United Airlines memangkas proyeksi kinerja keuangan mereka hingga tahun 2026. Penyesuaian ini didorong oleh lonjakan harga bahan bakar jet yang dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Maskapai penerbangan ini juga mengambil langkah untuk mengurangi sebagian rencana penerbangan guna menekan biaya operasional yang membengkak.
Menurut laporan CNBC, United Airlines kini memperkirakan laba per saham tahun ini akan berada di kisaran 7 hingga 11 dollar AS. Angka ini merupakan revisi turun dari proyeksi sebelumnya yang mencapai 12 hingga 14 dollar AS per saham, sebagaimana diumumkan pada Januari lalu. Penurunan proyeksi ini sejalan dengan ekspektasi para analis Wall Street yang sebelumnya telah merevisi turun perkiraan laba tahunan menjadi sekitar 9,58 dollar AS per saham.
Untuk kuartal kedua tahun ini, United Airlines memprediksi laba yang disesuaikan hanya akan berkisar antara 1 hingga 2 dollar AS per saham. Angka ini berada di bawah ekspektasi analis yang memproyeksikan 2,08 dollar AS per saham.
Faktor Kenaikan Biaya Bahan Bakar
Harga bahan bakar jet diproyeksikan akan mencapai rata-rata 4,30 dollar AS per galon pada periode tersebut. Perusahaan menyatakan bahwa pendapatan yang dihasilkan diperkirakan mampu menutupi sekitar 40 persen hingga 50 persen kenaikan biaya bahan bakar pada kuartal kedua. Angka ini diharapkan meningkat menjadi 80 persen pada kuartal ketiga, dan mencapai 85 persen hingga 100 persen pada akhir tahun.
Sebagai respons terhadap kondisi ini, United Airlines juga melakukan penyesuaian pada kapasitas penerbangan. Pertumbuhan kapasitas pada paruh kedua tahun ini diperkirakan akan datar hingga naik sekitar 2 persen, sebuah penurunan signifikan dibandingkan pertumbuhan 3,4 persen yang tercatat pada kuartal pertama.
Kinerja Kuartal Pertama Melampaui Ekspektasi
Meskipun menghadapi tekanan biaya, United Airlines melaporkan kinerja yang solid pada kuartal pertama 2026. Pendapatan mencapai 14,61 miliar dollar AS, melampaui perkiraan analis sebesar 14,37 miliar dollar AS. Secara keseluruhan, pendapatan ini menunjukkan kenaikan lebih dari 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 13,21 miliar dollar AS.
Laba bersih pada kuartal pertama melonjak signifikan, naik 80 persen menjadi 699 juta dollar AS, atau 2,14 dollar AS per saham. Angka ini meningkat drastis dari 387 juta dollar AS atau 1,16 dollar AS per saham pada periode yang sama tahun lalu.
Pendapatan per unit juga mengalami peningkatan di seluruh segmen, termasuk penerbangan domestik Amerika Serikat yang naik 7,9 persen menjadi 7,9 miliar dollar AS. Hal ini mengindikasikan kekuatan penetapan harga di tengah meningkatnya biaya operasional.
CEO United, Scott Kirby, menyatakan bahwa hasil tersebut mencerminkan ketahanan strategi jangka panjang perusahaan di tengah lonjakan biaya bahan bakar. “Ini adalah hasil yang dapat dibanggakan oleh karyawan kami dan menunjukkan ketahanan strategi jangka panjang kami, bahkan di tengah lonjakan biaya bahan bakar,” ujarnya.
Dampak Konflik Timur Tengah pada Harga Bahan Bakar
Harga bahan bakar jet di Amerika Serikat sempat menyentuh level 4,78 dollar AS per galon pada awal April. Meskipun kemudian turun menjadi 3,51 dollar AS, angka ini masih jauh lebih tinggi dibandingkan 2,39 dollar AS pada akhir Februari, sebelum eskalasi konflik di Timur Tengah.
Meskipun industri penerbangan telah menaikkan tarif tiket dan biaya tambahan seperti bagasi, permintaan untuk penerbangan tetap menunjukkan kekuatan. Hal ini menyebabkan industri penerbangan semakin bergantung pada penumpang yang bersedia membayar lebih untuk layanan premium.
Situasi serupa juga dialami oleh maskapai lain. Alaska Airlines juga terpaksa menarik proyeksi kinerja 2026 mereka akibat tekanan biaya bahan bakar, bahkan telah menaikkan tarif tiket sekitar 25 dollar AS per penumpang.
Isu Merger dan Penolakan
Di tengah tantangan operasional, isu potensi merger juga sempat mencuat. CEO United dikabarkan pernah mengusulkan kemungkinan penggabungan dengan American Airlines kepada pejabat pemerintahan Donald Trump. Namun, rencana tersebut mendapat penolakan dari Trump dan American Airlines sendiri.






