Kemacetan parah yang kerap terjadi di ruas jalan tol akibat proyek perbaikan jalan, yang kemudian mendadak terurai begitu melewati area tersebut, ternyata bukan semata-mata disebabkan oleh penyempitan lajur atau bottleneck. Faktor perilaku pengemudi yang minim kedisiplinan disebut menjadi pemicu utama yang melipatgandakan parahnya kemacetan.
Jusri Pulubuhu, Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), menjelaskan bahwa meskipun bottleneck secara inheren mengurangi kapasitas lajur dan menghambat arus kendaraan, situasi tersebut diperburuk oleh rendahnya kedisiplinan pengguna jalan. “Bottleneck ini kemacetan yang terjadi ini semakin parah ketika para pengguna jalan tidak disiplin. Mereka berebutan mencoba memasuki lubang bottleneck tadi,” ujar Jusri kepada Kompas.com pada Selasa (21/4/2026).
Perilaku Pengemudi Jadi Kunci
Menurut Jusri, banyak pengemudi di Indonesia yang belum memahami atau menerapkan pola Zipper Merge atau metode ritsleting saat menghadapi penyempitan jalan. Metode ini, menurutnya, sangat efektif dalam mengurai kemacetan.
“Kalau di sini kan dia tidak mengerti pola metodologi yang namanya zipper tadi, yang bisa menguraikan kemacetan. Karena awareness atau kesadaran masyarakat pengguna jalan di Indonesia ini rendah,”
kata Jusri.
Metode zipper sebenarnya cukup sederhana jika dipraktikkan dengan benar. Pengemudi dari lajur yang akan menyempit dan lajur utama seharusnya masuk ke titik penyempitan secara bergantian, layaknya gerigi pada ritsleting.
“Jadi misalnya nih, kanan masuk duluan. Habis itu, yang kanan akan berhenti untuk kendaraan yang kedua, memberi kesempatan yang kiri untuk masuk. Bergantian,” jelasnya.
Namun, kenyataannya di lapangan, perilaku saling serobot dan keengganan memberi jalan justru membuat arus kendaraan terkunci di mulut bottleneck. Fenomena inilah yang menjelaskan mengapa setelah melewati titik perbaikan, jalanan tiba-tiba menjadi sangat lancar. Hambatan utamanya bukanlah volume kendaraan, melainkan ketidakteraturan yang diciptakan oleh pengemudi di titik penyempitan tersebut.






