Regional

Wabup Sumedang Jamin Kelanjutan Pendidikan Siswa SMP yang Berhenti Sekolah demi Bantu Ayah Berjualan

Advertisement

SUMEDANG, KOMPAS.com – Keputusan I, seorang siswa kelas 8 SMP Negeri 1 Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, untuk berhenti sekolah demi membantu ayahnya berjualan telah memicu perhatian luas setelah videonya beredar di TikTok dan Instagram. Dalam video tersebut, I terlihat menyalami teman-teman sekelasnya dengan menahan tangis, yang kemudian menuai simpati dari warganet.

Namun, narasi yang berkembang di media sosial mengenai dugaan eksploitasi anak segera diklarifikasi oleh I dan keluarganya. Saat ditemui di kediamannya di Tanjungsari pada Senin (20/4/2026), I menegaskan bahwa keputusan untuk tidak melanjutkan sekolah murni datang dari keinginannya sendiri.

“Ini niat saya sendiri, ingin membantu ayah jualan. Bahkan, ayah sempat melarang saya dan meminta tetap fokus sekolah,” ujar I kepada Kompas.com. Ia menjelaskan bahwa dirinya mulai membantu sang ayah menjual fried chicken dan tahu crispy di kawasan Alun-alun Tanjungsari sejak awal Ramadhan. Pasca-Lebaran, I memilih untuk fokus berdagang penuh dari pukul 09.00 hingga 22.00 WIB.

“Ya, cuma ingin bantu ayah, kasian ayah. Buat bantu adik-adik saya juga. Gak ada niat lain,” tutur anak sulung dari tiga bersaudara itu dengan suara terbata-bata.

Inisiatif Sendiri, Bukan Eksploitasi

Imam Agus Faisal (34), ayah I, membenarkan bahwa ia tidak pernah memaksa anaknya untuk berhenti belajar. Menurut Imam, keinginan I muncul karena melihat kondisi keuangan keluarga yang sedang sulit pasca-perceraian.

“Saya tidak pernah meminta I berhenti sekolah. Justru saya ingin dia tetap belajar. Tapi, dia sendiri yang ingin membantu karena kondisi keluarga kami,” kata Imam.

Imam menjelaskan bahwa mantan istrinya meninggalkan utang yang cukup besar tanpa sepengetahuannya, sehingga beban finansial tersebut menumpuk dan memengaruhi kehidupan mereka sehari-hari. Kerabat keluarga, Leli Lijayanti (36), menambahkan bahwa I adalah sosok anak yang sangat dewasa dan penurut.

“Anaknya baik, tidak banyak bicara, sangat penurut. Di sekolah juga katanya pendiam, enggak banyak tingkah,” ungkap Leli.

Advertisement

Pemerintah Kabupaten Sumedang Turun Tangan

Viralnya kisah I ini mendapat respons serius dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumedang. Wakil Bupati Sumedang, M. Fajar Aldila, meninjau langsung kondisi keluarga I dan memberikan bantuan.

Sebelum mendatangi rumah keluarga I, Wabup Fajar sempat memborong seluruh dagangan I di Alun-alun Tanjungsari. Ia menegaskan bahwa I harus kembali bersekolah.

“Besok I akan kembali ke sekolah. Wajib bagi setiap anak di Sumedang untuk menuntaskan pendidikan 12 tahun,” tegas Fajar kepada Kompas.com.

Selain menjamin kelanjutan pendidikan I, Pemkab Sumedang juga akan memasukkan keluarga Imam ke dalam daftar penerima Program Keluarga Harapan (PKH) serta bantuan sosial lainnya. Fajar juga menepis isu adanya eksploitasi dalam kasus ini.

“I akan kembali ke sekolah, pemerintah daerah hadir untuk membantu keluarga Pak Imam. Soal isu adanya eksploitasi itu sama sekali tidak benar,” tambah Fajar.

Solidaritas Teman Sekelas

Sebelumnya, teman-teman sekelas I di kelas VIII-I menunjukkan solidaritas luar biasa dengan mengunggah video perpisahan tersebut. Mereka menandai akun Gubernur Jawa Barat dan Bupati Sumedang agar memberikan perhatian pada nasib sahabat mereka yang dikenal rajin tersebut.

Dalam unggahannya, rekan-rekan I juga menuliskan pesan yang menyentuh: “Rasanya sedih sekali tahu kalau kita gak bisa lagi berjuang bareng di kelas yang sama. Kita mengerti kalau keadaan ini bukan pilihanmu, tapi aku percaya di balik kesulitan ini, kamu sedang dipersiapkan untuk sesuatu yang jauh lebih besar.”

Advertisement