SEMARANG, KOMPAS.com — Achmad Sutar, 63 tahun, berdiri di depan sebuah koper yang telah disiapkan di rumah sederhananya di pesisir Tambak Lorok, RT 7 RW 14, Kota Semarang. Ia akan segera menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci, sebuah niat yang bukan sekadar keinginan, melainkan titik balik dari masa lalu yang ia akui kelam.
“Dulu saya rusak, saya mikir besok saya mau jadi apa,” ujar Sutar, mengenang kegelisahan yang mendorongnya untuk berubah. Dari kesadaran itu, ia membulatkan tekad untuk menata hidup, bekerja lebih keras, dan mengarahkan tujuannya pada ibadah.
Latar belakang ekonomi Sutar tidaklah mapan. Selama bertahun-tahun, ia mengandalkan penghasilan dari usaha tambak di kawasan pesisir dan pekerjaan sebagai pemborong bangunan. Dari kedua sumber inilah, ia mulai menyisihkan sebagian rezekinya sedikit demi sedikit demi mewujudkan impian berhaji.
“Kalau ada uang, saya simpan. Tidak tentu, kadang Rp 500 ribu, kadang Rp 1 juta,” kata Sutar saat ditemui di kediamannya pada Selasa (21/4/2026).
Sutar mengaku memulai tabungannya sejak tahun 2012. Uang yang terkumpul itu ia gunakan untuk mengambil nomor porsi haji, dan secara bertahap melunasinya seiring berjalannya waktu.
Perjalanan Sendirian Menuju Tanah Suci
Setelah 14 tahun menanti, panggilan haji akhirnya datang. Namun, kebahagiaan itu harus diiringi duka mendalam. Awalnya, Sutar berencana berangkat bersama sang istri, yang juga ikut menabung untuk ibadah tersebut. Takdir berkata lain, sang istri meninggal dunia pada Bulan Ramadhan tahun ini.
“Seharusnya berangkat bareng,” ucapnya lirih, kini harus menapaki perjalanan spiritual itu seorang diri.
Saat ini, Sutar sudah tidak aktif bekerja, ia telah berhenti dari aktivitas tambak dan proyek bangunan sekitar sepuluh tahun terakhir. Namun, dari hasil kerja kerasnya di masa lalu itulah, impian berhaji kini dapat terwujud.
Meskipun hidup sederhana dan tidak memiliki anak kandung, Sutar tetap mendapat dukungan dari keluarga. Dua orang anak angkatnya turut membantunya, termasuk dalam persiapan keberangkatan.
“Yang bantu saya itu anak angkat saya,” tuturnya.
Tak ada persiapan mewah yang ia lakukan. Bagi Sutar, yang terpenting adalah kesiapan hati, mental, dan fisik.
“Yang penting baju bersih, mental siap,” katanya.
Ia pun tak gentar menghadapi berbagai isu global, termasuk potensi konflik di Timur Tengah.
“Kalau sudah dipanggil, ya berangkat. Mati hidup saya serahkan ke Allah,” ujarnya mantap, menunjukkan keyakinan penuhnya.






