Money

Kisah Direktur Operasi Perempuan Pertama Semen Indonesia, Reni Wulandari: Kesetaraan Gender Tingkatkan Produktivitas

Advertisement

JAKARTA, KOMPAS.com – Reni Wulandari menorehkan sejarah baru di PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) dengan menjadi perempuan pertama yang menjabat sebagai Direktur Operasi. Keputusan ini diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 18 April 2023, menandai babak baru bagi kesetaraan gender di industri semen yang secara tradisional didominasi oleh laki-laki.

Dengan pengalaman lebih dari 25 tahun di industri semen, sebagian besar dihabiskan di area operasi yang maskulin, Reni membuktikan bahwa kompetensi dan dedikasi tidak mengenal gender. Kiprahnya ini menjadi inspirasi, terutama dalam momentum Hari Kartini.

Perjalanan Karier Reni Wulandari

Reni Wulandari, lulusan Teknik Kimia Universitas Diponegoro dan pemegang gelar Magister Business Administration dari Swiss German University, telah mengisi berbagai posisi strategis di lingkungan SIG Group sebelum dipercaya menduduki jabatan puncaknya. Ia memulai kariernya di PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SBI), salah satu anak usaha SIG, sebagai General Manager Pabrik Tuban dan Pabrik Narogong. Selanjutnya, ia menjabat sebagai Direktur Operasi di PT Semen Gresik sebelum akhirnya diangkat menjadi Direktur Operasi SIG.

“Sejak hari pertama mengemban amanah sebagai Direktur Operasi SIG, saya menerapkan pendekatan visible-felt leadership. Kehadiran pemimpin dan interaksi langsung di lapangan sangat penting, terutama di area operasi yang didominasi karyawan laki-laki,” ujar Reni dalam keterangan tertulis, Selasa (21/4/2026).

Ia menambahkan, sebagai bagian dari minoritas gender, ia tidak mengalami kendala terkait bias gender dalam menjalankan perubahan untuk mendukung kinerja operasi SIG. “Ini menunjukkan bahwa kesetaraan gender di SIG bukan sekadar slogan, melainkan telah terimplementasi di seluruh lini,” imbuhnya.

Kesetaraan Gender sebagai Pendorong Produktivitas

Penghargaan The Most Extraordinary Women Business Leaders 2024 dari Majalah SWA diraih Reni berkat dedikasinya. Ia menekankan bahwa peluang berkarier di sektor industri berat seperti semen menuntut kompetensi dan konsistensi tinggi.

“Bukan melalui argumentasi atau perdebatan untuk memperoleh perlakuan setara, tetapi dengan menunjukkan, kesetaraan gender mampu meningkatkan profitabilitas, inovasi, dan produktivitas melalui keberagaman perspektif,” tegas Reni.

Advertisement

Lebih lanjut, Reni menilai SIG dan BUMN lainnya telah memberikan kesempatan yang setara bagi perempuan dan laki-laki untuk berkembang. Hal ini merupakan respons terhadap kebutuhan bisnis, di mana kesetaraan gender menjadi salah satu faktor pendorong peningkatan kinerja organisasi. “Dalam lingkungan kerja berbasis merit, fokus pada kompetensi, kualifikasi, kinerja, dan profesionalisme akan menjadi keunggulan bagi organisasi,” jelasnya.

Kebijakan Inklusif SIG

Direktur Human Capital SIG, Hadi Setiadi, menambahkan bahwa perusahaan memiliki kebijakan fair employment opportunity policy yang menjamin kesempatan yang adil dan setara bagi seluruh karyawan. Kebijakan ini juga merupakan bentuk penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM) serta dukungan terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) di Indonesia.

“Kami memastikan tidak ada diskriminasi dalam proses rekrutmen maupun seleksi untuk posisi manajemen dan senior. Seluruh proses dilakukan secara transparan berdasarkan kompetensi dan kinerja, bukan faktor gender,” ujar Hadi.

SIG juga menyediakan berbagai fasilitas untuk mendukung kebutuhan karyawan perempuan, seperti cuti melahirkan, ruang laktasi, dan dispensasi haid. Selain itu, SIG membentuk komunitas karyawan perempuan Srikandi SIG sebagai wadah pemberdayaan dan pengembangan talenta melalui berbagai program pembelajaran.

“Sebagai bagian dari komitmen menciptakan lingkungan kerja yang inklusif, SIG juga menerapkan Respectful Workplace Policy untuk melindungi seluruh insan perusahaan dari segala bentuk pelecehan dan kekerasan. Dengan demikian, tercipta lingkungan kerja yang aman, kondusif, dan produktif,” tutup Hadi.

Advertisement