JAKARTA, KOMPAS.com – Insiden sopir travel yang diduga mengemudi secara ugal-ugalan di Tol Padaleunyi beberapa waktu lalu menjadi sorotan publik. Perilaku agresif di jalan raya, seperti memepet kendaraan lain, sering kali dipicu oleh ketidakmampuan pengemudi dalam mengendalikan emosi saat menghadapi situasi lalu lintas.
Dalam kasus tersebut, sopir yang mengendarai mobil jenis Toyota Hiace telah diberikan sanksi berupa pemberhentian sebagai mitra oleh perusahaan penyedia layanan. Selain itu, proses hukum terkait dugaan pelanggaran lalu lintas yang dilakukannya juga tengah berjalan.
Sony Susmana, Director Training Safety Defensive Consultant (SDCI), menilai bahwa perilaku agresif di jalan raya tidak muncul begitu saja. Menurutnya, ada beberapa faktor yang berkontribusi membuat pengemudi lebih mudah terpancing emosi hingga bertindak di luar batas.
“Ada tiga hal yang membuat pengemudi ugal-ugalan di jalan. Pertama, karakternya agresif. Kedua, kompetensi. Ketiga, fatigue,” ujar Sony kepada Kompas.com, Selasa (21/4/2026).
Ia menjelaskan lebih lanjut bahwa karakter agresif seseorang cenderung membuatnya menjadi reaktif terhadap hal-hal kecil di jalan, seperti ketika disalip oleh kendaraan lain atau diingatkan oleh pengemudi lain. Dalam kondisi ini, emosi sangat mudah terpancing dan berpotensi memicu konflik.
Sementara itu, faktor kompetensi berkaitan dengan tingkat kematangan kemampuan mengemudi seseorang. Pengemudi yang dinilai kurang terampil dalam berkendara biasanya lebih rentan panik. Akibatnya, respons yang diambil cenderung bersifat emosional, bukan rasional.
Adapun fatigue atau kelelahan juga merupakan faktor penting yang sering kali diabaikan. Kondisi fisik yang menurun dapat menyebabkan penurunan konsentrasi dan ketidakstabilan emosi, sehingga pengemudi menjadi lebih mudah tersulut amarah.
Sony menambahkan, gangguan-gangguan kecil seperti distraksi dari pengemudi lain, kondisi cuaca, hingga suasana hati (mood) dapat menjadi pemicu munculnya ego di jalan. “Sedikit saja ada distraksi dari pengemudi lain, cuaca, mood, egonya timbul dan pasti mudah tersulut, biasanya berujung konflik,” katanya.
Menurut Sony, ketiga faktor tersebut memiliki kaitan yang erat dan pada akhirnya bermuara pada satu hal krusial: kemampuan mengontrol emosi saat berkendara. Tanpa kendali diri yang memadai, pengemudi berisiko mengambil keputusan-keputusan berisiko yang dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
Ia menegaskan bahwa setiap individu tentu memiliki permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, ketika berada di balik kemudi, tanggung jawab untuk menjaga keselamatan harus menjadi prioritas utama, bukan malah meluapkan emosi di jalan.






