BANDA ACEH, KOMPAS.com – Sebanyak 9.500 paket bantuan kemanusiaan dari relawan internasional, Tiongkok dan Malaysia, mulai mengalir ke Aceh untuk mempercepat pemulihan pasca bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah di provinsi tersebut.
Bantuan ini merupakan bentuk kolaborasi lintas negara dalam merespons dampak luas bencana terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat di berbagai kabupaten/kota di Aceh. Penyaluran bantuan tersebut akan dilakukan secara bertahap kepada warga yang terdampak.
Bantuan Kemanusiaan dari Relawan Internasional
Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau akrab disapa Mualem, menyampaikan apresiasi mendalam atas dukungan yang diberikan oleh relawan asal Tiongkok dan Malaysia. Bantuan yang diterima mencakup berbagai kebutuhan dasar, mulai dari sembako hingga perlengkapan mandi.
“Kami mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan kemanusiaan ini. Relawan asal Tiongkok dan Malaysia sangat menaruh perhatian besar terhadap kondisi Aceh pascamusibah hidrometeorologi,” ujar Mualem dalam keterangannya di Banda Aceh, Minggu (19/4/2026), mengutip Antara.
Inisiatif penyaluran bantuan ini diprakarsai oleh yayasan relawan sosial Tiongkok di bawah naungan Yayasan Pelangi Kesejahteraan Masyarakat. Program ini juga melibatkan kolaborasi dengan lembaga internasional seperti Peaceland Foundation dan The Blue Sky Rescue International dari Malaysia.
Solidaritas Internasional untuk Pemulihan Aceh
Mualem menilai bantuan tersebut tidak hanya memberikan dampak material, tetapi juga mencerminkan kuatnya hubungan kemanusiaan antarnegara. Dukungan ini dianggap sangat penting dalam upaya Aceh untuk bangkit dari keterpurukan akibat bencana.
“Bantuan ini sangat berarti untuk mempercepat pemulihan warga terdampak. Hanya Allah SWT yang dapat membalas segala kebaikan dan ketulusan para relawan. Semoga kerja sama dan silaturahmi ini terus terjaga,” katanya.
Bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban masyarakat yang kehilangan tempat tinggal maupun sumber mata pencaharian akibat banjir dan tanah longsor yang terjadi.
Mekanisme Distribusi Bantuan
Ketua Yayasan Pelangi Kesejahteraan Masyarakat, Sa’aduddin (Apa At), menjelaskan bahwa total 9.500 paket bantuan akan didistribusikan secara bertahap ke wilayah-wilayah yang terdampak paling parah. Pada tahap awal, sebanyak 500 paket telah disalurkan, berisi kebutuhan pokok dan perlengkapan kebersihan.
“Bantuan ini akan menyasar 15 kabupaten/kota di Aceh yang terdampak paling parah. Kami berkomitmen untuk memastikan bantuan sampai ke tangan yang tepat secara bertahap,” ujar Sa’aduddin.
Pendekatan distribusi bertahap ini dirancang untuk memastikan efektivitas penyaluran dan ketepatan sasaran penerima manfaat, sehingga bantuan dapat diterima oleh mereka yang paling membutuhkan.
Percepatan Pemulihan Infrastruktur
Selain bantuan kemanusiaan, pemerintah pusat melalui Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera juga terus berupaya mempercepat pemulihan infrastruktur di wilayah terdampak, termasuk Aceh.
Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, menegaskan bahwa perbaikan konektivitas menjadi prioritas utama dalam upaya pemulihan pascabencana.
“Tahap selanjutnya adalah meningkatkan kondisi jalan dan jembatan dari fungsional menjadi permanen,” katanya.
Berdasarkan data per 18 April 2026, sejumlah infrastruktur penting di Aceh telah kembali berfungsi, menunjukkan kemajuan signifikan dalam proses pemulihan:
- Seluruh 46 ruas jalan nasional di Aceh telah pulih.
- Sebanyak 23 jembatan nasional telah kembali digunakan.
- 1.521 dari 1.638 titik jalan daerah telah dapat dilalui.
- 351 dari 652 jembatan daerah telah berfungsi.






