Di tengah aliran sungai yang dipenuhi sampah dan berbau menyengat, Iin Kurniasih (43) tak pernah lelah mengais rezeki. Dengan seragam oranye hijau yang khas, ia rela menenggelamkan setengah badannya ke dalam air keruh demi membersihkan tumpukan sampah plastik dan dedaunan. Berbekal alat serok rakitan, ia berpijak pada kubus apung, menarik sampah yang tersangkut di sekatan sungai. Peluh dan lelah yang ia telan setiap hari tak lain demi mewujudkan cita-cita besar anak keduanya, Reza Setiawan (15), yang bermimpi menjadi seorang masinis kereta api.
Iin adalah perempuan pertama di Unit Pengelola Sampah (UPS) Badan Air Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Barat. Semangatnya mewarisi nilai-nilai Kartini. “Kita kan namanya kerja ya, enggak perlu lihat perempuan atau bukan, disamakan dengan laki-laki. Namanya kerja di air, kita harus berani dong di air, nyari sampah. Jangan takut sama air, jangan takut kotor juga, demi menghidupi anak,” ujarnya saat ditemui di Kali PHB Taman Aries, Kembangan, Jakarta Barat, Selasa (21/4/2026).
Mimpi Besar di Tengah Keterbatasan
Perjuangan Iin berendam di sungai setiap hari menjadi asa bagi kelangsungan pendidikan Reza. Remaja 15 tahun ini duduk di bangku kelas enam Sekolah Luar Biasa (SLB) di Cengkareng, Jakarta Barat. Reza mengalami gangguan perkembangan otak dan keterlambatan intelektual.
Kondisi ini diduga akibat benturan di kepala saat kecil dan kehamilan Iin yang tidak sehat, imbas dari masa lalu rumah tangga yang kelam. Himpitan ekonomi dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) membuatnya tak pernah memeriksakan kandungan ke dokter. Ia hanya mengonsumsi obat warung dan melahirkan di luar rumah sakit.
“Entah apa karena waktu saya hamil dia itu sering dipukul atau seperti apa, saya enggak tahu ya. Tapi dia memang beda dari yang lain, saya enggak sanggup periksa ke dokter dulu, bahkan lahiran aja saya enggak di rumah sakit, cuma dibantuin sama dukun beranak waktu itu,” ucap Iin, menahan haru.
Meski memiliki keterbatasan, Reza adalah kebanggaan Iin. Remaja yang akan genap berusia 16 tahun ini mulai mahir membaca dan menulis, bahkan kerap memenangkan lomba. Prestasi kecil itu kian memupuk obsesi Reza pada dunia perkeretaapian yang ia pelajari dari media sosial.
“Di kamar ditempel-tempelin kereta, handphone isinya kereta semua. Dia kalau pergi enggak mau naik busway, maunya naik kereta. Maunya cari masinis buat foto bareng,” cerita Iin.
Reza bahkan pernah meminta dibelikan seragam masinis lengkap. Ia tak henti bertanya kapan bisa sekolah mengemudikan kereta. Iin bangga, namun juga memutar otak memikirkan biaya pendidikan yang cukup besar dan memerlukan sekolah di luar kota.
Kondisi sang anak kerap membuatnya dipandang sebelah mata oleh lingkungan. Namun, semangat Iin tak pernah redup. “Biar kata orang dibilang anak yang punya kekurangan kayak gitu enggak bakal bisa jadi masinis, tapi saya mah percaya garis Allah. Kalau emang udah ditakdirkan begitu ya pasti bisa, tinggal kita usahanya. Tujuan saya kerja nyebur begini cuma buat anak saya aja, supaya dia bisa mengejar cita-cita dan mengangkat derajat orangtuanya,” tegasnya.
Mengubah Nasib
Setelah bercerai, Iin bekerja sebagai buruh cuci piring di sebuah restoran di Kalideres, Jakarta Barat. Ia bekerja 14 jam sehari dengan upah Rp 800.000 per bulan selama 1,5 tahun. “Saya enggak tahu juga dulu gimana bisa hidup ya. Digaji cuma Rp 800.000 per bulan, sampai bela-belain enggak ketemu anak. Namanya perjuangan ya demi anak bisa makan,” kenangnya.
Melihat kerasnya hidup Iin, adiknya yang lebih dulu bekerja di UPS Badan Air mengajaknya melamar menjadi petugas PJLP. “Adik saya amanat banget. Dia bilang, ‘Ceceu kamu kerja jangan capek-capek, jangan pulang malam lagi. Kasihan anak-anak nggak ada bapaknya, apalagi fisiknya nggak normal. Udah nanti dapat kerjaan yang enak’ gitu dia kasihan sama saya,” tutur Iin.
Tak lama berselang, adiknya meninggal dunia akibat kecelakaan. Iin pun langsung dipilih menggantikan posisi sang adik tanpa proses berbelit. Keputusan itu menjadi titik balik hidupnya. Sebagai petugas PJLP resmi, kerja keras Iin dihargai setimpal sesuai UMR Jakarta, jauh berbeda dari gaji sebelumnya.
“Walaupun pekerjaannya seperti ini tapi saya bersyukur, saya senang jalaninnya, saya happy banget. Kalau enggak happy mah enggak saya jalanin, apalagi demi anak juga,” ujar Iin.
Semangat Perempuan Tangguh
Tujuh tahun bekerja di sungai penuh sampah, Iin mengaku sudah kebal dengan rintangan. Di awal karirnya, ia pernah tiga kali tercebur dari perahu pembersih waduk hingga ponselnya rusak. Namun, ia justru menemukan keseruan dalam pekerjaannya.
“Kalau sampah di air nggak bisa diserok, ya kita harus turun pakai tangan ngambilnya. Di sini disamakan semua kerjanya, perempuan dan laki-laki, tapi saya senang,” katanya.
Momen yang paling ditunggu adalah kerja bakti massal saat gerebek sampah. Ia mengaku pernah masuk ke gorong-gorong di kawasan Tambora dengan air setinggi leher, atau berjibaku dengan lumpur setinggi dada di Kali Maja.
“Semua badan saya hitam sampai kerudung, jelek banget dah. Tapi saya bilang, ini baru namanya kerja, kehidupan kerja seorang perempuan disamakan dengan laki-laki. Perempuan tangguh ini baru,” kenangnya bangga.
Namun, semangat Iin kadang terbentur stigma terhadap perempuan di lapangan. “Saya sedih belakangan ini nggak diajak kerja bakti tau. Alasannya karena saya cewek, katanya kasihan. Padahal saya mah senang. Apalagi kalau ada lumpur segini (sedada), udah mainan kita lah itu malah,” ucapnya sembari tertawa.
Merayakan Hari Kartini, Iin membuktikan bahwa emansipasi adalah tentang keberanian mengambil peran, seberat apapun medan pekerjaan. Dari atas aliran sungai yang menjadi tempatnya mengais rezeki, ia mengirimkan pesan untuk perempuan lain.
“Pesannya buat wanita di luar sana, buat single mom, jangan menyerah ya untuk kerja apa saja, yang penting halal. Apalagi kalau punya anak banyak yang harus dihidupi. Kerja, kita pasti bisa, enggak perlu takut atau malu. Itu sudah pasti ciri wanita tangguh, yes!” seru Iin.






