Food

Studi Northwestern Medicine Ungkap Jam Makan Malam Terbaik untuk Kesehatan

Advertisement

Mengatur waktu makan malam, bukan hanya apa yang dikonsumsi, ternyata memegang peranan krusial dalam menjaga kesehatan metabolisme dan mencegah penyakit kronis. Temuan ini diungkap dalam sebuah studi terbaru dari Northwestern Medicine yang menekankan pentingnya menyelaraskan jam makan dengan ritme sirkadian tubuh.

Kebiasaan makan larut malam, yang seringkali diidentikkan dengan kegagalan diet, ternyata memiliki dampak lebih luas dari sekadar angka timbangan. Perasaan begah atau kesulitan tidur setelah menyantap hidangan di atas pukul 22.00 adalah sinyal dari tubuh bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan.

Temuan Utama Studi Northwestern Medicine

Penelitian yang dipublikasikan pada Februari 2026 di jurnal Arteriosclerosis, Thrombosis, and Vascular Biology ini menyoroti bahwa pengaturan waktu makan, khususnya kapan seseorang berhenti mengonsumsi makanan di malam hari, dapat meningkatkan kesehatan kardiovaskular dan metabolik tanpa perlu mengubah jumlah kalori yang dikonsumsi.

Tim peneliti dari Northwestern Medicine merekrut 39 partisipan berusia 36 hingga 75 tahun yang memiliki kelebihan berat badan atau obesitas, serta berisiko tinggi terhadap penyakit kardiometabolik. Para sukarelawan ini dibagi menjadi dua kelompok: kelompok pertama menjalani intervensi puasa semalaman yang diperpanjang, sementara kelompok kontrol tetap pada kebiasaan makan dan tidur mereka.

Perbedaan mendasar terletak pada instruksi bagi kelompok puasa yang diperpanjang, yakni diminta untuk tidak makan selama tiga jam sebelum waktu tidur. Kedua kelompok juga diwajibkan untuk meredupkan lampu tiga jam sebelum beristirahat.

Hasil Eksperimen Tujuh Setengah Minggu

Setelah menjalani eksperimen selama tujuh setengah minggu, kelompok yang menerapkan puasa semalaman yang diperpanjang menunjukkan perbaikan signifikan. Mereka mengalami penurunan tekanan darah di malam hari, pola detak jantung yang lebih baik selama tidur, serta peningkatan kontrol gula darah di siang hari.

Advertisement

Studi ini menggarisbawahi konsep ritme sirkadian, yaitu jam biologis internal tubuh yang mengatur berbagai fungsi, termasuk siklus bangun-tidur dan pencernaan.

Poin-Poin Penting dari Studi

  • Batas Jam Makan Malam: Menghentikan asupan makanan lebih awal di malam hari, idealnya sebelum pukul 19.00 atau 20.00, memberikan kesempatan bagi tubuh untuk memprioritaskan proses perbaikan sel daripada pencernaan makanan berat.
  • Efek Terhadap Gula Darah: Makan terlalu dekat dengan waktu tidur dapat mengganggu sensitivitas insulin, menyebabkan lonjakan gula darah yang lebih tinggi dibandingkan dengan waktu makan yang sama di siang hari.
  • Risiko Penyakit Kronis: Kebiasaan makan larut malam secara konsisten dikaitkan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2, penyakit jantung, dan obesitas.

Pendapat Pakar: Mengapa Waktu Makan Begitu Berpengaruh?

Para peneliti menekankan bahwa tubuh manusia secara alami dirancang untuk memproses nutrisi secara efisien di siang hari, saat aktivitas fisik lebih tinggi. Dr. Kelly Glazer Baron, seorang psikolog klinis dan peneliti di Northwestern Medicine, menjelaskan bahwa makan di luar ritme sirkadian normal, seperti saat tubuh seharusnya beristirahat, dapat mengganggu metabolisme lemak dan gula.

Selain itu, pakar lain yang terlibat dalam studi ini juga mengamati bahwa makan larut malam cenderung mendorong pilihan makanan yang kurang sehat, seperti junk food, dan dalam porsi yang lebih besar.

Tips Makan Malam yang Disarankan

  1. Berikan Jeda Sebelum Tidur: Usahakan ada jarak minimal tiga jam antara waktu makan terakhir dengan waktu tidur.
  2. Pilih Camilan Ringan: Jika merasa lapar sebelum tidur, pilihlah camilan kecil yang kaya serat, bukan makanan olahan tinggi gula.
  3. Konsistensi adalah Kunci: Terapkan jadwal makan yang teratur setiap hari untuk menjaga jam biologis tubuh tetap sinkron.

Studi dari Northwestern Medicine, seperti yang dilaporkan oleh Food and Wine, menegaskan bahwa kesehatan optimal tidak hanya bergantung pada jumlah kalori, tetapi juga pada penghormatan terhadap siklus alami tubuh. Dengan mengakhiri waktu makan lebih awal, tubuh diberikan kesempatan untuk melakukan detoksifikasi dan regenerasi maksimal saat beristirahat.

Advertisement