Money

IMF dan Bank Dunia Ingatkan RI soal Subsidi, Purbaya Tegaskan APBN Aman

Advertisement

Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia memberikan perhatian khusus terhadap kebijakan subsidi yang diterapkan oleh pemerintah Indonesia. Kedua lembaga internasional tersebut mengingatkan agar realisasi subsidi tidak sampai membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) secara berlebihan.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyampaikan bahwa pesan utama dari IMF dan Bank Dunia adalah agar pemerintah tidak kebablasan dalam memberikan subsidi, demi menjaga kesehatan fiskal negara.

“Main message-nya dari IMF, World Bank itu sama, jangan kelebihan memberikan subsidi sehingga negara kamu rontok anggarannya,” ujar Purbaya kepada awak media di Kementerian Keuangan, Jakarta, pada Selasa (21/4/2026).

Purbaya menegaskan bahwa kebijakan subsidi di Indonesia telah dirancang secara terukur dan tidak bersifat berlebihan. Pemerintah hanya memberikan subsidi pada jenis bahan bakar tertentu, sementara harga komoditas lainnya diserahkan pada mekanisme pasar.

“Kita kan enggak kelebihan, yang kita kasih yang subsidi, yang nggak subsidi biarin saya lepas ke pasar,” jelasnya. Ia menambahkan, pengelolaan subsidi tetap berpegang pada prinsip kehati-hatian agar tidak mengganggu keseimbangan fiskal jangka panjang.

Ketahanan Fiskal Indonesia Diapresiasi

Selain isu subsidi, pemerintah juga telah memberikan penjelasan kepada IMF dan Bank Dunia mengenai ketahanan fiskal Indonesia yang dinilai masih kuat. Purbaya mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki beberapa lapisan perlindungan untuk menjaga stabilitas anggaran, termasuk ketersediaan cadangan fiskal.

Advertisement

“Mereka juga jadi tahu bahwa management cash kita cukup baik dan kita bilang masih punya third layer atau fourth layer of defense dalam bentuk SAL,” ungkapnya.

Saldo Anggaran Lebih (SAL) menjadi salah satu bantalan fiskal yang dimiliki pemerintah untuk menghadapi potensi tekanan ekonomi. Meskipun dalam kondisi normal dinilai kurang efisien karena dana yang mengendap, Purbaya menilai SAL justru berperan krusial saat terjadi krisis.

“Dalam keadaan biasa itu konyol sebetulnya, uangnya nggak kepakai. Tapi dalam keadaan seperti ini boleh juga,” tuturnya.

Dengan pengelolaan fiskal yang disiplin dan cadangan yang memadai, Purbaya memastikan pemerintah tetap optimistis defisit APBN dapat dijaga di bawah batas aman 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), sekalipun di tengah tekanan ekonomi global.

Advertisement