Travel

Festival Janda Reni, Meresapi Filosofi Sego Lemeng dan Kopi Uthek

Advertisement

BANYUWANGI, JATIM — Desa Banjar di Kecamatan Licin, Banyuwangi, Jawa Timur, kembali menjadi sorotan melalui perayaan unik “Festival Janda Reni”. Lebih dari sekadar acara kuliner, festival ini menjadi ajang untuk mendalami filosofi hidup masyarakat Osing yang terbungkus dalam kelezatan Sego Lemeng dan Kopi Uthek.

Nama festival yang terdengar nyentrik ini ternyata memiliki akar kuat pada tradisi pertanian aren di desa tersebut. Lukman Hakim, seorang tokoh adat setempat, menjelaskan bahwa “Janda Reni” merujuk pada proses pemisahan bunga aren.

“Reni yang dimaksud di sini adalah nama dari bunga aren. Lalu Janda atau Rondo tersebut merupakan proses megat atau pemisahan. Jadi Janda Reni ini merupakan proses pemisahan bunga aren,” terang Lukman.

Sego Lemeng: Cerminan Kesabaran dalam Budaya Kilat

Bintang utama festival ini, Sego Lemeng, menyajikan sebuah kontras menarik dengan budaya fast food masa kini. Kuliner ini bukanlah nasi bakar biasa, melainkan sebuah mahakarya yang menuntut kesabaran ekstra dalam pembuatannya.

Nasi yang telah dibumbui dan dicampur dengan suwiran ayam atau ikan tuna kemudian dibungkus rapi menggunakan daun pisang. Selanjutnya, bungkusan nasi tersebut dimasukkan ke dalam bambu muda dan dibakar di atas kayu bakar selama kurang lebih empat jam. Proses pembakaran panjang ini bertujuan agar aroma khas kayu bakar meresap sempurna ke dalam nasi.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, yang turut hadir dalam kemeriahan festival pada Jumat (19/4/2024), memberikan apresiasi tinggi terhadap upaya masyarakat dalam melestarikan warisan kuliner ini.

“Masyarakat Banyuwangi memiliki akar yang kuat pada tradisi, tidak hanya seni dan budaya tapi juga kulinernya,” kata Ipuk.

Ia menambahkan bahwa pemerintah daerah berkomitmen untuk terus melestarikan tradisi kuliner melalui penyelenggaraan acara yang menarik, sekaligus menjadikannya sebagai atraksi wisata.

Advertisement

Kopi Uthek dan Gula Aren: Simbol Pahit Manis Kehidupan

Menikmati Sego Lemeng yang gurih terasa belum lengkap tanpa kehadiran Kopi Uthek. Cara penyajian dan konsumsi kopi ini pun menawarkan pengalaman tersendiri. Pengunjung diajak untuk menggigit terlebih dahulu potongan gula aren keras sebelum menyeruput kopi hitam panas. Bunyi “uthek” yang dihasilkan saat gigi beradu dengan gula aren inilah yang menjadi asal-usul penamaan kopi ini.

Kepala Desa Banjar, Sunandi, menjelaskan bahwa perpaduan Sego Lemeng dan Kopi Uthek ini mengandung makna filosofis yang mendalam bagi masyarakat Osing.

“Kopi Uthek yang bersanding dengan gula aren mengandung makna pahit manisnya kehidupan, sementara Sego Lemeng makanan yang menjaga perut tetap kenyang,” jelasnya.

Festival Janda Reni di Desa Banjar ini membuktikan daya tarik magis kuliner tradisional. Ribuan pengunjung memadati jalanan desa, menikmati aroma bambu terbakar yang menguar di udara pegunungan yang sejuk.

Seorang wisatawan asal Sidoarjo, Edy, mengungkapkan kekagumannya terhadap perpaduan rasa yang ia cicipi.

“Perpaduan rasa gurih Sego Lemeng yang legit dan sensasi pahit-manis ini menciptakan sensasi yang tak terlupakan di lidah. Keduanya cocok dipadukan,” ungkapnya.

Advertisement