Jakarta – Gedung Sarinah, yang dikenal sebagai pusat perbelanjaan pertama di Indonesia, juga menyimpan jejak monumental lain dalam sejarah modernisasi negara ini: eskalator pertama. Fasilitas tangga bergerak ini mulai beroperasi di lantai 1 Sarinah sejak tahun 1963, dua tahun sebelum pusat perbelanjaan itu sendiri diresmikan pada 15 Agustus 1966.
Kini, eskalator bersejarah tersebut tidak lagi melayani mobilitas pengunjung. Bangunan dan fasilitas ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya, menandai perannya yang tak tergantikan dalam perkembangan sejarah.
Dalam sebuah acara “Casual Walking Tour BerKemana” yang diselenggarakan oleh Kompas.com pada Sabtu (18/4/2026), para pengunjung diajak untuk melihat langsung kondisi terkini dari eskalator pertama di Indonesia tersebut.
Kondisi Eskalator Pertama di Indonesia
Eskalator pertama yang berlokasi di antara lantai 1 dan 2 Mal Sarinah ini kini berstatus nonaktif dan telah diakui sebagai cagar budaya. Pengunjung dapat menemukannya dengan mudah, terletak di dekat restoran Sate Khas Senayan dan Titik Temu.
Jika dibandingkan dengan eskalator modern yang masih beroperasi, eskalator tertua ini memiliki ukuran yang lebih ringkas. Setiap anak tangganya hanya didesain untuk satu orang dewasa, berbeda dengan eskalator masa kini yang umumnya mampu memuat dua orang dewasa secara berdampingan.
Perbedaan ukuran ini semakin kentara karena lokasinya yang berdekatan. Eskalator pertama berada di tengah, diapit oleh dua eskalator yang lebih baru di sisi kiri dan kanannya.
Warna anak tangga eskalator bersejarah ini tampak abu-abu, tidak semerah pekat seperti eskalator yang masih aktif. Pada bagian pegangan tangannya, terlihat corak berwarna-warni yang menarik, salah satunya menampilkan motif batik khas Indonesia.
Meskipun tidak lagi berfungsi, pengunjung mal tetap dilarang untuk menaikinya demi menjaga kelestariannya. Namun, mereka diperbolehkan untuk mengamati dan mengabadikan eskalator tersebut sebagai bagian dari dokumentasi sejarah.






