Otomotif

Tidur di Mobil Pakai AC: Berapa Lama Amannya? Ini Kata Pakar

Advertisement

JAKARTA, KOMPAS.com – Beristirahat di dalam mobil, terutama saat perjalanan jauh, seringkali menjadi solusi praktis bagi para pengemudi. Demi kenyamanan dan rasa aman, tak jarang mereka memilih untuk menyalakan mesin dan sistem pendingin udara (AC) sambil menutup rapat seluruh pintu dan jendela. Namun, pertanyaan krusial muncul: berapa lama sebenarnya batas aman untuk tidur di dalam mobil dengan AC tetap menyala?

Menurut Gunawan, seorang pemilik usaha bengkel AC mobil, Premium99 AC, pada prinsipnya tidak ada patokan waktu pasti yang dapat dikategorikan sebagai aman sepenuhnya ketika seseorang tertidur di dalam mobil dengan mesin menyala dalam kondisi kabin tertutup rapat. “Tidak ada durasi yang bisa dibilang benar-benar aman, karena risikonya bukan hanya soal waktu, tetapi juga kondisi mobil, lingkungan sekitar, dan sirkulasi udara di kabin,” ungkap Gunawan kepada Kompas.com pada Selasa (21/4/2026).

Gunawan menjelaskan, selama mesin mobil beroperasi, terjadi produksi gas buang yang salah satunya adalah karbon monoksida (CO). Gas ini sangat berbahaya apabila sampai bocor dan masuk ke dalam kabin. Dalam situasi tertentu, seperti adanya kebocoran pada sistem knalpot atau jika kendaraan diparkir di area yang minim ventilasi, gas CO ini berpotensi terakumulasi tanpa disadari oleh pengemudi atau penumpang.

Lebih lanjut, ia menyoroti kesalahpahaman umum yang menganggap penggunaan AC akan menjamin pasokan oksigen tetap aman. Padahal, sistem AC pada mobil pada umumnya berfungsi untuk mensirkulasikan udara yang sudah ada di dalam kabin, bukan secara aktif memasok oksigen baru dari luar. “Kalau mobil dalam kondisi diam dan tertutup, AC itu lebih banyak memutar udara yang ada di dalam. Jadi kalau ada kontaminasi, risikonya tetap ada,” tegasnya.

Advertisement

Rekomendasi Keamanan

Jika terpaksa harus beristirahat di dalam mobil, Gunawan menyarankan agar durasinya dibatasi, idealnya tidak lebih dari 1 hingga 2 jam. Selama periode istirahat tersebut, penting untuk tetap memperhatikan ventilasi udara. Membuka sedikit celah pada jendela dapat membantu pertukaran udara dengan lingkungan luar, meskipun cara ini tidak sepenuhnya menghilangkan potensi risiko.

Selain itu, Gunawan menekankan pentingnya memastikan kendaraan diparkir di area yang terbuka dan memiliki sirkulasi udara yang baik, bukan di dalam ruang tertutup seperti garasi atau area parkir basement. Kondisi mesin mobil dan sistem pembuangannya juga harus dipastikan dalam keadaan prima untuk meminimalkan risiko kebocoran gas berbahaya.

Sebagai penegasan, Gunawan menyatakan bahwa istirahat di luar kendaraan tetap merupakan pilihan paling aman, terutama jika membutuhkan waktu tidur yang lebih lama. Dengan demikian, risiko terpapar gas berbahaya maupun penurunan kualitas udara di dalam kabin dapat dihindari secara maksimal.

Advertisement