BOGOR, CNN Indonesia – Suara “krek krek” yang perlahan terdengar menjadi alarm bagi Rohidin sekeluarga sebelum rumah mereka di Kampung Cimangurang, Desa Cijayanti, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, terbelah dan remuk akibat pergerakan tanah.
Fenomena pergerakan tanah yang melanda kawasan tersebut sejak pertengahan April 2026 ini telah menghancurkan rumah Rohidin, menyisakan dinding tembok dengan retakan besar dan lantai yang ambles.
Meski kehilangan tempat tinggal, Rohidin mengucap syukur karena ia dan keluarganya berhasil menyelamatkan diri sebelum bangunan rumahnya hancur total.
Ditemui di lokasi kejadian pada Selasa (21/4/2026), Rohidin menceritakan detik-detik mencekam saat tanah mulai bergerak.
“Udah sempet lapor ke desa,” ujar Rohidin kepada wartawan, merujuk pada tanda-tanda awal pergerakan tanah yang ia rasakan melalui keretakan rumah tetangganya.
Ia menjelaskan bahwa proses kerusakan rumahnya tidak instan, melainkan bertahap seiring pergeseran struktur tanah di bawahnya. Suara gesekan material bangunan menjadi peringatan bagi keluarganya.
“Pelan-pelan, jadi tanah tuh, ‘krek-krek’ jadi rumah gak langsung ambruk,” tutur Rohidin menggambarkan suasana yang terjadi.
Sifat pergerakan tanah yang bertahap ini memberikan kesempatan bagi Rohidin untuk mengevakuasi anggota keluarga serta barang-barang berharga ke tempat yang lebih aman. Saat ini, barang-barang warga yang terdampak dititipkan di rumah tetangga yang masih dianggap aman.
“Alhamdulillah keluarga gak ada yang kenapa-napa, masih sempet nyalamatin barang-barang juga,” tambahnya.
Kini, Rohidin dan keluarganya terpaksa menyewa rumah kontrakan di wilayah yang sama karena rumah aslinya sudah tidak mungkin lagi dihuni.
7 Rumah Rusak, 28 Jiwa Mengungsi
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor mencatat bahwa fenomena pergerakan tanah di Desa Cijayanti ini dipicu oleh intensitas hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut dalam beberapa hari terakhir.
Staf Ratik BPBD Kabupaten Bogor, Jalaludin, memaparkan bahwa retakan awal muncul pada Kamis (16/4/2026) pukul 10.00 WIB dengan lebar sekitar 10 sentimeter. Kondisi ini memburuk signifikan pada Minggu (19/4/2026) pukul 22.00 WIB malam saat hujan lebat kembali turun.
“Dengan rincian dari titik awal pergeseran dengan panjang 100 meter, dan pergeseran dari titik mahkota dari atas ke bawah sekitar 50 meter,” ujar Jalaludin dalam keterangan tertulisnya.
Hingga saat ini, dampak kerusakan akibat bencana alam ini meliputi:
- Total rumah terdampak: 7 unit rumah.
- Rincian kerusakan: 4 rumah rusak berat (remuk/ambruk) dan 3 rumah rusak sedang.
- Jumlah korban: 9 Kepala Keluarga (KK) dengan total 28 jiwa terpaksa mengungsi.
- Korban jiwa: Nihil.
BPBD memperingatkan bahwa potensi pergeseran tanah susulan di wilayah Babakan Madang masih sangat tinggi. Hal ini dibuktikan dengan masih terdengarnya suara retakan dari struktur bangunan yang tersisa di lokasi hingga Selasa siang.
Saat ini, petugas dari BPBD, Tagana, hingga Linmas setempat masih bersiaga di lokasi untuk membantu warga mengamankan barang-barang mereka.
“Saat ini rumah terdampak pergerakan tanah tidak bisa dihuni. Warga terdampak telah mengevakuasi barang-barang milik pribadi. Untuk sementara mengontrak di alamat yang sama,” pungkas Jalaludin.






