JAKARTA, KOMPAS.com — Di tengah kepadatan aktivitas di kawasan Pademangan, Jakarta Utara, berdirilah sebuah institusi pendidikan yang telah bertahan selama 36 tahun, memberikan harapan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Sekolah Darurat Kartini, yang didirikan oleh dua perempuan kembar Sri Irianingsih dan Sri Rossyati, telah menjadi mercusuar pendidikan gratis sejak tahun 1990.
Inisiatif ini lahir dari keprihatinan mendalam kedua saudari kembar, yang kini berusia 75 tahun, saat pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta. Pengalaman melihat anak-anak jalanan mencari makan dari sampah memicu tekad mereka untuk memberikan akses pendidikan dan nutrisi yang layak.
“Waktu itu, satu tempat sekitar dua jam saja karena masih baca tulis. Biasanya sampai malam itu, dari pagi lanjut terus,” ungkap Sri Rossyati, yang akrab disapa Ibu Rossy, kepada Kompas.com pada Selasa (21/4/2026).
Perjalanan Sekolah Darurat Kartini tidak selalu mulus. Sejak awal pendiriannya, sekolah ini telah beberapa kali menghadapi ancaman penggusuran dan terpaksa berpindah lokasi. Namun, semangat Sri Irianingsih dan Sri Rossyati tak pernah padam.
Perjuangan Melawan Keterbatasan
Perkembangan sekolah ini terbilang pesat. Pada tahun 1996, Sekolah Darurat Kartini tercatat memiliki ribuan murid. Sri Irianingsih, atau Ibu Rian, menceritakan pencapaian tersebut dengan bangga.
“Satu lokasi itu 600 anak, kami punya lima. (hingga) 1.500 kami dapet MURI sampai 3.033 muridnya,” ujar Ibu Rian.
Namun, jumlah murid yang besar ini juga menjadi tantangan tersendiri. Dihadapkan pada keterbatasan lahan, Ibu Rian mengaku pernah mendirikan tenda darurat untuk menampung ribuan siswa.
“Saya pakai tenda, muridnya 3.000 kok piye? Terus habis begitu diusir sama Pemda,” kenangnya.
Meski menghadapi tekanan dan ancaman penggusuran yang berulang, niat untuk terus mendidik anak-anak kurang mampu tak pernah surut. Hingga akhirnya, pada tahun 2013, sekolah ini menemukan lokasi tetap di Pademangan berkat bantuan dan pinjaman lahan.
“Terus dikasih lahan orang Tionghoa itu di sini (Kampung Bandan), tapi ini kan punya negara, ini kan punya negara terus dikasih sama Pak Jonan,” jelas Ibu Rian mengenai kronologi perpindahan lokasi.
Bekal Keterampilan untuk Masa Depan
Lebih dari sekadar memberikan pendidikan akademis, Sekolah Darurat Kartini juga membekali para siswanya dengan berbagai keterampilan praktis. Pelajaran menjahit, mengelas, hingga memasak diajarkan dengan harapan agar para lulusan memiliki bekal yang cukup untuk memasuki dunia kerja.
“Akademis ditambah keterampilan. Karena untuk bekalnya dia,” tegas Ibu Rian.
Kebutuhan dasar para murid, mulai dari makanan, pakaian, hingga perlengkapan sekolah, juga menjadi perhatian utama. Dedikasi ini membuahkan hasil, terbukti dengan beberapa alumni yang berhasil melanjutkan pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi, bahkan ada yang menempuh studi di luar negeri.
“Ada yang S3 sekarang di Australia,” ungkap Ibu Rian, menunjukkan kebanggaan atas pencapaian alumninya.
Di usianya yang tidak lagi muda, Sri Irianingsih dan Sri Rossyati tetap bersemangat untuk melanjutkan perjuangan Sekolah Darurat Kartini. Bagi mereka, sekolah ini adalah bukti nyata bahwa setiap anak di Indonesia berhak mendapatkan pendidikan, terlepas dari latar belakang sosial dan ekonomi mereka.






