BANGKALAN, KOMPAS.com — Nurul Fauziah, seorang aparatur sipil negara (ASN) di Bangkalan, Jawa Timur, tak pernah berhenti berjuang demi menafkahi keempat buah hatinya. Sepeda motor matik menjadi kendaraan utamanya dalam berjualan sembako keliling, sebuah upaya ekstra di luar statusnya sebagai abdi negara, setelah sang suami meninggal dunia setahun lalu.
Kondisi ekonomi Nurul berbanding terbalik dengan kebanyakan rekan kerjanya. “Jadi gaji saya itu 90 persen sudah habis untuk nyicil pinjaman bank selama 12 tahun. Sejak 2015 sampai sekarang ya hanya bertahan dari sisa gaji 10 persen itu,” ungkapnya, pilu. Sebagian besar penghasilannya terpakai untuk melunasi utang biaya pengobatan almarhum suaminya.
Titik Terendah Kehidupan
Perjuangan berat Nurul dimulai ketika suaminya didiagnosis menderita kanker otak pada tahun 2014. Ia harus membagi waktu antara merawat suami tercinta dan memenuhi segala kebutuhan keluarga. Berbagai upaya pengobatan telah ditempuh, termasuk meminjam dana ke bank untuk biaya medis dan pendidikan anak-anaknya.
Namun, takdir berkata lain. Sang suami menghembuskan napas terakhirnya pada 2015. “Sejak saat itu hidup saya terpuruk. Bahkan saya numpang makan di rumah nenek saya,” kenangnya.
Nurul memang terbiasa hidup mandiri sejak kecil. Kedua orang tuanya telah tiada, dan ia tidak memiliki saudara kandung. “Jadi saya harus bangkit sendiri demi anak-anak saya,” tegasnya.
Berjuang Demi Pendidikan Anak
Menjadi tulang punggung keluarga, Nurul tak pernah berhenti berupaya agar anak-anaknya tidak putus sekolah, terlebih saat itu dua di antaranya tengah menempuh pendidikan tinggi. “Saat itu yang satu kuliah keperawatan dan yang satu kuliah di UTM,” tuturnya.
Berbagai usaha ia jajal, mulai dari berjualan pakaian hingga kebutuhan rumah tangga. Namun, hasil yang didapat belum mampu menutupi kebutuhan. Untuk memenuhi biaya pendidikan yang mencapai sekitar Rp 4.000.000 setiap bulannya, Nurul terpaksa menjual warisan orang tuanya senilai Rp 40.000.000.
“Jadi uang itu murni untuk biaya sekolah anak. Sedangkan untuk kebutuhan sehari-hari di rumah, dari uang saya. Uang itu bisa bertahan selama tiga tahun untuk sekolah anak,” jelasnya.
Sembako Keliling, Harapan Baru
Di tengah himpitan kesulitan, Nurul mendapat uluran tangan dari para sahabat. Pinjaman tanpa bunga ia terima untuk modal memulai usaha berjualan sembako. Beras, telur, dan minyak menjadi komoditas utamanya.
Tanpa kios, ia mengandalkan sistem antar pesanan langsung ke pelanggan tanpa biaya tambahan. “Jadi saya antar pesanan sendiri. Barang-barang itu saya bawa dan kirim door to door ke pelanggan pakai motor,” terangnya.
Setiap malam, ia sibuk mencatat pesanan dan merancang rute pengantaran untuk esok hari. Waktu sebelum berangkat kerja, jam istirahat, hingga usai jam kerja ia manfaatkan untuk mengantar pesanan, bahkan hingga larut malam. “Meski jauh tetap saya antar sendiri. Yang penting tidak kehilangan pelanggan,” katanya.
Bertahan Demi Masa Depan Anak
Dari usaha sembako kelilingnya, Nurul mampu meraup keuntungan sekitar Rp 200.000 setiap harinya. Tak berhenti di situ, ia juga berjualan nasi bungkus yang dititipkan di warung kopi setiap pagi.
“Dari pagi sampai malam saya terus bekerja. Alhamdulillah hasilnya itu bisa untuk menghidupi anak saya dan membiayai sekolah,” ujarnya, penuh syukur.
Kini, dua dari empat anaknya telah bekerja, sementara dua lainnya masih menimba ilmu. Nurul bertekad untuk terus berjuang demi masa depan mereka. “Saya tidak akan menyerah sampai titik darah penghabisan,” tutupnya, dengan nada optimis.






