Gletser yang menyelimuti Puncak Jaya, ikon Pegunungan Jayawijaya, kini berada di ambang kepunahan akibat perubahan iklim global. Lapisan es yang telah ada selama ribuan tahun itu terus menipis dan menyusut, mengancam keberadaannya dalam beberapa tahun mendatang.
Emilya Nurjani, seorang pakar hidrometeorologi, iklim perkotaan, dan klimatologi lingkungan dari Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), menjelaskan bahwa penyusutan gletser merupakan fenomena global yang terjadi di berbagai belahan dunia. Ia menyoroti bahwa di wilayah tropis, Puncak Jaya di Indonesia dan Gunung Kilimanjaro di Afrika menjadi dua lokasi yang mengalami degradasi signifikan.
“Penurunan ini tidak hanya terjadi dari sisi luas, tetapi juga ketebalan es,” ujar Emilya, merujuk pada kondisi gletser yang semakin mengkhawatirkan.
Kondisi Gletser yang Mengkhawatirkan Berdasarkan Data BMKG
Data dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkuat kekhawatiran tersebut. Pemantauan yang dilakukan pada 11-15 November 2024 menunjukkan adanya penurunan luas dan ketebalan yang drastis pada “salju abadi” di Puncak Sudirman.
Dalam kurun waktu dua tahun terakhir, luas lapisan es menyusut dari 0,23 kilometer persegi pada tahun 2022 menjadi sekitar 0,11 hingga 0,16 kilometer persegi pada tahun 2024. Ketebalannya pun mengalami penurunan signifikan. Jika pada tahun 2010 ketebalan es masih mencapai 32 meter, angka tersebut merosot menjadi 5,6 meter pada periode 2015-2016, dan pada tahun 2024 hanya tersisa sekitar 4 meter.
BMKG menilai kondisi ini sebagai sinyal peringatan serius. Jika tren penyusutan terus berlanjut, diperkirakan salju abadi di Jayawijaya akan punah dalam waktu yang tidak lama.
Dampak Pemanasan Global Terhadap Gletser
Penyusutan gletser ini erat kaitannya dengan peningkatan suhu global yang dipicu oleh berbagai faktor, salah satunya adalah radiasi matahari gelombang pendek yang menjadi sumber energi utama dalam sistem iklim bumi. Emilya Nurjani, sebagaimana dilansir dari laman UGM pada Jumat (17/4/2026), menjelaskan bahwa perubahan penggunaan lahan secara masif, seperti pembangunan, pertanian, dan permukiman, turut memengaruhi keseimbangan energi di permukaan bumi.
Perubahan ini berkaitan erat dengan konsep albedo, yaitu kemampuan suatu permukaan untuk memantulkan kembali radiasi matahari. Es atau gletser memiliki nilai albedo yang tinggi, sehingga mampu memantulkan sebagian besar energi kembali ke atmosfer. Namun, ketika tutupan lahan berubah akibat aktivitas manusia, kemampuan reflektif ini menurun. Konsekuensinya, lebih banyak panas yang terserap dan terakumulasi di atmosfer, yang kemudian memicu pemanasan global dan mempercepat pencairan gletser.
Risiko Pencairan Gletser bagi Indonesia
Mencairnya gletser di Puncak Jaya berpotensi menambah volume air laut, yang pada akhirnya akan menyebabkan kenaikan muka air laut. Dampak ini sudah mulai dirasakan di sejumlah wilayah pesisir Indonesia, seperti di Semarang dan kawasan pantai utara Jawa, yang mengalami abrasi dan banjir rob.
Meskipun demikian, penting untuk dicatat bahwa kenaikan muka air laut tidak hanya dipengaruhi oleh pencairan es, tetapi juga oleh faktor lain, termasuk penurunan muka tanah. Untuk memperlambat laju penyusutan gletser dan memitigasi dampaknya, diperlukan upaya lintas sektor dalam menekan peningkatan suhu bumi.
Salah satu langkah utama yang diserukan adalah dekarbonisasi, yaitu upaya pengurangan emisi karbon dari berbagai sektor, termasuk energi dan penggunaan lahan. Di tingkat individu, langkah-langkah sederhana seperti menghemat listrik, mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, serta berpartisipasi dalam penanaman pohon juga dinilai penting untuk menekan laju pemanasan global dan menjaga keseimbangan lingkungan dalam jangka panjang.






