Upaya mediasi Pakistan untuk menggelar perundingan damai antara Iran dan Amerika Serikat di Islamabad menghadapi hambatan signifikan, dengan blokade pelabuhan Iran oleh Washington menjadi ganjalan utama. Teheran menyatakan sedang mempertimbangkan kehadirannya, namun belum memberikan komitmen penuh akibat tekanan ekonomi dan militer yang terus berlanjut.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa kelangsungan proses diplomasi sangat bergantung pada penghentian pelanggaran gencatan senjata dan pembatasan pelabuhan oleh Amerika Serikat. Dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar, Araghchi menyatakan bahwa Iran masih menimbang seluruh aspek sebelum mengambil langkah lebih lanjut.
Iran Tolak Perundingan di Bawah Ancaman
Sikap yang lebih tegas disampaikan oleh Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf. Melalui unggahan di media sosial X, Ghalibaf menyatakan penolakan Iran terhadap perundingan yang dilakukan di bawah ancaman.
“Iran menolak perundingan di bawah ancaman,” ujar Ghalibaf.
Ghalibaf juga menuduh Presiden AS Donald Trump sengaja meningkatkan tekanan melalui blokade tersebut. Sumber keamanan Pakistan mengkonfirmasi bahwa Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Marsekal Lapangan Asim Munir telah menyampaikan langsung kepada Trump bahwa blokade tersebut merupakan hambatan nyata bagi terciptanya dialog. Meskipun Trump berjanji untuk mempertimbangkan pengakhiran blokade, situasi di lapangan justru menunjukkan peningkatan ketegangan.
Sinyal Kontradiktif dari Washington
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menilai kebijakan pejabat Amerika Serikat saat ini sangat membingungkan dan tidak konstruktif. Menurutnya, tindakan AS yang mengajak berdialog namun di sisi lain terus mencekik pelabuhan Iran menimbulkan pesan yang pahit.
“Sinyal yang tidak konstruktif dan kontradiktif dari pejabat AS membawa pesan pahit. Mereka seolah mencari penyerahan diri Iran. Bangsa Iran tidak akan tunduk pada kekerasan,” tegas Pezeshkian.
Ketegangan antara kedua negara memuncak pada Minggu (19/4/2026) ketika militer AS menembaki dan menyita sebuah kapal kargo berbendera Iran yang sedang menuju Bandar Abbas. Militer Iran mengecam keras aksi tersebut sebagai perompakan bersenjata, sementara Washington mengklaim kapal tersebut membawa material terlarang yang dapat digunakan untuk kepentingan militer.
Tenggat Waktu Kian Menyempit
Gencatan senjata yang diumumkan Trump pada 7 April lalu diperkirakan akan berakhir pada Selasa malam. Di tengah waktu yang kian sempit, Trump menyatakan optimisme untuk mencapai hasil yang cepat, namun tidak menutup kemungkinan ancaman untuk menghancurkan infrastruktur Iran jika syarat-syaratnya ditolak.
Menanggapi potensi tersebut, Iran bersumpah akan menyerang pembangkit listrik dan fasilitas desalinasi di negara-negara tetangga Teluk jika infrastruktur sipil mereka diserang oleh AS. Pakistan, selaku mediator, terus bersiaga dengan mengerahkan 20.000 personel keamanan di Islamabad, antisipasi jika perundingan jadi digelar.






