Regional

Elpiji Nonsubsidi Mahal dan Langka, Warga Bandung Tempuh 10 Km demi Tabung 12 Kg

Advertisement

Kenaikan harga elpiji nonsubsidi yang ditetapkan PT Pertamina Patra Niaga mulai memicu keluhan warga di Kota Bandung. Sejumlah konsumen melaporkan kesulitan mendapatkan stok di pangkalan hingga terpaksa mengeluarkan biaya lebih besar akibat lonjakan harga yang signifikan. Kondisi ini memaksa sebagian warga menempuh jarak lebih jauh demi mendapatkan bahan bakar rumah tangga tersebut.

Berdasarkan pantauan di lapangan pada Senin (20/4/2026), harga elpiji tabung 12 kilogram (kg) kini menyentuh angka Rp 228.000 hingga Rp 234.000 per tabung. Angka ini merupakan kenaikan dari harga sebelumnya yang berada di kisaran di bawah Rp 200.000.

Perjuangan Mencari Elpiji Hingga Puluhan Kilometer

Dadang (61), seorang pensiunan asal Ujungberung, Kota Bandung, mengaku terkejut dengan lonjakan harga elpiji 12 kg yang biasa ia konsumsi. Ia bahkan harus menempuh perjalanan sejauh 10 kilometer menuju distributor resmi di Jalan Emong, Kota Bandung, karena stok di SPBU dekat rumahnya dilaporkan kosong.

“Belum tahu sebelumnya, baru tadi pas beli. Tahu-tahu naik dari di bawah Rp 200 ribu, sekarang jadi Rp 234 ribu. Mau nyari yang kecil tabungnya juga enggak boleh dibeli,” ujar Dadang saat ditemui di Jalan Emong, Senin.

Bagi Dadang, kenaikan harga ini menjadi beban tambahan di masa pensiunnya. Meskipun satu tabung 12 kg dapat digunakan hingga hampir satu bulan, pengeluaran tambahan tersebut tetap terasa signifikan.

“Iya, memberatkan sekali. Apalagi saya sudah pensiun. Sudah lama pakai, dari awal ada. Tapi tambah ke sini tambah berat,” ungkap Dadang.

Ia berharap pemerintah dapat mempertimbangkan kembali kebijakan ini agar harga energi menjadi lebih terjangkau bagi masyarakat.

“Harapannya ya turun lagi, biar lebih ringan. Soalnya kalau enggak pakai gas, mau pakai apa lagi,” pungkasnya.

Advertisement

Gubernur Jabar Dorong Energi Alternatif

Menanggapi kenaikan harga elpiji nonsubsidi yang diperkirakan mencapai 18,75 persen, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mendorong masyarakat untuk mulai beradaptasi dan mencari sumber energi alternatif. Dedi menilai, bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pedesaan atau perkampungan, ketersediaan sumber daya alam dapat menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan pada elpiji.

“Kami di daerah mendorong masyarakat untuk tidak bergantung sepenuhnya pada elpiji. Di daerah perkampungan, misalnya, ketersediaan kayu bakar masih melimpah. Itu bisa menjadi pilihan,” kata Dedi Mulyadi usai menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun ke-385 Kabupaten Bandung di Soreang, Senin.

Selain kayu bakar, Dedi Mulyadi juga menyoroti potensi pengolahan kotoran sapi menjadi biogas. Menurutnya, inovasi ini dapat menjadi substitusi energi untuk keperluan memasak hingga sumber listrik skala rumah tangga.

Ia menekankan pentingnya masyarakat menyesuaikan pola konsumsi dengan kapasitas ekonomi masing-masing di tengah fluktuasi harga energi global.

“Prinsipnya, kita harus menyesuaikan kebutuhan dengan kemampuan. Saya optimistis warga kita memiliki kecerdasan dan kreativitas untuk berinovasi di tengah kondisi ini,” tutur Dedi.

Saat ini, harga elpiji nonsubsidi di pasaran memang mengalami penyesuaian beragam. Untuk tabung 5,5 kg, harga kini dibanderol sekitar Rp 107.000, sementara tabung 12 kg berada di kisaran Rp 228.000 hingga Rp 234.000, tergantung pada lokasi pangkalan atau distributor.

Advertisement