Megapolitan

Jasa Teman Curhat, Psikolog Ingatkan Risiko Self Diagnosis dan Ketergantungan Emosional

Advertisement

Maraknya jasa “teman curhat” berbayar di media sosial, yang banyak menyasar kalangan muda, memunculkan kekhawatiran di kalangan profesional kesehatan mental. Layanan yang menawarkan ruang aman untuk bercerita melalui pesan singkat maupun telepon ini, meski menjanjikan kerahasiaan, dikhawatirkan berisiko karena penyedia jasa umumnya tidak memiliki latar belakang profesional di bidang kesehatan mental. Kondisi ini berpotensi menimbulkan masalah, terutama jika digunakan untuk persoalan emosional yang kompleks.

Psikolog Virginia Hanny menjelaskan bahwa layanan teman curhat pada dasarnya dapat memberikan ruang awal bagi seseorang untuk merasa didengar. Dalam kondisi tertentu, layanan ini dapat membantu untuk kebutuhan emosional yang ringan. Namun, ia menekankan perbedaan mendasar dengan konseling profesional.

“Perbedaan paling mendasar dari layanan ini dengan peer counselor/konseling profesional ada pada tujuan, kompetensi dan batasan peran,” ujar Virginia saat dihubungi, Senin (20/4/2026).

Menurut Virginia, jasa teman curhat umumnya hanya berfokus pada mendengarkan. Sementara itu, konseling profesional melibatkan tenaga yang memiliki pendidikan, pelatihan, serta kemampuan asesmen dan intervensi yang terstruktur. “Bagi jasa teman curhat, biasanya fokusnya hanya untuk menemani dan mendengarkan tidak ada pelatihan khusus yang diberikan tidak terikat kode etik profesional,” jelasnya.

Risiko Salah Tafsir dan Self-Diagnosis

Ketiadaan kompetensi pada penyedia jasa teman curhat berpotensi menimbulkan risiko, terutama dalam memahami kondisi psikologis seseorang. Virginia mengingatkan bahwa tanpa pelatihan khusus, penyedia jasa bisa saja memberikan pandangan yang tidak sepenuhnya tepat.

“Tanpa adanya pelatihan khusus, seseorang bisa saja memberikan interpretasi atau saran yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan dari individu tersebut,” katanya.

Ia juga menyoroti maraknya fenomena self-diagnosis, di mana seseorang mencoba memahami kondisi dirinya sendiri tanpa pemahaman yang utuh. Dalam kondisi tersebut, seseorang cenderung hanya menyerap informasi yang sesuai dengan dugaan awalnya dan mengabaikan sudut pandang lain.

“Tidak jarang, beberapa orang akan menyerap informasi yang hanya akan mendukung dugaan awalnya dan mengabaikan informasi lain yang berbeda, di mana hal ini bisa dikategorikan sebagai confirmation bias,” ujarnya.

Akibatnya, alih-alih membantu, hal tersebut justru dapat memicu kecemasan baru atau memperparah kondisi yang sebenarnya belum dipahami secara menyeluruh.

Rentan Terpengaruh dan Bergantung

Selain risiko salah tafsir, kondisi emosional pengguna juga menjadi hal penting yang perlu diperhatikan. Virginia menilai seseorang yang berada dalam kondisi rentan cenderung lebih terbuka dan mudah percaya kepada pihak yang memberikan perhatian.

“Dalam situasi emosi yang lebih rentan, seorang individu memang akan cenderung ingin didengar dan dipahami, lebih terbuka kepada mereka yang memberikan perhatian, serta menjadi lebih mudah percaya,” katanya.

Kondisi ini dapat membuka peluang terjadinya ketergantungan emosional, di mana seseorang terus mengandalkan layanan tersebut tanpa benar-benar menyelesaikan akar masalahnya. Tidak hanya itu, seseorang juga berpotensi mengikuti saran tanpa pertimbangan yang matang atau terus menggunakan layanan meski sebenarnya sudah tidak diperlukan.

Dalam jangka panjang, ketergantungan pada layanan non-profesional dapat berdampak pada tidak terselesaikannya masalah secara mendasar. Virginia menyebutkan, kondisi ini bisa membuat permasalahan justru berulang atau semakin kompleks.

“Dalam jangka panjang, apabila seseorang lebih sering (dan terus-terusan) mengandalkan saran non-profesional untuk masalah emosional yang mendalam, terdapat beberapa hal yang bisa terjadi,” ujarnya.

Selain itu, seseorang juga berisiko tidak mengembangkan kemampuan coping yang sehat serta cenderung bergantung pada validasi dari luar. Dampak lainnya adalah penundaan dalam mencari bantuan profesional yang sebenarnya lebih tepat untuk menangani kondisi tersebut.

“Maka dari itu, penting bagi individu untuk tetap terbuka, di mana ketika masalah terasa semakin kompleks dan atau mengganggu keseharian, mencari bantuan profesional seperti psikiater atau psikolog klinis bisa menjadi langkah yang lebih tepat,” kata dia.

Penyedia Jasa Layanan Teman Curhat

Noah (28), salah satu penyedia jasa, mengaku melihat peluang dari maraknya layanan serupa di media sosial, seperti pacar sewaan hingga teman jalan. Dari tren tersebut, ia menangkap kebutuhan orang untuk bercerita kepada pihak yang tidak dikenal.

Ia kemudian membuka jasa melalui akun TikTok @HIMAWARI dan mulai menawarkan layanan curhat berbayar. “Di situ saya pikir, kenapa enggak buka jasa curhat aja. Saya coba posting price list, ternyata lumayan yang DM dan akhirnya berjalanlah,” kata Noah dihubungi, Senin (20/4/2026).

Noah mengakui tidak memiliki latar belakang pendidikan khusus di bidang terkait. Ia hanya berupaya menjadi pendengar yang baik dan memberi sudut pandang sebagai orang luar saat diminta. Dalam praktiknya, klien menghubungi Noah melalui pesan langsung, mengisi data singkat, memilih jadwal, lalu melakukan pembayaran sebelum sesi dimulai.

“Setelah pembayaran berhasil saya akan mengirim pesan untuk menyapa dan setelahnya sesi curhat berlangsung sesuai jadwal yang sudah ditetapkan klien,” kata dia.

Ia menyebutkan, mayoritas klien berusia 20 hingga 30 tahun dengan latar belakang pekerja. Topik yang paling sering dibahas berkaitan dengan hubungan personal.

“Masalah asmara & kehidupan rumah tangga. Untuk siapanya, lebih banyak usia 20-30 tahun. Pekerja lebih banyak,” kata dia.

Selain mendengarkan, Noah juga memberikan tanggapan jika diminta. Namun, ia menyadari keterbatasannya saat menghadapi masalah berat dan dalam beberapa kasus menyarankan klien mencari bantuan profesional.

Advertisement

“Saya pernah melakukan sesi curhat melalui via telepon selama satu jam. Dari awal sesi-akhir, klien tidak berhenti menangis. Setelah mendengar masalahnya, saya rasa saya bukan orang yang tepat untuk memberi saran dan pendapat karna masalah yang terlalu berat dan berulang,” ujarnya.

Berangkat dari Kebiasaan Mendengar

Hal serupa dialami Raina (26), yang memulai layanan ini dari kebiasaannya menjadi tempat bercerita bagi orang terdekat. Ia membuka jasa pada awal 2024 setelah menyadari peran tersebut terus berulang.

“Awalnya karena sering banget jadi tempat cerita teman-teman sendiri. Hampir tiap minggu ada aja yang curhat, dari masalah pacaran sampai keluarga,” kata Raina melalui pesan WhatsApp, Senin.

Di awal, ia sempat ragu karena merasa belum tentu mampu menampung cerita orang lain yang berat secara emosional. “Takutnya saya malah nggak mampu nanggung cerita orang, karena kadang masalah orang tuh berat banget,” katanya.

Meski tanpa latar belakang psikologi, ia berusaha belajar secara mandiri untuk meningkatkan kemampuan komunikasi dan empati. “Jadi walaupun nggak punya background, saya berusaha belajar sendiri kayak baca-baca soal komunikasi, empati,” kata dia.

Seiring waktu, Raina mulai menyadari pentingnya batasan dalam layanan. Ia kini lebih selektif, terutama untuk kasus yang berat secara mental, dan akan mengarahkan klien ke profesional. “Misalnya kalau sudah masuk ke arah yang sangat berat secara mental, saya biasanya pelan-pelan arahkan ke profesional. Bukan karena nggak mau bantu, tapi saya sadar kapasitas saya ada batasnya,” katanya.

Ia juga mengaku kerap terbawa secara emosional saat mendengarkan cerita klien, sehingga harus lebih berhati-hati dalam merespons. Dalam menentukan tarif, Raina awalnya tidak memiliki patokan. Namun, kini ia menyesuaikan harga dengan energi mental yang dikeluarkan selama sesi.

“Tarifnya Rp 15.000 untuk satu jam melalui chat atau voice note, untuk dua jam Rp 25.000. Kalau telepon Rp 35.000. Ada juga 12 jam dan satu hari penuh itu Rp 50.000 dan 150.000,” jelasnya.

Ia menilai layanan ini lebih menguras emosi dibanding fisik, terutama saat sesi berlangsung intens.

Curhat Berbayar Jadi Pelarian di Tengah Tekanan

Di tengah maraknya jasa teman curhat, sebagian pengguna memanfaatkannya sebagai pelarian saat tekanan hidup terasa menumpuk. Hal ini dialami Restu (27), yang pertama kali mencoba layanan tersebut ketika berada dalam kondisi emosional yang tidak stabil.

Ia menemukan jasa itu secara tidak sengaja saat berselancar di media sosial, di tengah rasa lelah yang sulit dijelaskan. “Awalnya mikir juga “masa sih curhat harus bayar sekarang?” tapi karena penasaran, akhirnya yaudah coba aja,” kata Restu saat dihubungi, Senin.

Saat itu, ia tengah menghadapi tekanan dari pekerjaan dan persoalan pribadi di rumah, yang membuatnya enggan bercerita kepada orang terdekat. Restu menilai rasa aman menjadi alasan utama memilih jasa ini. Ia merasa tidak ada beban sosial saat bercerita kepada orang asing.

“Karena lebih aman aja rasanya. Enggak takut diomongin ke orang lain, dan juga enggak ada rasa sungkan. Kadang kalau cerita ke orang dekat tuh malah takut mereka jadi mikir aneh-aneh tentang kita,” ujar dia.

Kondisi tersebut membuatnya lebih leluasa untuk bercerita secara jujur. “Mau cerita sejujur-jujurnya juga enggak masalah, karena ya mereka juga enggak kenal kita di dunia nyata,” ucap dia.

Meski begitu, ia tetap memandang layanan ini hanya sebagai tempat berbagi cerita, bukan pengganti bantuan profesional. Saran yang diberikan pun tidak selalu diikuti, melainkan dijadikan bahan pertimbangan.

Namun, soal privasi masih menjadi kekhawatiran. Meski penyedia jasa mengklaim percakapan akan dihapus, ia mengaku tetap ragu. “Katanya sih dihapus setelah sesi. Tapi ya kami enggak pernah benar-benar tahu juga kan,” katanya.

Karena itu, ia memilih membatasi informasi yang dibagikan.

Curhat ke Orang Asing, Antara Nyaman dan Waswas

Pengalaman serupa juga dirasakan Rakan (24), yang menggunakan jasa ini saat menghadapi konflik dengan pasangan. Ia merasa tidak memiliki ruang aman untuk bercerita karena lingkar pertemanannya juga mengenal pasangannya.

“Teman-teman saya kenal pasangan saya juga, jadi takut ceritanya menyebar atau jadi bahan omongan,” kata dia.

Hal itu membuatnya memilih orang di luar lingkar sosialnya. Ia merasa lebih nyaman karena tidak takut dihakimi maupun ceritanya bocor. “Kalau ke orang yang enggak dikenal, saya enggak takut dihakimi atau ceritanya bocor,” kata dia.

Selama sesi berlangsung, Rakan mengaku bisa bercerita lebih bebas tanpa memikirkan dampak jangka panjang. Ia juga merasa benar-benar didengarkan.

Menurutnya, penyedia jasa lebih berperan sebagai pendengar yang memberi ruang, bukan langsung memberikan solusi.

Advertisement