Megapolitan

Butuh Didengar Tanpa Diadili, Ini Alasan Jasa Teman Curhat Berbayar Kian Laris

Advertisement

Fenomena jasa teman curhat berbayar semakin marak, khususnya di kalangan anak muda. Layanan ini menawarkan ruang alternatif bagi mereka yang membutuhkan pendengar tanpa khawatir dihakimi oleh lingkungan terdekat. Alih-alih berbagi dengan sahabat atau keluarga, tak sedikit yang kini memilih orang asing yang tak memiliki keterkaitan langsung dengan kehidupan mereka.

Rakan (24) adalah salah satu pengguna yang merasakan langsung manfaatnya. Rasa penasaran mendorongnya mencoba jasa ini setelah melihat trennya di media sosial. Kendati sempat ragu soal keamanan, kebutuhan untuk bercerita mengalahkan keraguan tersebut. Saat itu, ia tengah menghadapi masalah hubungan dengan pasangannya dan merasa tak punya ruang aman untuk berbagi.

“Teman-teman saya kenal pasangan saya juga, jadi takut ceritanya menyebar atau jadi bahan omongan,” kata Rakan saat dihubungi, Senin (20/4/2026).

Takut Penilaian, Pilih Orang Asing

Bagi Rakan, keputusan untuk curhat kepada orang asing bukan tanpa alasan. Ia menilai berbagi cerita dengan orang yang tidak dikenal justru memberikan rasa nyaman. Kekhawatiran akan penilaian dari orang terdekat membuatnya enggan bercerita kepada mereka.

“Iya, itu salah satu alasan utama. Kadang kalau cerita ke teman atau keluarga, mereka langsung kasih penilaian atau malah menyalahkan kita,” ujarnya.

Dalam praktiknya, layanan ini digunakan pada situasi tertentu, terutama ketika ia merasa tidak tahu harus bercerita kepada siapa. Ia mengaku tidak terlalu sering menggunakan jasa tersebut, namun cukup rutin saat menghadapi masalah yang belum terselesaikan. Dalam sebulan, ia bisa menggunakannya sekitar dua kali.

Selama sesi berlangsung, ia merasakan kelegaan karena merasa benar-benar didengarkan.

“Selama sesi, saya merasa lebih lega karena ada yang benar-benar mendengarkan,” katanya.

Meski demikian, ia menyadari layanan ini memiliki keterbatasan. Saran yang diberikan tidak selalu diterima mentah-mentah, melainkan hanya sebagai bahan pertimbangan. Selain itu, faktor kepraktisan dan biaya juga menjadi alasan ia memilih jasa ini dibandingkan bantuan profesional.

“Selain itu, saya juga belum siap kalau harus ke psikolog. Rasanya masih takut dan belum merasa butuh sampai sejauh itu,” katanya.

Rakan hanya mengeluarkan biaya sekitar Rp 30.000 untuk satu kali sesi panggilan telepon selama satu jam. Kendati demikian, ia tetap memiliki kekhawatiran terkait keamanan data pribadi, meski penyedia jasa mengklaim akan menghapus percakapan setelah sesi selesai.

“Karena sejauh ini belum ada masalah dan juga dia terlihat menjaga privasi klien. Tapi tetap ada sedikit rasa was-was karena ini orang asing,” ujarnya.

Butuh Tempat Cerita di Tengah Tekanan

Pengalaman Rakan bukan satu-satunya. Restu (27) juga merasakan hal serupa saat pertama kali mencoba jasa teman curhat berbayar ketika menghadapi berbagai masalah, baik pekerjaan maupun persoalan pribadi. Awalnya, ia sempat mempertanyakan konsep layanan tersebut. Namun, kebutuhan akan tempat bercerita membuatnya mengabaikan keraguan itu.

“Awalnya mikir juga ‘masa sih curhat harus bayar sekarang?’ tapi karena lagi butuh banget tempat cerita, akhirnya yaudah coba aja,” kata dia kepada Kompas.com, Senin.

Menurut Restu, kondisinya saat itu benar-benar kalut sehingga ia membutuhkan tempat untuk bercerita, meski harus membayar.

“Kerjaan lagi numpuk, di rumah juga ada masalah yang enggak bisa saya jelasin apa, jadi kayak nggak punya tempat buat napas,” katanya.

Restu menemukan layanan tersebut melalui media sosial Threads, yang saat itu ramai membahas jasa serupa. Ia menilai, berbagi cerita dengan orang asing justru terasa lebih aman dibandingkan dengan lingkungan terdekat.

Advertisement

“Karena lebih aman aja rasanya. Nggak takut diomongin ke orang lain, dan juga nggak ada rasa sungkan,” kata Restu.

Ia juga merasakan kebebasan dalam menyampaikan cerita tanpa harus memikirkan konsekuensi yang mungkin muncul.

“Mau cerita sejujur-jujurnya juga nggak masalah, karena ya mereka juga nggak kenal kita di dunia nyata,” ungkapnya.

Rasa Aman Tanpa Penilaian, Tapi Ada Batasnya

Psikolog Virginia Hanny menilai kecenderungan anak muda memilih jasa teman curhat berbayar tidak lepas dari kebutuhan untuk merasa aman tanpa dihakimi. Dalam kondisi tertentu, layanan ini dapat menjadi ruang awal bagi seseorang untuk bercerita, terutama ketika mereka belum siap membuka diri kepada orang terdekat.

“Layanan teman curhat pada dasarnya bisa menjadi ruang awal bagi seseorang untuk merasa didengar dan tidak sendirian,” kata Virginia saat dihubungi, Senin.

Namun, ia mengingatkan bahwa rasa aman tersebut tidak serta-merta membuat layanan ini dapat menggantikan peran profesional. Penyedia jasa hanya berperan sebagai pendengar, bukan pihak yang mampu memberikan penanganan. Menurut dia, layanan ini masih relevan untuk kebutuhan emosional ringan, tetapi tidak cukup untuk persoalan yang lebih kompleks atau berulang.

Rentan Terpengaruh Saat Emosi Tidak Stabil

Virginia juga menyoroti kondisi emosional pengguna. Ketika seseorang berada dalam kondisi rentan, keinginan untuk didengar dapat membuat mereka lebih mudah percaya pada orang lain, termasuk yang tidak memiliki latar belakang profesional. Ia menjelaskan, dalam situasi tersebut seseorang berpotensi menerima saran tanpa pertimbangan matang, atau bahkan bergantung pada layanan tersebut sebagai satu-satunya cara untuk merasa lebih baik.

Dalam jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi cara seseorang mengelola emosi, termasuk munculnya ketergantungan pada validasi dan tertundanya upaya mencari bantuan yang lebih tepat.

“Contohnya, individu menjadi terlalu bergantung, mengikuti saran tanpa banyak pertimbangan, atau terus menggunakan layanan walaupun mungkin sudah tidak memerlukannya lagi,” ujarnya.

Karena itu, ia menekankan pentingnya kesadaran bagi pengguna untuk memahami batasan layanan teman curhat serta mengenali kapan kondisi yang dialami membutuhkan bantuan profesional.

Relasi Sosial yang Kian Fungsional

Pengamat sosial dari Universitas Indonesia, Rissalwan Lubis, melihat fenomena jasa teman curhat berbayar sebagai bagian dari perubahan cara masyarakat menyalurkan emosi di era digital. Ia menilai kebutuhan untuk didengar dan melepaskan beban menjadi faktor utama di balik maraknya layanan ini.

“Jadi rasa terwakili, rasa didengar itu sebetulnya kan hal yang mendasar bagi manusia. Jadi intinya curhat itu adalah memang cara manusia untuk melepaskan beban,” kata dia saat dihubungi melalui WhatsApp, Senin.

Menurutnya, layanan ini tidak hanya berkaitan dengan kesepian, tetapi juga kebutuhan untuk “rilis” tanpa harus memikirkan konsekuensinya. Rissalwan juga menyoroti perubahan pola relasi sosial yang semakin fungsional. Interaksi tidak lagi selalu berangkat dari kedekatan emosional, melainkan kebutuhan praktis untuk menyalurkan perasaan.

Anonimitas pun menjadi faktor penting yang membuat seseorang merasa lebih aman. Tanpa keterikatan sosial, seseorang dapat bercerita tanpa khawatir akan dampak jangka panjang terhadap hubungan mereka.

“Jadi itu tadi ya, dia tidak perlu merasa ada dampak pada dia di masa yang akan datang karena selesai sudah,” katanya.

“Dan ini kan dia tahu betul bahwa jasa layanan ini tuh profesional ya. Dia memberikan waktu. Kemudian waktu itu akan dibayar secara layak begitu,” sambung dia.

Advertisement