Regional

Setahun Raup Untung Rp 10 Miliar, Sindikat Ini Kirim 52 Kontainer Kendaraan Ilegal ke Timor Leste

Advertisement

SEMARANG, KOMPAS.com – Jaringan penyelundupan kendaraan bermotor ilegal ke Timor Leste berhasil dibongkar oleh Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jawa Tengah. Dalam kurun waktu Januari 2025 hingga April 2026, sindikat ini diduga telah mengirimkan 52 kontainer berisi 1.727 kendaraan, dengan nilai transaksi mencapai lebih dari Rp 50 miliar dan keuntungan kotor sekitar Rp 10 miliar.

Aktivitas penyelundupan ini dinilai berpotensi mengganggu perekonomian negara dan daerah.

Pengungkapan Kasus

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Djoko Julianto, menjelaskan bahwa pengungkapan kasus ini berawal dari adanya informasi mengenai pengiriman kendaraan tanpa dokumen kepemilikan yang sah.

“Berbekal informasi tersebut, petugas melakukan penyelidikan dan berhasil mengamankan satu truk kontainer di Exit Tol Krapyak yang memuat 17 unit sepeda motor dan 2 unit mobil,” kata Djoko kepada awak media pada Rabu (22/4/2026).

Petugas kemudian kembali mengamankan satu kontainer lain di Exit Tol Banyumanik dengan muatan serupa. Dari hasil pengembangan, polisi bergerak ke sebuah gudang di Jalan Pakis–Daleman, Desa Bentangan, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten. Di lokasi tersebut, ditemukan 12 unit sepeda motor dan 2 unit truk yang telah dipersiapkan untuk dikirim ke luar negeri.

Kendaraan yang diselundupkan terdiri dari 1.674 unit sepeda motor, 34 unit mobil, dan 19 unit truk.

Dua Tersangka Diamankan

Dalam perkara ini, penyidik menetapkan dua tersangka, yakni AT (49), warga Wonosari, Klaten, dan SS (52), warga Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

Advertisement

AT berperan sebagai pemodal sekaligus penghubung dengan pembeli di Timor Leste, serta menyediakan kendaraan dari berbagai sumber tanpa dokumen sah. Sementara itu, SS berperan sebagai perantara yang mencarikan jasa pengiriman (forwarder).

Modus Operandi

Modus operandi yang digunakan pelaku adalah mengumpulkan kendaraan roda dua, roda empat, hingga truk tanpa dokumen lengkap. Selanjutnya, dokumen ekspor fiktif dibuat sebelum kendaraan dikirim melalui Pelabuhan Tanjung Priok.

“Total kendaraan yang berhasil diamankan sebanyak 52 unit, terdiri dari 46 sepeda motor, 4 mobil, dan 2 truk,” jelas Djoko.

Skema Keuntungan

Hasil penyidikan mengungkap skema keuntungan yang diperoleh pelaku. Sepeda motor dibeli dengan harga Rp 6 juta hingga Rp 8 juta, lalu dijual kembali di kisaran Rp 13 juta hingga Rp 15 juta. Sementara itu, mobil dibeli seharga Rp 120 juta hingga Rp 135 juta dan dijual Rp 140 juta hingga Rp 150 juta. Adapun truk dibeli Rp 180 juta hingga Rp 200 juta dan dijual kembali dengan harga Rp 210 juta sampai Rp 220 juta.

“Lebih lanjut diungkapkan, praktik ilegal ini telah berlangsung sejak Januari 2025 hingga April 2026, dengan total 52 kontainer yang telah diberangkatkan,” ungkap Djoko.

Jerat Hukum

Atas perbuatannya, para tersangka dijerat dengan Pasal 592 KUHP dan/atau Pasal 591 KUHP juncto Pasal 20 huruf c KUHP juncto Pasal 36 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia. Mereka terancam pidana penjara paling lama 6 tahun atau denda paling banyak Rp 500 juta.

Advertisement