Properti

Bangkit dari Sengketa dengan China, Apartemen Indonesia 1 Dibuka 2029

Advertisement

JAKARTA, KOMPAS.com – Proyek pembangunan gedung pencakar langit kembar Indonesia 1 di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, diproyeksikan rampung dan mulai beroperasi pada tahun 2029. Pembangunan yang sempat terhenti akibat sengketa berkepanjangan antara Media Group dan China Sonangol ini kini memasuki tahap akhir.

Gedung setinggi 303 meter tersebut tidak hanya akan menyediakan ruang perkantoran dan ritel, tetapi juga 140 unit apartemen mewah yang diharapkan dapat menambah pasokan hunian vertikal di kawasan strategis Jakarta Pusat.

Ferry Salanto, Head of Research Colliers Indonesia, menilai meskipun pasokan baru akan segera hadir, pasar apartemen di Jakarta masih menghadapi tantangan dalam hal daya serap. “Secara keseluruhan, pasar apartemen Jakarta masih berada dalam fase pemulihan yang lambat. Pengembang kini lebih berhati-hati dalam menentukan waktu peluncuran proyek baru untuk memastikan unit mereka terserap oleh pasar yang kian selektif,” ujar Ferry dalam laporan Colliers Quarterly Q1-2026, dikutip Kompas.com, Senin (20/4/2026).

Perjalanan Berliku Proyek Rp 8 Triliun

Perjalanan Indonesia 1, proyek dengan nilai investasi mencapai Rp 8 triliun yang groundbreaking-nya diresmikan oleh Presiden Joko Widodo, sejatinya tidak berjalan mulus. Proyek ini awalnya merupakan kolaborasi antara Media Group, melalui PT Surya Indonesia Satu Properti, dengan raksasa energi asal China, China Sonangol, yang membentuk perusahaan patungan bernama China Sonangol Media Investment (CSMI).

Konflik muncul ketika Media Group menuding adanya wanprestasi dari pihak China Sonangol terkait kepemilikan saham dan komitmen investasi yang tidak dipenuhi. Sengketa ini bahkan berujung pada proses hukum dan menyebabkan pembangunan gedung pencakar langit tersebut terhenti total selama beberapa tahun.

Advertisement

Kondisi fisik bangunan yang terbengkalai di jantung ibu kota menjadi pemandangan kontras dengan ambisi awal proyek untuk menampilkan kemewahan dan teknologi mutakhir. Setelah melalui negosiasi dan restrukturisasi kepemilikan yang kompleks, kendali proyek akhirnya beralih, dan masuknya investor baru memberikan angin segar bagi kelanjutan konstruksi yang kini telah mencapai tahap akhir.

Target Operasional 2029 dan Potensi Pasar

Dengan meredanya sengketa, fokus pembangunan kini beralih pada penyelesaian fisik dan fasilitas pendukung. “Sebanyak 140 unit apartemen yang disiapkan dirancang untuk menyasar segmen pasar kelas atas,” jelas Ferry.

Lokasinya yang sangat dekat dengan Stasiun MRT Bundaran HI menjadi salah satu nilai jual utama yang diharapkan mampu menarik minat calon penghuni yang mengutamakan kemudahan aksesibilitas. Pengoperasian pada tahun 2029 dinilai sebagai momentum yang tepat, mengingat proyeksi pemulihan ekonomi dan stabilitas politik yang diharapkan semakin matang.

Meskipun demikian, tantangan persaingan dengan proyek-proyek gedung baru lainnya di kawasan Sudirman-Thamrin tetap menjadi faktor yang perlu diperhitungkan oleh pengembang. Beberapa proyek kompetitor yang juga hadir di kawasan tersebut antara lain Two Sudirman, kolaborasi antara Taspen Properti, Mitsubishi Estate, dan Benhil Property, serta Two Senopati Tower 1 yang dikembangkan oleh Asiana Group di jantung bisnis Sudirman Central Business District (SCBD).

Advertisement