Regional

Semangat Rahma Ikuti UTBK, Penyandang Cerebral Palsy yang Bidik Sosiologi Unpad

Advertisement

BANDUNG, KOMPAS.com – Di tengah riuh ketegangan menunggu dimulainya Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di Kampus Institute Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, sosok Rahma Rahayu (20) memancarkan semangat juang yang tak biasa. Ia adalah satu dari 20 peserta penyandang disabilitas yang mengikuti UTBK tahun ini, berbekal tekad kuat untuk meraih bangku kuliah di Universitas Padjadjaran (Unpad).

Langkah Rahma, yang mengidap cerebral palsy, mungkin tidak seringan peserta lain, namun langkahnya mantap didampingi sang ibunda, Diah Komala (50). Lulusan SLB Karya Bakti Bandung ini membidik jurusan Sosiologi Unpad, sebuah pilihan yang lahir dari pengalaman hidupnya.

“Saya suka berinteraksi dengan masyarakat,” ujar Rahma singkat, namun sarat keyakinan. Ketertarikannya pada dinamika sosial bukan sekadar hobi, melainkan dorongan untuk berkontribusi lebih jauh.

Sang ibu, Diah, menjelaskan lebih dalam mengenai cita-cita putrinya. “Memang suka berinteraksi dengan masyarakat dan dia melihat kaum disabilitas khususnya, dia ingin memajukan sesama disabilitas untuk mencapai harkatnya mengejar cita-citanya, prestasi gitu. Jadi, dia pengen advokasi juga,” ungkap Diah.

Persiapan Rahma menghadapi UTBK tidak main-main. Selama berbulan-bulan, ia mendedikasikan waktu untuk belajar. Senyum optimistis terpancar dari wajahnya, menandakan kesiapan mental yang matang. “Yakin banget, berbulan-bulan (belajar) sudah siap,” katanya penuh optimisme.

Bakat Menulis Menjadi Peluang Lain

Selain UTBK, Rahma juga memiliki bakat terpendam di bidang tulis-menulis. Sajak dan puisi ciptaannya kerap dibacakan dalam berbagai acara, menunjukkan sisi kreatifnya yang lain.

Diah menambahkan, jika jalur akademik belum sesuai harapan, keluarga tidak khawatir. “Dia penulis buku, dia membuat sajak, kalau ada event dia bacakan sajaknya dan puisinya sendiri. Jadi, kalaupun tidak bisa diterima di pendidikan negeri, dia bisa kembangkan bakatnya,” pungkasnya.

Advertisement

Perjalanan Rahma menuju titik ini tidaklah mudah. Ia sempat melewatkan kesempatan setelah lulus dua tahun lalu akibat keterbatasan informasi. Kini, ia kembali bangkit, mengejar mimpi yang sempat tertunda.

Peserta Lain dan Data Pelaksanaan UTBK

Tak hanya Rahma, semangat juang juga ditunjukkan oleh peserta lain. Rifki Syaqi Abdulloh, pemuda asal Setibudi, mengaku persiapannya sudah mencapai 90 persen. Lulusan Pesantren Albasyriah Cigondewah ini menargetkan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung, dengan fokus pada Jurusan Manajemen dan Bahasa Arab di UPI, serta Dakwah di UIN.

Bagi Rifki, UTBK adalah batu loncatan penting menuju masa depan yang telah ia rancang. Ia berharap ujian ini membuka pintu ke kampus impiannya.

Rincian Pelaksanaan UTBK di ISBI Bandung

Pelaksanaan UTBK di ISBI Bandung diikuti oleh total 8.247 peserta terdaftar, dengan 20 di antaranya adalah peserta disabilitas. Ujian ini berlangsung selama 10 hari, mulai dari tanggal 21 hingga 30 April 2026, dibagi menjadi dua sesi setiap harinya.

Lokasi ujian terbagi di dua kampus, yakni ISBI Bandung dan Universitas Teknologi Bandung (UTB) sebagai mitra. Sebanyak 18 ruang ujian disiapkan, terdiri dari 10 ruang di ISBI dan 8 ruang di UTB, dengan total kapasitas 8.400 kursi. ISBI secara khusus menyediakan ruang dan fasilitas pendukung bagi 20 peserta disabilitas.

Advertisement