungsi, mulai dari kantor pos, kantor Jawatan Kereta Api Belanda, hingga markas Kempetai Angkatan Laut Jepang. Bahkan, setelah kemerdekaan Indonesia, Presiden Soekarno sempat menjadikannya kantor Dinas Perumahan Rakyat.

Perjalanan Menjadi Masjid Cagar Budaya

Peran penting bangunan ini berlanjut pasca-kemerdekaan ketika beralih fungsi menjadi kantor Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS). “Pasca-kemerdekaan, ini menjadi kantor DPR-MPR pertama di Indonesia sebelum berpindah di Senayan, diketuai oleh Jenderal A.H. Nasution,” ujar Derisman, penjaga masjid.

Inisiatif Jenderal A.H. Nasution tidak berhenti di situ. Ia berperan penting dalam upaya menjadikan gedung ini sebagai bangunan cagar budaya. Setelah kantor MPRS berpindah ke Senayan, Jenderal Nasution tidak menginginkan gedung bersejarah ini kembali difungsikan sebagai kantor biasa. Ia mengusulkan agar bangunan tersebut dimanfaatkan sebagai masjid.

Namun, peresmiannya sebagai masjid tidak serta merta terjadi. Baru pada tanggal 18 Agustus 1987, melalui Surat Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 5184/1987, bangunan tersebut secara resmi ditetapkan sebagai Masjid Cut Meutia. Penamaan masjid ini diambil dari nama jalan yang berada di dekatnya.

Advertisement

Keunikan Masjid Cut Meutia juga terletak pada orientasi arah kiblatnya. Mengingat bangunan ini tidak dirancang sebagai tempat ibadah, arah kiblat di dalamnya dibuat miring sekitar 15 derajat dari sisi tembok bangunan.

Ancaman Pembongkaran dan Keteguhan Masyarakat

Menjelang tahun 1980-an, Masjid Cut Meutia sempat menghadapi ancaman pembongkaran. Wacana ini muncul pada masa kepemimpinan Presiden Soeharto, terkait rencana pembangunan jalur kereta api yang akan membentang dari Cikini menuju Gambir di belakang masjid.

Pembangunan rel kereta api tersebut mengharuskan adanya penggusuran, termasuk bangunan Masjid Cut Meutia. Namun, usulan pembongkaran ini tidak serta merta diterima. Muncul pertentangan kuat dari masyarakat dan tokoh-tokoh sekitar yang memperjuangkan kelestarian masjid bersejarah ini.

Berkat penolakan tersebut, Masjid Cut Meutia berhasil dipertahankan dan tetap berdiri kokoh hingga kini, menjadi salah satu ikon sejarah dan tempat ibadah penting di jantung kota Jakarta.

Advertisement