WASHINGTON DC – Masa genting negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran kian mendekat. Gencatan senjata yang telah berlangsung selama dua pekan dijadwalkan berakhir pada Selasa malam waktu Teheran, menyisakan ketidakpastian apakah eskalasi konflik akan kembali membayangi Timur Tengah atau jalan menuju perdamaian akan terbuka.
Menjelang tenggat waktu tersebut, kedua negara justru saling melontarkan pernyataan bernada ancaman. Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan peringatan tegas bahwa serangan militer akan kembali dilancarkan jika kesepakatan tidak tercapai. “Kami setuju untuk hadir (di perundingan Pakistan). Namun, jika gencatan senjata berakhir, maka banyak bom akan mulai meledak,” ujar Trump dalam sebuah wawancara dengan PBS News, mengindikasikan kesiapan AS untuk kembali menggunakan kekuatan militer.
Perundingan di Ujung Tanduk
Upaya diplomasi terus digalakkan di tengah ketegangan yang memuncak. Gedung Putih mengumumkan bahwa Wakil Presiden JD Vance bersiap untuk terbang ke Islamabad, Pakistan, guna mengupayakan putaran kedua perundingan damai. Namun, respons dari pihak Iran justru menunjukkan sikap dingin dan penuh tudingan.
Teheran menuduh Amerika Serikat sengaja merusak atmosfer perundingan dengan melakukan pemblokiran terhadap pelabuhan Iran dan penyitaan kapal selama periode gencatan senjata. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa negaranya tidak akan tunduk pada tekanan dari Presiden Trump. “Trump ingin mengubah meja perundingan ini menjadi meja penyerahan diri. Kami tidak menerima negosiasi di bawah bayang-bayang ancaman,” tulis Ghalibaf melalui akun X miliknya.
Ghalibaf bahkan memberikan sinyal kesiapan Iran untuk menghadapi kemungkinan pecahnya kembali perang. “Dalam dua minggu terakhir, kami telah bersiap untuk menunjukkan kartu baru di medan perang,” ungkapnya, mengisyaratkan adanya persiapan militer yang intensif.
Selat Hormuz Memanas
Ketegangan tidak hanya terjadi di ranah diplomasi, tetapi juga merembet ke salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia, Selat Hormuz. Perairan yang dilalui oleh sekitar 20 persen pasokan minyak global ini menjadi titik panas baru.
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) telah mengeluarkan ancaman untuk menembak kapal mana pun yang melintasi Selat Hormuz tanpa izin. Meskipun menghadapi blokade ketat dari AS, laporan dari Lloyd’s List menyebutkan adanya sekitar 20 “kapal bayangan” Iran yang nekat menerobos barisan kapal perang AS. Presiden Trump berkeras bahwa blokade tersebut telah melumpuhkan perekonomian Iran dan tidak akan dicabut sebelum ada kesepakatan nuklir baru.
Salah satu poin krusial yang menjadi hambatan dalam negosiasi adalah isu mengenai cadangan uranium Iran. Trump mengklaim bahwa Iran telah menyetujui untuk menyerahkan stok uraniumnya, namun klaim ini dibantah keras oleh Teheran. “Menyerahkan uranium tidak pernah dimunculkan sebagai opsi dalam pembicaraan,” tegas juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei.
Detik-detik Akhir
Secara teoritis, gencatan senjata ini akan berakhir pada Selasa malam waktu Teheran. Jika tidak ada terobosan di Islamabad, potensi pecahnya kembali perang besar yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, Iran, dan berbagai faksi di Lebanon semakin mengkhawatirkan.
Ketidakpastian situasi ini mulai berdampak pada pasar global. Harga minyak dunia dilaporkan bergejolak, sementara pasar saham internasional turut mengalami guncangan. Di Teheran, warga hanya bisa menanti dengan pasrah. “Mari kita lihat apa yang terjadi Selasa nanti,” ujar seorang dokter di Teheran dengan nada suara penuh kecemasan.
Pertanyaan besar kini menggantung: akankah perdamaian berhasil diraih, atau dunia akan kembali menyaksikan dentuman bom di kawasan Timur Tengah? Jawabannya akan segera terungkap dalam hitungan jam ke depan.





