Global

Alasan Trump Perpanjang Gencatan Senjata Iran, Kenapa Berubah Pikiran Lagi?

Advertisement

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran, dengan alasan untuk memberikan ruang bagi kelanjutan perundingan damai. Keputusan ini diambil menjelang berakhirnya tenggat waktu jeda pertempuran selama dua minggu pada Selasa (21/4/2026) malam waktu AS.

Trump menyatakan bahwa perpanjangan gencatan senjata tersebut merupakan permintaan dari mediator Pakistan. Selain itu, langkah ini juga bertujuan memberi waktu bagi Iran, yang menurutnya masih “terpecah” dalam merumuskan proposal perdamaian.

Meskipun demikian, Trump menegaskan bahwa blokade Amerika Serikat ke pelabuhan Iran akan tetap diberlakukan sebagai bentuk tekanan terhadap Teheran. “Saya… mengarahkan militer kita untuk melanjutkan blokade, dan dalam semua hal lainnya, tetap siap dan mampu. Oleh karena itu, gencatan senjata akan diperpanjang sampai proposal mereka (Iran) diajukan,” tulis Trump di media sosial, seperti dikutip dari AFP.

Sikap ini menunjukkan perubahan dari pernyataan Trump sebelumnya, yang sempat mengindikasikan tidak akan memperpanjang gencatan senjata dan bahkan mengancam akan melanjutkan pengeboman.

Ketidakpastian Akhir Gencatan Senjata

Sebelum pengumuman perpanjangan, sempat muncul ketidakpastian mengenai waktu pasti berakhirnya gencatan senjata. Pakistan menyebut batas waktunya adalah Selasa pukul 23.50 GMT (Rabu, 6.50 WIB), sementara Iran menyatakan berakhir pukul 00.00 GMT (Rabu, 7.00 WIB). Namun, tidak ada laporan aktivitas militer baru yang terjadi saat tenggat waktu tersebut terlewati.

Hingga kini, Iran belum memberikan tanggapan resmi terkait keputusan perpanjangan dari Washington. Di sisi lain, masa depan perundingan damai yang difasilitasi Pakistan masih belum jelas akibat perubahan sikap dari Amerika Serikat.

Pejabat Gedung Putih mengonfirmasi bahwa Wakil Presiden JD Vance tidak akan menghadiri perundingan di Pakistan sesuai rencana semula. Penundaan negosiasi ini dilakukan sambil menunggu Iran mengajukan proposal resmi.

Advertisement

“Setiap pembaruan lebih lanjut tentang pertemuan tatap muka akan diumumkan oleh Gedung Putih,” ujar pejabat tersebut.

Situasi di Islamabad terpantau menunjukkan kesiapsiagaan tinggi. Polisi dan tentara bersenjata lengkap menjaga kawasan pemerintahan kota, meskipun tidak ada jadwal pasti pertemuan antara Iran dan Amerika Serikat.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyampaikan apresiasi kepada Trump atas keputusan memperpanjang gencatan senjata. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres juga menyambut baik langkah tersebut sebagai peluang untuk meredakan ketegangan.

Namun, di tengah upaya diplomasi, Iran tetap mengeluarkan peringatan keras menjelang berakhirnya gencatan senjata pertama. Teheran mengancam akan menyerang fasilitas produksi minyak di negara-negara Teluk jika wilayah mereka digunakan untuk menyerang Iran.

“Negara-negara tetangga di selatan harus tahu bahwa jika letak geografis dan fasilitas mereka digunakan untuk kepentingan musuh dalam menyerang bangsa Iran, mereka harus mengucapkan selamat tinggal pada produksi minyak di Timur Tengah,” kata komandan pasukan udara Garda Revolusi Iran, Majid Mousavi, seperti dikutip kantor berita Fars.

Advertisement