ACEH BESAR, KOMPAS.com – Layanan poliklinik di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aceh Besar dilaporkan telah kembali beroperasi normal per hari ini, Selasa (21/4/2026). Keputusan ini diambil setelah para tenaga medis dan dokter spesialis menghentikan sementara aktivitas mereka akibat kekosongan stok obat yang telah berlangsung selama lima bulan.
Salah seorang dokter spesialis, dr. Irfan, mengonfirmasi bahwa layanan kesehatan untuk masyarakat Aceh Besar kini telah dibuka kembali. Keputusan untuk kembali bekerja ini diambil setelah adanya pertemuan dan kesepakatan dengan pihak Pemerintah Daerah (Pemda).
“Alhamdulillah, sudah buka kembali,” ujar Irfan saat dikonfirmasi Kompas.com, Selasa (21/4/2026).
Menurut dr. Irfan, para tenaga medis memutuskan untuk kembali melayani pasien setelah Pemda menyampaikan komitmennya untuk mempercepat proses tuntutan yang telah mereka sampaikan sebelumnya. Tuntutan tersebut mencakup pengadaan obat-obatan, penyelesaian Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP), serta pencairan jasa medis.
“Kami harap tuntutan kami bisa segera terealisasi, khususnya percepatan pembentukan BLUD itu supaya bisa cair jasa medis dan beli obat,” jelasnya.
Namun, dr. Irfan enggan memberikan komentar lebih lanjut mengenai kronologi kekosongan obat-obatan di rumah sakit yang telah berlangsung selama lima bulan. “Mungkin bisa hubungi direktur RS saja,” tuturnya.
Direktur RSUD Aceh Besar, dr. Bunaiya Putra, saat dikonfirmasi Kompas.com melalui pesan WhatsApp, juga tidak memberikan keterangan detail mengenai isu kekosongan obat. Ia hanya membenarkan bahwa layanan poliklinik sudah mulai beroperasi kembali.
“Hari ini sudah mulai pelayanan lagi,” balas dr. Bunaiya singkat.
Aksi Mogok Dipicu Kekosongan Obat
Sebelumnya, layanan poliklinik di RSUD Aceh Besar terhenti total pada Senin (20/4/2026). Penghentian layanan ini merupakan buntut dari aksi mogok massal yang dilakukan oleh seluruh tenaga medis hingga dokter spesialis di rumah sakit tersebut.
Pemicu utama aksi mogok ini adalah kekosongan persediaan sebagian besar obat-obatan di RSUD Aceh Besar. Kondisi ini dilaporkan telah mengganggu proses pelayanan medis secara signifikan dan menghambat tenaga kesehatan dalam menjalankan tugasnya secara optimal.
Pemkab Aceh Besar Ajak Perkuat Komunikasi
Menyikapi aksi mogok tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Besar, melalui Wakil Bupati Syukri A. Jalil, angkat bicara. Ia mengajak seluruh Tenaga Kesehatan (Nakes) RSUD Aceh Besar untuk memperkuat komunikasi dan koordinasi dalam menyelesaikan berbagai persoalan pelayanan publik, khususnya di sektor kesehatan.
Menurut Syukri, setiap permasalahan yang muncul pada dasarnya dapat diselesaikan secara internal melalui jalur koordinasi dan komunikasi, baik dengan pimpinan maupun antarinstansi. Ia menekankan bahwa dari hasil pertemuan dengan pihak rumah sakit, persoalan yang terjadi lebih disebabkan oleh hambatan komunikasi dan kurangnya interaksi antarpihak terkait.
“Setelah kami pelajari dan kita duduk bersama, persoalan ini sebenarnya bisa kami selesaikan dengan baik. Ada komunikasi yang sempat tersumbat dan ini yang ke depan harus kami perbaiki bersama,” kata Syukri dalam keterangan tertulisnya, Senin (20/4/2026).






