Food

Dari Street Food hingga Premium Dining, Ini Geliat Bisnis Kuliner Surabaya

Advertisement

Surabaya terus bertransformasi menjadi pusat metropolitan dengan geliat bisnis kuliner yang dinamis, menawarkan lebih dari sekadar tempat makan, melainkan ruang untuk pengalaman, cerita, dan gaya hidup. Perubahan pandangan masyarakat terhadap aktivitas makan di luar rumah menjadi fondasi utama perkembangan ini.

Menurut David Kristianto, S.E., M.M., dosen Hotel Management dan Culinary Business Management Universitas Kristen Petra, tingginya kebutuhan makan di luar bukan lagi sekadar pemenuhan rasa lapar, melainkan telah menjelma menjadi bagian dari gaya hidup urban.

“Pasarnya hidup dan terus bergerak, mulai dari orang kerja, kuliah, dan bisnis, kondisi ini yang membuat kebutuhan makan di luar jadi tinggi, bukan cuma karena lapar, tapi juga karena gaya hidup,” ujar David kepada Kompas.com.

David menjelaskan bahwa pergeseran perilaku konsumen ini menjadikan makan di luar sebagai aktivitas keseharian, bukan lagi kejadian sporadis. Dengan daya beli yang kuat, Surabaya mampu menampung spektrum pasar kuliner yang luas, dari jajanan kaki lima hingga restoran premium.

“Banyak segmen pasar yang bisa digarap, mulai dari yang harga terjangkau sampai konsep yang lebih premium, hal ini yang bikin bisnis kuliner di Surabaya fleksibel, mau main di street food bisa, mau bikin konsep restoran yang lebih bagus juga ada pasarnya,” imbuhnya.

Dinamika Pasar Surabaya yang Tak Pernah Mati

Mobilitas penduduk Surabaya yang tinggi, termasuk arus masuk mahasiswa, pekerja, dan pelaku bisnis dari berbagai daerah, menjadi salah satu kekuatan utama kota ini dalam menciptakan pasar kuliner yang dinamis.

“Artinya, konsumennya nggak itu-itu saja. Selalu ada market baru yang masuk, jadi peluang repeat order dan exposure juga lebih besar,” kata David Kristianto.

Keunggulan geografis Surabaya juga turut berkontribusi, dengan akses mudah ke berbagai daerah penghasil pangan di Jawa Timur. Hal ini memastikan pasokan bahan baku yang relatif stabil.

Advertisement

Lebih lanjut, David menyoroti keterbukaan masyarakat Surabaya terhadap hal-hal baru. Inovasi menu, konsep unik, atau tren kuliner dari luar daerah biasanya cepat diterima oleh konsumen lokal.

“Yang nggak kalah penting, orang Surabaya itu cukup terbuka sama hal baru. Kalau ada menu unik, konsep baru, atau tren dari luar, biasanya cepat diterima,” ungkap David Kristianto.

Senses: Pengalaman Kuliner Modern Asian dengan Sentuhan Lokal

Di tengah peluang tersebut, Senses hadir sebagai destinasi modern Asian dining di kawasan Citraland, Surabaya Barat. Kehadirannya merefleksikan pergeseran industri F&B yang kini mengedepankan pengalaman pelanggan.

Senses dirancang sebagai ekosistem hospitality terintegrasi, menggabungkan restoran, bakery artisan Something Baked, dan bar speakeasy Apostrophe dalam satu ruang. Konsep ini membuka peluang diversifikasi bisnis dan perluasan segmen pasar.

Nilai utama yang ditawarkan Senses bukan hanya pada rasa, tetapi juga pada suasana, cerita, dan interaksi sosial yang tercipta. Pendekatan mendalam pada rantai pasok, dengan bahan baku lokal sebagai elemen kunci, turut membangun identitas dan kualitas.

Bahan baku seperti kulat jamur asal Bangka, andaliman dari dataran tinggi Karo, serta ikan segar dari nelayan Bali dan perairan Jawa Timur seperti Madura dan Gresik, diolah untuk menciptakan pengalaman kuliner yang utuh.

“Kami melihat Senses sebagai bagian dari strategi untuk membangun ekosistem bisnis yang berkelanjutan. Tidak hanya dari sisi pengalaman pelanggan, tetapi juga dari bagaimana kami mengembangkan pasar, memperkuat rantai pasok lokal, dan menciptakan nilai ekonomi yang lebih luas,” ujar Chief Executive Officer Naung Group, Andrew Zefanya.

Advertisement