Banyak orang mendapati diri mereka meninggalkan supermarket dengan keranjang penuh barang, padahal niat awalnya hanya untuk membeli beberapa kebutuhan pokok. Kebiasaan berbelanja di luar daftar ini ternyata sangat umum, bahkan ketika rencana belanja sudah dibuat dengan cermat.
Psikolog di Kaiser Permanente, Jackie Shiels, PsyD, menjelaskan bahwa berbagai faktor psikologis dan emosional yang sering kali tidak disadari memainkan peran penting dalam mendorong perilaku impulsif saat berbelanja. Salah satu pemicu utama adalah berbelanja dalam kondisi lapar.
“Berbelanja saat lapar adalah salah satu alasan utama kita berbelanja berlebihan,” kata Shiels, mengutip dari Real Simple.
Penyebab dan Solusi Belanja Impulsif di Supermarket
Faktor Pemicu Belanja Impulsif
Ketika seseorang berbelanja dengan perut kosong, fokus utama otak cenderung beralih pada pemenuhan rasa kenyang yang segera. Hal ini dapat menyebabkan pengabaian daftar belanja yang sudah disusun.
“Kita mungkin mengesampingkan daftar belanjaan dan membeli makanan secara impulsif,” ujar Shiels.
Terapis kesehatan mental berlisensi, Kiki Jacobson, LCMHCA, turut mengamini temuan tersebut. Menurutnya, rasa lapar dapat menguras sumber daya kognitif yang krusial untuk regulasi diri. Akibatnya, segala jenis makanan yang terlihat menjadi sangat menggoda.
Selain rasa lapar, tingkat stres dan kecemasan harian juga berkontribusi signifikan terhadap perilaku belanja impulsif. Pembelian barang mewah atau sekadar camilan manis saat merasa lelah atau sedih dapat memberikan suntikan dopamin instan ke otak.
Kadang kala, keranjang belanja yang penuh dapat memberikan ilusi kendali atas kehidupan yang terasa kacau. “Otak suka menciptakan kepastian dan prediktabilitas karena itulah salah satu cara otak terhubung untuk membuat kamu tetap aman,” jelas Jacobson.
Trauma dan Warisan Kecemasan
Pengalaman masa lalu, seperti melihat rak-rak kosong selama puncak pandemi atau krisis pangan sebelumnya, dapat secara tidak sadar memicu mentalitas penimbunan. Hal ini mendorong obsesi untuk membeli selama barang masih tersedia.
Generasi yang pernah mengalami masa sulit ekonomi juga dapat secara tidak sengaja mewariskan rasa cemas ini kepada keturunannya. “Secara psikologis, keyakinan bahwa ‘lebih baik memiliki lebih daripada tidak cukup’ itu nyata,” tegas Shiels.
Daya Tarik Diskon dan Dopamin Instan
Menurut ilmuwan perilaku dan pendiri Buyer Behavior Inc., Kieva Hranchuk, PhD, diskon sering kali menjadi jebakan visual yang sangat efektif bagi konsumen. Otak cenderung terpaku pada angka yang lebih tinggi saat melihat label “harga obral” dibandingkan harga asli.
“Diskon ini terasa seperti sebuah kemenangan, jadi kita membenarkan membeli lebih banyak untuk ‘memaksimalkan diskon’,” ungkap Hranchuk.
Proses pembelian makanan juga mengaktifkan pelepasan dopamin, yang memberikan sensasi “hadiah” dan antisipasi kesenangan saat makanan tersebut dikonsumsi. Namun, kepuasan instan ini sering kali mengalahkan pertimbangan rasional mengenai anggaran belanja.
Pengaruh Kafein
Konsumsi minuman berkafein sebelum berbelanja ternyata dapat berdampak negatif pada keputusan pembelian. Kafein, sebagai stimulan, meningkatkan energi, kewaspadaan, dan dopamin, yang dapat membuat seseorang lebih berorientasi pada penghargaan.
“Keadaan yang meningkat itu sering kali meningkatkan impulsif, membuat belanja terasa lebih menarik,” ujar Jacobson.
Cara Mencegah Belanja Impulsif
Salah satu cara efektif untuk mencegah pembelian berulang yang tidak perlu adalah dengan memeriksa stok bahan makanan di rumah sebelum berangkat berbelanja. Jacobson menyarankan untuk selalu meninjau isi kulkas dan dapur agar pengeluaran bisa lebih terarah dan efisien.
Untuk menghentikan kebiasaan impulsif, disarankan untuk memastikan perut terisi sebelum pergi ke supermarket. Setelah itu, susun daftar belanja yang ketat.
Hranchuk menambahkan, penting untuk membiasakan diri melakukan “berhenti dan jeda” sebelum memasukkan barang ke dalam keranjang. “Jeda ini mengganggu pembelian impulsif, dan memberi otakmu waktu untuk beralih dari keputusan otomatis yang didorong oleh penghargaan ke pilihan yang lebih disengaja,” pungkasnya.






