Investigasi terbaru mengungkap potensi hubungan silang antara perusahaan satelit Norwegia yang terafiliasi dengan kontraktor pertahanan NATO dan jaringan satelit milik perusahaan China yang memiliki kaitan erat dengan militer.
Perusahaan satelit Norwegia, Kongsberg Satellite Services (KSAT), dilaporkan memiliki izin untuk berkomunikasi dengan 42 satelit yang dimiliki oleh Chang Guang Satellite Technology (CGSTL), perusahaan satelit komersial terbesar di China. Dokumen dari Otoritas Komunikasi Norwegia (NKOM) menunjukkan bahwa lisensi tersebut berlaku hingga tahun 2028.
CGSTL diketahui didirikan bersama oleh pemerintah Provinsi Jilin dan lembaga riset negara yang secara aktif mendukung pertahanan nasional China. Kekhawatiran terhadap CGSTL bukan tanpa dasar. Seorang juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat pada Desember lalu menyatakan kepada Newsweek, “Kami mengetahui perusahaan teknologi China Chang Guang Satellite Technology (CGSTL) telah memberikan dukungan langsung kepada Houthi yang didukung Iran untuk melakukan serangan terhadap kepentingan AS,” sembari menegaskan bahwa perusahaan tersebut “memiliki hubungan erat dengan pemerintah dan militer.”
Dugaan Pelanggaran dan Ancaman Denda
Di tengah sorotan ini, NKOM mengancam akan menjatuhkan denda kepada KSAT atas dugaan komunikasi ilegal dengan lima satelit dari fasilitas mereka di Svalbard dan Antartika. Meskipun otoritas tidak merinci identitas satelit tersebut, Direktur Departemen NKOM, Espen Slette, menyatakan keprihatinan serius.
“Ini serius bahwa KSAT telah berkomunikasi dengan satelit tanpa izin dalam beberapa kesempatan. Oleh karena itu, kami memperingatkan adanya denda pelanggaran yang tinggi,” ujar Slette. Ia menekankan pentingnya kepatuhan terhadap peraturan bagi pelaku aktivitas satelit di Antartika dan Svalbard demi menjaga kepercayaan antarpihak.
Menanggapi ancaman denda, KSAT menyatakan bahwa pemberitahuan tersebut tidak berkaitan dengan satelit CGSTL. Namun, juru bicara KSAT menolak memberikan rincian kontrak dengan alasan klausul kerahasiaan yang lazim berlaku pada kontrak pelanggan.
Kritik Tajam atas Permohonan Lisensi
CEO Strand Consult, John Strand, melontarkan kritik tajam terhadap langkah KSAT yang mengajukan permohonan lisensi untuk melayani satelit China.
“Hanya mengajukan permohonan untuk melayani satelit China saja sudah absurd,” ujar Strand. Ia menyoroti bahwa permohonan lisensi tersebut diajukan setelah invasi penuh Rusia ke Ukraina, di mana China dinilai memberikan dukungan industri dan diplomatik kepada Rusia. Strand menyebut, “Kongsberg’s KSAT meminta izin untuk mengoperasikan satelit mata-mata China. Mereka tertangkap basah.”
Situasi ini dinilai ironis mengingat KSAT merupakan bagian dari ekosistem pertahanan Barat. “Ini adalah perusahaan pertahanan yang menyediakan untuk Eropa dan Amerika. Dan perusahaan ini sekarang memiliki peran penting dalam membangun ketahanan pertahanan Eropa saat kita tidak ingin terlalu banyak bergantung pada Amerika,” papar Strand.
Kekhawatiran AS atas Data Satelit
Amerika Serikat juga menyuarakan kekhawatiran serupa terkait potensi data satelit komersial yang digunakan oleh pihak lawan. Sebuah komite Kongres AS memperingatkan bahwa Iran mungkin memperoleh informasi mengenai pasukan AS melalui perusahaan luar angkasa Barat.
Ketua komite tersebut, John Moolenaar, menyatakan, “Meskipun citra satelit komersial dalam beberapa kasus dapat melayani kepentingan publik, penyediaan citra tanpa batas yang mengekspos pasukan AS telah melewati ambang batas berbahaya.” Ia menambahkan adanya skenario yang mengkhawatirkan, termasuk publikasi citra detail aset militer AS oleh entitas China sebelum serangan terjadi.
Tuduhan yang sempat diarahkan kepada Airbus Space terkait hal ini telah dibantah oleh perusahaan tersebut. “MizarVision tidak pernah menjadi pelanggan Airbus. Selain itu, tidak ada citra Airbus di Timur Tengah yang pernah diberikan kepada MizarVision atau entitas China lainnya,” kata juru bicara Airbus. “Kami sama sekali tidak memiliki hubungan dengan MizarVision.”
Satelit Komersial Menjadi Alat Geopolitik
Perkembangan ini menggarisbawahi peran satelit komersial yang kini semakin strategis dalam lanskap geopolitik global. Perusahaan seperti MizarVision memiliki kemampuan untuk mengolah citra satelit demi melacak pergerakan kapal dan pesawat secara real-time.
Analis intelijen sumber terbuka berbasis di Taiwan, Joseph Wen, berpendapat bahwa kemampuan semacam ini akan semakin krusial di masa depan. “Seiring China terus mengembangkan konstelasi satelit orbit rendah dan kemampuan luar angkasa yang lebih luas, aset semacam ini kemungkinan akan semakin menjadi alat untuk tawar-menawar dan pengaruh geopolitik,” ujarnya.
Wen menambahkan, “Meskipun saya tidak memiliki bukti langsung, saya percaya China memiliki insentif yang jelas untuk menyediakan intelijen berbasis satelit—baik dari sumber militer maupun komersial—kepada negara seperti Iran atau Rusia melalui jalur tidak langsung, termasuk kemitraan sipil atau transfer pihak ketiga.”
Menurut Wen, meskipun negara-negara besar memiliki sistem satelit militer sendiri, data dari satelit komersial justru banyak dimanfaatkan oleh aktor sipil dan negara yang tidak memiliki kemampuan pengintaian luar angkasa mandiri.






