Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump menegaskan tidak akan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran sebelum tercapai kesepakatan konkret. Pernyataan ini dikeluarkan di tengah ketidakpastian kelanjutan perundingan damai antara kedua negara, menjelang berakhirnya periode gencatan senjata sementara pada Rabu (22/4/2026).
Trump mengklaim blokade yang telah berlangsung selama sepekan tersebut “sangat menghancurkan Iran” dan menyatakan keunggulan Amerika Serikat dalam konflik yang sedang berlangsung. Ia menyebutkan blokade tersebut sebagai alat tawar yang efektif untuk mendorong Iran ke meja perundingan.
Namun, di sisi lain, Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama, Mohammad Bagher Ghalibaf, memberikan respons tegas. Ia menegaskan bahwa Iran tidak akan melanjutkan perundingan dengan Amerika Serikat jika dilakukan di bawah tekanan atau ancaman. Ghalibaf menyatakan penolakan Teheran terhadap segala bentuk negosiasi yang disertai tekanan militer maupun politik.
“Kami tidak menerima negosiasi di bawah bayang-bayang ancaman,” ujar Ghalibaf melalui media sosial X, sebagaimana dilansir Al Jazeera.
Lebih lanjut, Ghalibaf mengisyaratkan bahwa Iran telah mempersiapkan kemampuan militer baru sebagai antisipasi jika perundingan menemui jalan buntu. Ia menilai langkah Trump yang memperketat tekanan, termasuk dugaan pelanggaran gencatan senjata, bertujuan untuk mengubah meja perundingan menjadi “meja penyerahan”.
“Trump berupaya mengubah meja negosiasi—dalam imajinasinya—menjadi ajang penyerahan atau pembenaran untuk kembali memicu perang,” kata dia.
Saling Tekan di Selat Hormuz
Blokade yang diterapkan Amerika Serikat berfokus pada pelabuhan-pelabuhan Iran. Sebagai langkah balasan, Teheran juga memberlakukan pembatasan akses di Selat Hormuz. Sejak blokade diberlakukan, Komando Pusat Amerika Serikat (US Central Command/Centcom) melaporkan telah memaksa 27 kapal untuk berbalik arah atau kembali ke pelabuhan Iran.
Dalam insiden yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak konflik berlangsung, pasukan Amerika Serikat dilaporkan mencegat dan menyita sebuah kapal kargo berbendera Iran yang mencoba menembus blokade. Tindakan ini memicu kecaman keras dari Teheran, yang menyebutnya sebagai “pembajakan” dan pelanggaran terhadap gencatan senjata yang rapuh.
Iran terus mempertahankan penutupan Selat Hormuz selama hampir dua bulan terakhir, yang berdampak pada lonjakan harga energi global. Meskipun sempat dibuka kembali secara singkat, jalur krusial tersebut kembali ditutup setelah adanya laporan mengenai kapal-kapal yang menjadi target serangan. Trump menuding Iran telah melanggar kesepakatan dengan melakukan serangan, sementara Iran menegaskan tidak akan membuka kembali jalur tersebut sebelum AS menghentikan blokade terhadap pelabuhan mereka.
Negosiasi Masih Abu-abu
Upaya diplomasi untuk mengakhiri konflik antara Amerika Serikat dan Iran saat ini berada dalam ketidakpastian. Rencana perundingan lanjutan yang dimediasi oleh Pakistan belum menunjukkan kepastian jadwal, meskipun berbagai persiapan telah dilakukan di Islamabad.
Wakil Presiden AS JD Vance dijadwalkan untuk memimpin delegasi Amerika, didampingi oleh utusan khusus Steve Witkoff dan penasihat Gedung Putih Jared Kushner. Namun, sebagaimana dilansir Reuters pada Selasa (21/4/2026), delegasi AS belum berangkat dari Washington, dan Iran pun belum memutuskan apakah akan berpartisipasi dalam perundingan tersebut.
Pada putaran pertama pembicaraan sebelumnya, Amerika Serikat dan Iran gagal mencapai titik temu. Washington menilai Iran belum bersedia menerima syarat yang diajukan, sementara Teheran menolak tuntutan yang dianggap berlebihan dan tidak sah.




![[POPULER GLOBAL] Pemukulan Patung Yesus di Lebanon | Pesawat Gagal Terbang [POPULER GLOBAL] Pemukulan Patung Yesus di Lebanon | Pesawat Gagal Terbang](https://www.manadotoday.co.id/wp-content/uploads/2026/04/6583b8707b3f6-1-768x512.webp)
