Otomotif

Bisnis Harley-Davidson Ditopang Spare Part dan Konsumen Loyal

Advertisement

JAKARTA, Kompas.com – Penjualan unit sepeda motor Harley-Davidson di Indonesia pada tahun 2025 diprediksi mengalami tekanan. Kendati demikian, distributor resmi di Tanah Air mencatat adanya pertumbuhan signifikan pada lini bisnis purnajual, seperti suku cadang dan layanan servis, yang kini menjadi penopang utama ekosistem merek legendaris tersebut.

Operations Director PT JLM Auto Indonesia, Irvino Edwardly, mengakui bahwa penurunan penjualan motor baru merupakan konsekuensi dari berbagai faktor eksternal yang kurang kondusif, baik di tingkat global maupun domestik. Ia menyebutkan situasi geopolitik global, fluktuasi harga minyak dunia, serta nilai tukar mata uang yang tidak menguntungkan sebagai penyebab utama melemahnya performa di segmen motor premium.

“Kami sih tetap positif ya, walaupun kami melihat ini pasti tetap merupakan tahun yang challenging,” ujar Irvino di Jakarta, Senin (20/4/2026). Ia menambahkan, “Terutama kalau kita melihat sekarang dengan regulasi, kondisi global yang terjadi peperangan, minyak dunia, forex yang juga tidak favorable. Tentunya kami coba untuk bisa tidak terlalu agresif tapi tetap optimis. Kami mau pencapaian minimum sama atau lebih dari tahun lalu.”

Meskipun enggan membeberkan angka pasti penurunan penjualan unit pada tahun sebelumnya, Irvino membenarkan adanya tren tersebut. Namun, ia menekankan bahwa penurunan yang dialami Harley-Davidson masih tergolong lebih baik dibandingkan dengan rata-rata industri.

“Tentunya terjadi penurunan. Tapi penurunannya dibandingkan dengan industri, kami jauh lebih beruntung karena secara penurunannya masih sesuatu angka yang lebih baik. Faktornya tentunya regulasi, kondisi global, dan faktor forex karena pembelian kita dengan dolar AS,” jelasnya.

Lonjakan Bisnis Purnajual

Di tengah lesunya penjualan unit motor baru, lini bisnis purnajual Harley-Davidson justru menunjukkan performa yang impresif. Permintaan terhadap suku cadang (parts) dan layanan servis mengalami lonjakan signifikan, mencerminkan pergeseran perilaku konsumen.

Advertisement

“Dari sisi aftersales, Harley-Davidson Indonesia juga tumbuh sangat solid. Parts and service contohnya tumbuh 120 persen dibandingkan dengan tahun lalu,” ungkap Irvino.

Pertumbuhan ini mengindikasikan bahwa suku cadang bukan lagi sekadar komponen pelengkap, melainkan memegang peran krusial bagi konsumen dalam mempersonalisasi dan merawat sepeda motor mereka sesuai keinginan. Fenomena ini sejalan dengan tren di mana banyak pengguna memilih untuk memaksimalkan sepeda motor yang sudah dimiliki melalui modifikasi dan perawatan rutin, ketimbang membeli unit baru.

Tak hanya suku cadang dan servis, kategori apparel dan general merchandise juga turut mencatat kinerja positif. Irvino menyebutkan bahwa lini ini mengalami pertumbuhan sebesar 115 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Apparel dan general merchandise juga tidak mau ketinggalan sebagai suatu simbol dan identitas bagi para pengendara dan penggemarnya, itu juga menunjukkan pengembangan yang sangat baik (naik) 115 persen dibandingkan tahun lalu,” tuturnya.

Fenomena ini menegaskan bahwa meskipun penjualan unit motor mengalami tantangan, ekosistem Harley-Davidson di Indonesia tetap mampu berkembang. Suku cadang, aksesoris, hingga produk merchandise kini bertransformasi menjadi tulang punggung baru yang tidak hanya menjaga loyalitas konsumen, tetapi juga menopang keberlangsungan bisnis di tengah dinamika pasar yang terus berubah.

Advertisement