Regional

Viral, Ambulans di Yogya Jadi Korban Order Fiktif yang Mengaku dari Pinjol

Advertisement

YOGYAKARTA, Kompas.com – Sebuah layanan ambulans di Yogyakarta menjadi korban aksi teror berupa pesanan fiktif yang diduga dilakukan oleh pihak terkait pinjaman online (pinjol). Peristiwa ini terjadi saat ambulans diminta menjemput pasien di kawasan Caturtunggal, Depok, Sleman, namun setibanya di lokasi, permintaan tersebut tidak ada.

Kejadian ini terekam dalam sebuah video yang kemudian viral di media sosial. Dalam unggahan tersebut, disebutkan bahwa korban dari pesanan fiktif ini adalah ambulans Mer-C Jogja. Sopir ambulans sempat mencoba menghubungi nomor pemesan fiktif tersebut melalui sambungan telepon.

Dalam percakapan telepon yang terekam, pihak pemesan mengaku berasal dari sebuah aplikasi pinjaman online. Sopir ambulans bahkan sempat memberikan peringatan agar tidak mempermainkan layanan kesehatan yang vital bagi masyarakat.

Tulisan dalam unggahan media sosial itu menyoroti keresahan yang ditimbulkan oleh oknum operator pinjol. “Mohon perhatian khususnya untuk warga Sleman dan pihak berwajib. Aksi teror dari oknum operator pinjol kini sudah sangat meresahkan dan kelewat batas,” demikian bunyi keterangan dalam unggahan tersebut.

Lebih lanjut, disebutkan bahwa praktik ini tidak hanya terbatas pada pemesanan makanan, tetapi kini sudah merambah ke penyalahgunaan layanan darurat seperti ambulans dan pemadam kebakaran (Damkar) Sleman untuk pesanan fiktif. Kejadian serupa diklaim sudah beberapa kali dialami, dan dianggap bukan sekadar iseng, melainkan telah mengganggu fasilitas publik yang menyangkut keselamatan banyak orang.

“Jangan sampai ada pihak lain yang dirugikan atau layanan emergency terhambat karena ulah oknum ini,” tegas tulisan dalam keterangan unggahan, mengingatkan potensi dampak buruk dari tindakan tersebut.

Kronologi Kejadian

Admin ambulans Mer-C Yogya, Aziz Apri Nugroho, membenarkan adanya peristiwa pesanan fiktif tersebut saat dikonfirmasi. Kejadian bermula sekitar pukul 14.30 WIB ketika ada panggilan telepon yang meminta penjemputan pasien di sebuah lokasi.

“Ditelepon sama itu nomor itu, suruh mendatangi lokasi, nanti dikirim lokasinya,” ujar Aziz Apri Nugroho saat dihubungi, Rabu (22/04/2026).

Dalam percakapan telepon, pemesan menyebutkan nama pasien dan mengklaim kondisinya darurat, serta meminta agar pasien segera dibawa ke rumah sakit.

“Terus ngomong emergency pasiennya itu. Emergency suruh membawa ke Rumah Sakit Panti Rapih,” ungkapnya.

Tanpa ragu, ambulans segera bergerak menuju alamat yang diberikan, didorong oleh niat untuk memberikan pertolongan.

“Ditelepon itu kan kami langsung berangkat. Ya memang niatnya menolong,” tuturnya.

Advertisement

Lokasi Fiktif dan Pengakuan Pemesan

Namun, sesampainya di lokasi yang dituju, ternyata informasi tersebut fiktif. Berdasarkan keterangan warga sekitar, nama pasien yang disebutkan oleh pemesan fiktif tersebut sudah pindah rumah tiga tahun lalu.

Menyadari situasi tersebut, sopir ambulans berupaya menghubungi kembali nomor pemesan, namun tidak berhasil menemukan pasien di lokasi.

“Terus kan dicari, dicari kok nggak ada. Lha terus dikasih tahu sama warga itu (sudah pindah tiga tahun lalu). Terus di VC (video call) juga nggak ngangkat,” ungkapnya.

Saat akhirnya berhasil terhubung melalui telepon, pihak pemesan mengakui bahwa mereka adalah dari pinjaman online.

“Ya terus (saat mengangkat telepon) ngasih keterangan seperti itu. Iya, mengaku (dari pinjol),” imbuhnya.

Aziz menambahkan, berdasarkan informasi dari warga, pada siang hari yang sama, petugas pemadam kebakaran (Damkar) juga mendatangi lokasi yang sama karena laporan fiktif.

“Ternyata warga sekitar (memberi informasi) tadi Damkar di situ. Damkar itu ada laporan, saya kurang tahu kalau yang Damkar, tadi laporan ular,” ungkapnya.

Harapan Pengusutan

Aziz mengungkapkan bahwa ini bukan pertama kalinya ambulans Mer-C Yogya mengalami kejadian serupa. Pengalaman pertama kali terjadi sekitar tiga tahun lalu, disusul kejadian kedua dua tahun lalu.

“Yang kedua kemarin di dua tahun yang lalu itu,” ucapnya.

Melalui unggahan di media sosial, Aziz berharap pihak berwenang dapat segera mengusut modus pesanan fiktif ini. Ia menekankan bahwa praktik tersebut sangat meresahkan dan berpotensi menghambat layanan ambulans kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan pertolongan darurat.

“Iya (harapanya pihak berwenang mengusut). Ya soalnya tidak hanya sekali, dua kali, sudah tiga kali ini,” pungkasnya.

Advertisement