BENGKULU, KOMPAS.com – Deru mesin kendaraan sesekali terdengar, namun tak sedikit pun menghentikan langkah Dewi Sartika (46) yang tengah menyusuri Jalan Timur Indah, Kota Bengkulu, pada Selasa (23/4/2024) pagi. Mengenakan jilbab dan masker, ia mendorong gerobak kecilnya, matanya awas memindai setiap sudut jalan, mencari barang-barang yang berpotensi menambah pundi-pundi rupiahnya.
Kardus bekas, botol plastik, hingga kaleng minuman menjadi sasaran. Meski sandal tipis yang dikenakannya tak selalu mampu menahan panas aspal yang mulai menyengat, Dewi tak gentar. Ia terus berjalan, mengumpulkan setiap barang yang bisa dijual.
Dari Juru Parkir Menjadi Pemulung
Rutinitas ini baru dijalani Dewi selama dua bulan terakhir. Sebelumnya, ia telah empat tahun berjuang sebagai juru parkir. Namun, beban setoran yang kian meningkat membuatnya terpaksa beralih profesi.
“Saya baru dua bulan menjadi pengumpul barang bekas. Sebelumnya tukang parkir, selama empat tahun saya jadi tukang parkir namun karena setoran terus naik lama-lama saya tidak mampu lagi,” ujarnya kepada Kompas.com.
Setoran harian yang awalnya hanya Rp 50 ribu, perlahan merangkak naik menjadi Rp 100 ribu, bahkan kini mencapai Rp 150 ribu. Angka tersebut, diakui Dewi, sudah tidak mungkin lagi ia penuhi.
“Setoran awalnya Rp 50 ribu per hari kemudian naik Rp 100 ribu, sekarang jadi Rp 150 ribu per hari. Saya tidak sanggup karena tidak dapat apa-apa lagi,” keluhnya.
Menjual Televisi Demi Gerobak
Tanpa pemasukan yang jelas, Dewi dihadapkan pada pilihan sulit. Ia terpaksa menjual televisi satu-satunya di kontrakan demi membeli gerobak yang kini menjadi alat utamanya mencari nafkah.
“Saya tidak punya uang, sementara jadi pemulung perlu gerobak. Maka saya jual televisi untuk buat gerobak,” tuturnya.
Sejak pukul 06.00 WIB, Dewi sudah memulai aktivitasnya mengumpulkan barang bekas hingga menjelang siang. Dari jerih payahnya, ia mampu mengumpulkan uang sekitar Rp 30 ribu hingga Rp 40 ribu per hari.
“Gerobak kadang rusak, tapi tetap bersyukur pendapatan bisa membantu untuk makan dan bayar kontrakan,” ucapnya penuh syukur.
Perjuangan Wanita Sebatang Kara
Di sebuah kontrakan sederhana di Jalan Muhajirin 14, Dewi menjalani hidup seorang diri. Ia tak memiliki keluarga lagi. Orang tua telah tiada, suaminya menyusul lima tahun lalu, disusul sang anak tak lama kemudian.
“Saya hidup sendiri, bertahan sendiri untuk hidup,” ujarnya lirih.
Keterbatasan administrasi kependudukan juga menjadi kendala. KTP-nya masih tercatat di kampung halaman, membuatnya belum bisa mengakses bantuan sosial.
Dewi berencana segera mengurus administrasi kependudukan di Kota Bengkulu. Ia berharap dengan KTP yang baru, ia bisa mendapatkan akses terhadap BPJS, bantuan sosial, atau program lainnya yang sangat ia butuhkan.
“Mau saya urus KTP Kota Bengkulu, siapa tahu bisa dapat BPJS, bantuan sosial atau apa pun karena saya sangat membutuhkannya,” harapnya.
Harapan untuk Perempuan yang Terpinggirkan
Di tengah segala keterbatasan, Dewi menyimpan harapan besar, terutama bagi perempuan-perempuan yang bernasib sama dengannya. Ia memahami esensi peringatan Hari Kartini, bahwa perempuan berhak mendapatkan kesempatan hidup yang lebih baik.
“Banyak nasib perempuan seperti saya ini, menjadi miskin, tidak berdaya, tidak bisa berusaha, hanya menjadi pemulung,” katanya prihatin.
Ia sangat mendambakan adanya perhatian, pelatihan, dan bantuan modal agar perempuan seperti dirinya bisa bangkit dari keterbatasan.
“Kami mau berusaha, diajari, dimodali agar hidup kami menjadi lebih baik ke depan. Saat ini saya sebatang kara dengan masa depan tidak menentu,” ujarnya.
Sesekali, warga yang melintas memberikan sedikit rezeki. Uang recehan itu ia simpan dengan hati-hati di saku, untuk membeli beras dan sayur sebagai bekal makan siang.
“Untuk beli beras dan sayur makan siang nanti,” katanya.
Menjelang tengah hari, Dewi kembali mendorong gerobaknya menuju tempat penjualan barang bekas. Di bawah terik matahari yang semakin meninggi, langkahnya tetap berlanjut, perlahan namun penuh dengan harapan akan masa depan yang lebih baik.






