NUNUKAN, KOMPAS.com – Pemerintah Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, menegaskan bahwa stok bahan bakar minyak (BBM) di wilayahnya aman dan mencukupi kebutuhan masyarakat. Namun, pemerintah daerah mengakui adanya fenomena pembelian BBM menggunakan jeriken oleh pedagang eceran yang masih marak terjadi.
Asisten Ekonomi dan Pembangunan Sekretariat Kabupaten Nunukan, Rohadiansyah, menyatakan bahwa kuota BBM untuk tahun 2026 telah dipastikan stabil dan sesuai dengan alokasi tahun sebelumnya. “Distribusi BBM untuk Nunukan aman dan mencukupi, sesuai kuota tahun sebelumnya,” ujar Rohadiansyah saat dihubungi, Selasa (21/4/2026).
Rincian Kuota BBM Nunukan Tahun 2026
Berdasarkan data yang dihimpun, kuota BBM untuk Kabupaten Nunukan pada tahun 2026 dipastikan tidak mengalami perubahan signifikan, terutama untuk jenis BBM bersubsidi. Pengiriman dari Pertamina Tarakan mencakup:
- Pertalite: 25.599 kiloliter
- Solar: 12.781 kiloliter
- Minyak Tanah: 708 kiloliter
Meskipun pasokan saat ini dinilai cukup, Pemerintah Kabupaten Nunukan telah mengajukan penambahan kuota. Langkah ini diambil sebagai antisipasi terhadap pertumbuhan jumlah penduduk yang tercatat mencapai 227.567 jiwa pada tahun 2025.
Kendala Distribusi dan Maraknya Penjual Eceran
Rohadiansyah menjelaskan bahwa kendala distribusi BBM yang kerap terjadi lebih bersifat teknis dan dipengaruhi oleh faktor alam. Mengingat rute pengiriman dari Tarakan menggunakan jalur laut, cuaca buruk sering kali menyebabkan keterlambatan jadwal kedatangan kapal pengangkut BBM.
Di sisi lain, pemerintah daerah juga menyoroti praktik pedagang eceran yang secara terang-terangan mengantre menggunakan jeriken di Agen Penyalur Minyak dan Solar (APMS). Fenomena ini menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat, terlebih di tengah fluktuasi ekonomi global.
“Sebenarnya kami sudah sering menegur pemilik APMS, tapi kembali lagi pada pemiliknya. Untuk penertiban, Pemkab tidak bisa sendiri, kita butuh keterlibatan Aparat Penegak Hukum (APH) juga,” imbuh Rohadiansyah.
Harga Eceran Mencapai Rp 13.000 per Liter
Keberadaan bensin eceran di Nunukan memang menjadi dilema tersendiri. Meskipun harganya jauh lebih tinggi dibanding di APMS, masyarakat sering kali terpaksa bergantung pada pedagang eceran karena keterbatasan jam operasional APMS.
Saat ini, harga bensin di tingkat eceran dipatok sebesar Rp 13.000 per liter. Angka tersebut bisa mencapai Rp 20.000 jika pembelian dilakukan dalam kemasan botol air mineral ukuran 1,5 liter. Pemerintah Kabupaten Nunukan berencana menggelar rapat koordinasi untuk merumuskan solusi permanen guna menertibkan distribusi BBM agar lebih tepat sasaran.






