Perokok Pasif Sekarang Hadapi Resiko Diabetes

Reporter : | 21 Sep, 2015 - 3:47 pm WITA

Perokok Pasif, Diabetes, efek asap rokok

(foto: pixabay)

ManadoToday – Para ahli kesehatan telah berkali-kali memperingatkan tentang efek berbahaya asap rokok bagi non-perokok. Sebuah penelitian baru telah mengaitkan paparan asap rokok dengan risiko mengembangkan diabetes.

Tim peneliti melakukan analisis terhadap 88 studi yang telah dilakukan sebelumnya untuk memastikan risiko asap rokok bagi non-perokok. Asap rokok dapat meningkatkan risiko mengembangkan diabetes sebesar 21 persen menjadi 57 persen, menurut tim peneliti.

Asap rokok dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2 pada individu yang secara teratur terpapar asap rokok, penelitian baru yang dilakukan oleh tim peneliti internasional melaporkan. Bagi orang-orang yang terpapar asap rokok ringan, risiko pengembangan diabetes tipe 2 adalah 21 persen lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tidak terpapar asap rokok.

Risiko diabetes lebih tinggi sebesar 57 persen bagi orang-orang yang terpapar asap rokok berat. Risiko meningkat 34 persen dalam kasus paparan moderat asap rokok.

Frank Hu, MD seorang profesor nutrisi dan epidemiologi di Harvard TH Chan School of Public Health yang merupakan anggota tim peneliti mengatakan dikutip dari nycity.today, “upaya kesehatan masyarakat untuk mengurangi jumlah perrokok akan memiliki dampak besar pada beban global diabetes tipe 2.”

Temuan penelitian ini diterbitkan dalam jurnal The Lancet Diabetes & Endocrinology. Proyek penelitian ini memeriksa hasil dari 88 studi yang dilakukan dan melibatkan lebih dari enam juta orang.

Anggota tim lain, An Pan, PhD, profesor epidemiologi di School of Public Health, Tongji Medical College, Huazhong University of Science and Technology di Wuhan, Hubei, Cina mengatakan untuk perokok aktif, 11,7 persen kasus terjadi pada laki-laki dan 2,4 persen di kalangan perempuan. Risiko pengembangan diabetes berkurang setelah perokok berhenti. Pan menambahkan, “Meskipun sudah ada upaya global untuk memerangi epidemi tembakau, penggunaan rokok tetap menjadi penyebab utama mortalitas dan morbiditas di seluruh dunia. ”

Tim peneliti mendesak agar larangan merokok di tempat umum harus dilakukan secara ketat karena banyak orang yang tidak merokok tapi menghadapi risiko yang lebih tinggi dari banyak masalah kesehatan.

Baca Juga :

Leave a comment