Iran menegaskan sikapnya untuk tidak melanjutkan negosiasi dengan Amerika Serikat jika masih berada di bawah tekanan atau ancaman. Pernyataan ini disampaikan menjelang berakhirnya masa gencatan senjata dua pekan yang dimulai pada 8 April 2026.
Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan pada Senin (20/4/2026) bahwa Teheran menolak segala bentuk perundingan yang disertai tekanan militer maupun politik dari pihak lawan. “Kami tidak menerima negosiasi di bawah bayang-bayang ancaman,” ujar Ghalibaf melalui media sosial X, seperti dilaporkan Al Jazeera.
Ghalibaf juga mengisyaratkan bahwa Iran telah menyiapkan kemampuan militer baru sebagai antisipasi jika perundingan menemui jalan buntu. Ia menilai langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang dinilai memperketat tekanan, termasuk dugaan pelanggaran gencatan senjata, bertujuan untuk mengubah meja perundingan menjadi “meja penyerahan”.
“Trump berupaya mengubah meja negosiasi—dalam imajinasinya—menjadi ajang penyerahan atau pembenaran untuk kembali memicu perang,” katanya.
Negosiasi Dinilai Tak Realistis
Kantor berita Tasnim News Agency, yang berafiliasi dekat dengan Garda Revolusi Iran (IRGC), melaporkan bahwa Teheran dipastikan belum akan menghadiri putaran lanjutan perundingan yang dimediasi oleh Pakistan. Sebelumnya, Trump sempat menyebut bahwa Wakil Presiden AS bersama tim negosiator sedang dalam perjalanan menuju Islamabad untuk melanjutkan pembicaraan.
Namun, Iran menegaskan keikutsertaannya sangat bergantung pada pemenuhan sejumlah prasyarat. Salah satu hambatan utama yang disorot Teheran adalah isu blokade laut, yang dianggap sangat krusial. Masalah ini telah disampaikan kepada pihak mediator dari Pakistan dan turut dibahas dengan pemerintah AS.
Selain itu, Iran menyoroti tuntutan AS yang dinilai berlebihan dalam komunikasi kedua pihak. Kondisi ini dianggap tidak memberikan gambaran yang jelas mengenai arah kesepakatan yang dapat diterima oleh Iran. Delegasi Iran menilai pendekatan Washington masih tidak realistis dan sarat dengan kesalahan perhitungan, terutama setelah dinamika konflik militer sebelumnya.
Teheran berpandangan bahwa jika pendekatan tersebut tidak berubah, perundingan hanya akan menjadi pemborosan waktu. “Iran tidak akan mengikuti proses yang sia-sia,” demikian pandangan yang berkembang di kalangan negosiator Iran, seperti dilaporkan Tasnim.
Oleh karena itu, selama hambatan mendasar belum terselesaikan dan belum ada prospek kesepakatan yang jelas, Iran menilai tidak ada alasan untuk kembali ke meja perundingan. Iran juga mewaspadai kemungkinan bahwa proses negosiasi hanya akan menjadi taktik untuk mengulur waktu atau bahkan bentuk penyesatan.
Dalam situasi tersebut, Teheran menyatakan siap menghadapi kemungkinan konfrontasi militer kembali, termasuk memberikan respons terhadap tekanan dari Amerika Serikat. Dengan gencatan senjata yang akan segera berakhir, ketegangan antara kedua negara berpotensi meningkat jika tidak ada terobosan diplomatik dalam waktu dekat.




![[POPULER GLOBAL] Pemukulan Patung Yesus di Lebanon | Pesawat Gagal Terbang [POPULER GLOBAL] Pemukulan Patung Yesus di Lebanon | Pesawat Gagal Terbang](https://www.manadotoday.co.id/wp-content/uploads/2026/04/6583b8707b3f6-1-768x512.webp)
