Regional

Dari Tanaman Gulma Jadi Komoditas, Kisah Budidaya Semanggi di Kampung Semanggi Surabaya

Advertisement

SURABAYA, KORAN TEMPO – Di Kampung Semanggi, kawasan Sememi, Benowo, Surabaya, tanaman yang lazim dianggap gulma justru menjelma menjadi komoditas pangan dan sumber penghasilan warga. Semanggi, dengan ciri khas daun tiga atau empat helai yang tumbuh di tanah berlumpur, kini menjadi kebanggaan daerah tersebut.

Athanasius Suparmo (54), Ketua Paguyuban Kampung Semanggi, menuturkan bahwa sejarah pemanfaatan semanggi berawal dari kebutuhan kuliner khas Surabaya, pecel. Awalnya, pecel menggunakan daun krokot sebagai bahan utamanya. Namun, kandungan air yang tinggi pada daun krokot dinilai kurang ideal untuk disandingkan dalam hidangan pecel. Akhirnya, masyarakat Surabaya beralih menggunakan daun semanggi yang memiliki kadar air lebih sesuai.

“Jadi tahun 1960-an orang Surabaya itu sudah jualan pecel, awalnya pakai daun krokot. Tapi, karena kadar airnya terlalu tinggi, akhirnya diganti daun semanggi,” ujar Suparmo saat ditemui, Rabu (15/4/2026).

Mulanya, para pedagang pecel masih mendatangkan daun semanggi dari kota-kota lain seperti Mojokerto, Sidoarjo, dan Pandaan. Namun, pada tahun 2010, masyarakat Kampung Semanggi mulai berinisiatif untuk membudidayakan semanggi sendiri. Bibit berupa akar semanggi dibawa pulang dan ditanam di pekarangan rumah.

“Lalu mereka mencoba untuk ditanam. Dari akarnya itu dibawa pulang lalu ditanam di pekarangan-pekarangan gitu. Ternyata bisa, bisa tumbuh dan bagus, sehingga dikembangkan,” jelasnya.

Modal awal untuk budidaya semanggi terbilang sangat terjangkau, bahkan nyaris tanpa biaya. Bibit akar semanggi dapat diperoleh dengan cuma-cuma.

“Ya biasanya tinggal minta saja dari pinggir-pinggir pematang sawah, minta ambil akarnya, terus bawa pulang. Karena mungkin kalau mereka (semanggi) enggak diolah,” ungkapnya.

Proses penanaman semanggi pun tergolong sederhana. Akar semanggi ditanam dengan jarak sekitar satu meter karena sifatnya yang akan tumbuh menyebar. Tanaman ini idealnya tumbuh di tanah dengan kadar air tinggi, sehingga tidak memerlukan penyiraman harian jika tanah tetap lembap.

Sekitar satu bulan setelah penanaman, daun semanggi mulai terlihat menyatu dan siap dipanen. Proses panen hanya mengambil bagian daunnya, sementara akarnya dibiarkan tetap di tanah. Setelah dua minggu, semanggi dapat dipanen kembali.

“Nanti setelah itu bakal dipanen, diambil daunnya, akarnya dibiarkan. Setelah dua minggu nanti bisa dipanen lagi,” ujarnya.

Untuk mengoptimalkan hasil panen, petani biasanya tidak memanen seluruh lahan sekaligus. Panen dilakukan per petak, sehingga memungkinkan adanya siklus panen yang berkelanjutan.

“Jadi kalau dua minggu sekali dipanen itu kan di satu titik, satu petak saja toh. Jadi kalau satu lahan lagi panen semua ya bisa tiap hari panen,” terangnya.

Pemanfaatan Lahan Kosong untuk Budidaya Semanggi

Di tengah hiruk pikuk kota metropolitan Surabaya yang dipenuhi gedung pencakar langit dan permukiman padat, lahan-lahan kosong justru dimanfaatkan warga Kampung Semanggi untuk aktivitas budidaya.

Saat ini, total luas lahan yang ditanami semanggi mencapai 3 hektare, yang tersebar di antara 35 petani. Lahan terluas berada di wilayah RW 1 dan RW 9, yang merupakan tanah aset kota, sementara di area kampung mayoritas adalah tanah perorangan.

“Tapi yang paling luas ada di wilayah RW 1 sama RW 9 karena di tanah sana tanah aset kota. Kalau yang di kampung ini tanah-tanah perorangan,” ucapnya.

Advertisement

Jumlah semanggi yang berhasil dipetik dalam satu kali panen bervariasi, mulai dari 3, 5, hingga 20 kilogram, tergantung pada luasan lahan yang dikelola. Keunggulan semanggi adalah pertumbuhannya yang tidak bergantung pada musim. Selama kadar air tanah tetap tinggi, tanaman ini dapat terus tumbuh subur.

Namun, musim kemarau berkepanjangan yang menyebabkan tanah mengering dapat mematikan tanaman semanggi. Meskipun demikian, jika tanah kembali tergenang air selama dua hingga tiga hari, semanggi berpotensi tumbuh kembali.

“Tapi, kalau yang pengairannya bagus, airnya enggak pernah habis ya enggak berpengaruh,” ujarnya.

Sebaliknya, saat musim hujan tiba dan lahan pertanian tergenang air berlebihan, semanggi juga dapat mati. Namun, sebagai tanaman liar, semanggi memiliki kemampuan cepat tumbuh dan pulih.

“Mungkin karena tanaman liar jadi cepat tumbuh dan pulihnya, tergenang dua sampai tiga hari, rusak, dibiarkan saja tumbuh sendiri,” tuturnya.

Salah satu tantangan dalam budidaya semanggi adalah pencegahan serangan wereng, hama kecil yang dapat memusnahkan satu lahan dalam sekejap. Meskipun demikian, lahan yang terserang wereng biasanya akan kembali tumbuh setelah dibiarkan selama satu bulan.

Diversifikasi Produk Olahan Semanggi

Semanggi yang telah dipanen kemudian didistribusikan kepada para pedagang untuk diolah menjadi berbagai jenis produk. Terdapat beragam cara pengolahan, mulai dari direbus segar, dialumkan, hingga dikeringkan bagi hasil panen yang berlebih.

“Terus nanti masing-masing pedagang punya cara beda-beda, misalnya ada yang posisi segar itu langsung direbus, ada yang dialumkan dulu, Biasanya kalau yang dikeringkan itu yang kelebihan panen,” ucapnya.

Semanggi kering memiliki daya simpan hingga enam bulan. Untuk semanggi segar, harga jualnya berkisar antara Rp 20.000 hingga Rp 25.000 per kilogram.

Kini, olahan semanggi dari Kampung Semanggi semakin beragam. Selain untuk pecel semanggi, tanaman ini juga diolah menjadi keripik, stik semanggi, serta kue kering seperti nastar dan putri salju.

Produksi semanggi tidak hanya dipasarkan di berbagai kota di Indonesia, tetapi juga telah merambah pasar ekspor ke Australia. Saat ini, terdapat total 120 pedagang yang terlibat, baik yang menjual pecel semanggi secara keliling maupun yang mengolahnya menjadi produk di industri rumahan masing-masing.

“Kita juga total sekarang ada 120 pedagang, mulai yang dijual keliling jadi pecel semanggi atau dibuat produk olahan di home industry masing-masing,” sebutnya.

Suparmo menambahkan, budidaya semanggi bukan hanya sekadar aktivitas menanam dan memanen, melainkan juga sarana pemberdayaan ekonomi dari hasil bumi lokal. Hal ini sekaligus mengenalkan keunikan daerah dan menjadikan apa yang dulunya dianggap sampah menjadi simbol sebuah kota.

“Yang menjadi pertanyaan besar bagi kami, orang tua kami dulu bisa menentukan memilih tumbuhan gulma sebagai komoditas ekonomi. Ini yang luar biasa,” tutupnya.

Advertisement