Money

Strategi Investor Ritel Saat IHSG Turun: Hindari Saham Ini, Pilih yang Likuid

Advertisement

JAKARTA, KOMPAS.com – Di tengah bayang-bayang pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), investor ritel dihadapkan pada pilihan strategi yang lebih cermat. Alih-alih berdiam diri, para pelaku pasar disarankan untuk melakukan seleksi saham yang lebih terukur, menjauhi emiten dengan konsentrasi kepemilikan tinggi, dan beralih ke saham-saham yang memiliki likuiditas serta fundamental yang kokoh.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menekankan pentingnya pendekatan yang lebih strategis dalam menghadapi ketidakpastian arah pasar. “Strategi investasi yang bijak bukan berarti berdiam diri, melainkan menjadi lebih selektif dan terukur,” ujar Hendra saat dihubungi Kompas.com, Rabu (22/4/2026).

Ia menyarankan investor untuk mengurangi eksposur pada saham dengan _free float_ rendah atau yang masuk dalam kategori _High Shareholding Concentration_ (HSC). Sebaliknya, fokus dialihkan pada emiten yang berlikuiditas tinggi, memiliki _free float_ besar, dan fundamental yang solid.

Keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan kenaikan bobot saham Indonesia dalam indeks globalnya menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati. Hendra menilai, keputusan ini bukan sekadar urusan teknis indeks, melainkan memiliki dampak struktural dan berjangka menengah.

Pembekuan tersebut berarti kapasitas pasar modal Indonesia untuk menyerap aliran dana dari investor institusi global, seperti dana indeks pasif dan ETF, akan semakin terbatas ke depannya. Akibatnya, saham-saham berkategori HSC, termasuk PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), berpotensi mengalami penurunan visibilitas di mata investor asing. Dana pasif pun kemungkinan telah mulai mengurangi posisinya secara bertahap.

Namun, Hendra mengingatkan agar investor tidak bereaksi berlebihan. “Ini bukan krisis fundamental ekonomi, melainkan sinyal bahwa reformasi pasar modal harus dibuktikan lewat implementasi nyata bukan sekadar janji kebijakan di atas kertas,” paparnya.

Secara teknikal, IHSG masih menyimpan potensi _rebound_. Penguatan yang lebih kokoh diharapkan datang ketika ada kejelasan dari _review_ MSCI berikutnya, disertai bukti konkret reformasi pasar. Momentum untuk kembali masuk ke saham-saham berbasis MSCI umumnya lebih optimal setelah tekanan jual mereda dan arah kebijakan mulai terlihat.

Manajemen Risiko dan Rekomendasi Saham

Dalam kondisi pasar yang masih mencari arah, manajemen risiko menjadi faktor kunci untuk menjaga stabilitas portofolio. Hendra memberikan beberapa rekomendasi saham yang layak dicermati investor ritel untuk strategi _swing trade_ dan _day trade_.

PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dan PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) disebut sebagai kandidat _swing trade_ dengan potensi keuntungan sekitar 6-7 persen, serta batas risiko yang terukur. Sementara itu, PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) menarik perhatian seiring isu geopolitik yang memengaruhi jalur pelayaran global, dengan target harga hingga Rp 570 dari area beli Rp 535.

Advertisement

Untuk strategi _day trade_, PT PP Presisi Tbk (PPRE) dinilai cocok, dengan target di kisaran Rp 153-Rp 156 dari level masuk Rp 147. “Di tengah pasar yang masih mencari arah, disiplin pada level beli, target, dan _stop loss_ bukan sekadar strategi, melainkan pembeda antara investor yang bertahan dan yang tersapu arus ketidakpastian,” ujar Hendra.

Proyeksi IHSG dan Rekomendasi Jangka Pendek

Investment Specialist PT Korea Investment And Sekuritas Indonesia (KISI), Ahmad Faris Mu’tashim, mencatat bahwa IHSG berhasil memangkas pelemahan setelah sempat dibuka melemah hampir 1 persen dan ditutup turun 0,46 persen pada perdagangan Selasa (21/4/2026).

Sektor industrial menjadi penahan pelemahan indeks dengan menguat sebesar 2,58 persen, ditopang oleh saham BNBR yang melesat 11,65 persen. Meskipun mencatatkan pelemahan secara keseluruhan, sembilan dari sebelas sektor justru mencatatkan penguatan.

Faris memperkirakan IHSG pada perdagangan Rabu (22/4/2026) akan menguat terbatas. Indeks diprediksi bergerak dengan level _resistance_ terdekat di kisaran 7.780, sementara area _support_ berada di level 7.500.

Sejalan dengan proyeksi tersebut, beberapa saham dapat dicermati untuk strategi _trading_ jangka pendek. PT PP Presisi Tbk (PPRE) direkomendasikan untuk _trading buy_ pada area Rp 135 – Rp 147, dengan target harga di kisaran Rp 163 hingga Rp 170, serta batas risiko (_stop loss_) di bawah Rp 130.

Selain itu, PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) juga menarik diperhatikan dengan strategi _trading buy_ di rentang Rp 640 hingga Rp 660. Saham ini memiliki potensi kenaikan menuju target harga Rp 685 hingga Rp 700, dengan _stop loss_ di bawah level Rp 630.

Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.

Advertisement