Lifestyle

Bukan Hanya Mengurus Bayi, 12 Hal Ini Wajib Dilakukan Ibu Usai Melahirkan

Advertisement

Masa pascapersalinan seringkali digambarkan sebagai momen kebahagiaan penuh, namun di balik itu, tubuh seorang ibu tengah menjalani proses pemulihan intensif setelah melalui ujian fisik yang luar biasa berat. Menyeimbangkan rasa sakit, tanggung jawab baru sebagai ibu, dan kurang tidur menjadi tantangan tersendiri. Tubuh membutuhkan perhatian ekstra selama beberapa minggu pertama untuk kembali pulih, baik setelah persalinan normal maupun caesar.

Dokter kandungan dan para ahli kesehatan menekankan pentingnya sejumlah hal yang wajib dilakukan ibu pascapersalinan guna memastikan pemulihan berjalan mulus dan terhindar dari komplikasi. Mengutip informasi dari Parents, berikut adalah panduan yang perlu diperhatikan.

Ragam Hal yang Wajib Dilakukan Ibu Pascamelahirkan

Pemulihan pascapersalinan membutuhkan perhatian detail pada berbagai aspek, mulai dari fisik, emosional, hingga sosial.

1. Menunda Aktivitas Seksual dan Memasukkan Benda Asing ke Vagina

Rahim membutuhkan waktu sekitar enam minggu untuk kembali ke ukuran semula. Selama periode ini, sangat penting untuk menghindari memasukkan apa pun ke dalam vagina, termasuk tampon atau menstrual cup, guna mencegah risiko infeksi.

“Ini karena leher rahim sedikit terbuka setelah persalinan, bahkan jika kamu menjalani operasi caesar, dan bakteri dapat menyebar ke rahim serta menyebabkan infeksi,” jelas dokter kandungan dan direktur medis di Pediatrix Medical Group, Suzy Lipinski, MD.

Selain itu, hubungan seks penetratif juga sebaiknya ditunda hingga tubuh benar-benar pulih.

2. Tidak Memforsir Fisik

Memaksakan diri melakukan pekerjaan rumah tangga berat atau olahraga intens pascapersalinan dapat berdampak buruk pada pemulihan.

“Saya merekomendasikan peregangan lembut dan berjalan untuk aktivitas fisik. Ini membantu penyembuhan dan tidak membuat otot dasar panggul serta seluruh tubuh tegang,” kata dokter kandungan di Memorial Hermann, Rikki Baldwin, DO.

3. Menjauhi Asap Rokok

Paparan asap rokok merupakan ancaman serius bagi bayi baru lahir. Dokter Lipinski menegaskan bahwa ini adalah satu-satunya faktor risiko yang dapat diubah untuk SIDS (sindrom kematian bayi mendadak).

Lebih lanjut, dr. Baldwin menambahkan bahwa asap rokok dapat menghambat perkembangan paru-paru dan otak bayi yang masih dalam tahap krusial.

4. Tidak Melewatkan Jam Makan

Pola makan sehat dan seimbang memegang peranan penting dalam proses pemulihan. Dokter kandungan di Rush University System for Health, Caroline Kuhn, MD, menyarankan asupan nutrisi yang mencukupi.

Menu makanan sebaiknya kaya protein untuk memperbaiki jaringan tubuh, zat besi untuk mengganti kehilangan darah, serta serat untuk mencegah sembelit pascapersalinan.

5. Tidak Mengabaikan Depresi Pascamelahirkan

Kondisi baby blues yang umum terjadi akibat lonjakan hormon dapat berkembang menjadi depresi pascapersalinan yang lebih serius. Asisten profesor di TCU Burnett School of Medicine sekaligus dokter kandungan, Melanie Lagomichos, MD, mengingatkan tanda-tanda seperti kesedihan ekstrem, kesulitan tidur, hingga keinginan menyakiti diri sendiri.

“Cobalah untuk tidak mengabaikan gejala awal depresi pascapersalinan ini,” tegas dia.

Advertisement

6. Menerima Bantuan Orang Lain

Masa pascapersalinan adalah waktu yang penuh tekanan, dan dukungan dari teman serta keluarga sangatlah krusial. Dokter Lipinski mengimbau para ibu untuk tidak ragu meminta bantuan saat dibutuhkan.

“Ini adalah masa yang penuh tekanan, dan kamu akan membutuhkan dukungan teman serta keluarga,” ucap dia.

Membiarkan orang terdekat membantu urusan rumah tangga atau menjaga bayi saat ibu beristirahat dapat meringankan beban.

7. Memprioritaskan Perawatan Diri

Meskipun tugas merawat bayi terasa tak ada habisnya, ibu juga perlu peka terhadap sinyal tubuh yang membutuhkan jeda dan istirahat.

“Tidak masalah jika semuanya tidak sempurna. Tubuhmu perlu pulih, dan kamu harus menjaga diri sendiri,” ujar dr. Lipinski.

8. Tidak Mengangkat Beban Berat

Aktivitas mengangkat beban berat harus dihindari pascapersalinan. Menurut dr. Lagomichos, hal ini berisiko memicu hernia atau merobek jahitan yang belum kering sempurna.

“Saya menyarankan pasien menghindari mengangkat apa pun yang lebih dari 6 kilogram, atau sekitar berat bayimu di car seat-nya,” tutur dia.

9. Menggunakan Alat Kontrasepsi

Hubungan seksual sebaiknya dilakukan minimal enam minggu pascapersalinan dan wajib didampingi alat kontrasepsi, meskipun ibu sedang menyusui.

“Kesalahpahaman yang umum adalah kamu tidak akan bisa hamil saat menyusui,” ungkap dr. Lagomichos.

Faktanya, kehamilan tetap bisa terjadi meskipun sedang menyusui. Dokter Baldwin juga menekankan risiko kehamilan yang terlalu berdekatan.

10. Mewaspadai Gejala Berbahaya

Meskipun rasa nyeri pascapersalinan wajar terjadi, ibu perlu waspada terhadap tanda-tanda bahaya. Dokter Lagomichos menyarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter jika mengalami perdarahan sangat deras, demam tinggi, nyeri dada intens, atau tekanan darah yang melonjak mendadak.

11. Berhenti Membandingkan Diri

Media sosial seringkali menampilkan standar pengasuhan atau bentuk tubuh pascapersalinan yang tidak realistis. Ibu sebaiknya menghindari jebakan perbandingan ini, yang dapat memicu rasa cemburu dan frustrasi.

12. Merayakan Kemenangan Kecil

Setiap pencapaian, sekecil apa pun, di masa pascapersalinan layak untuk dirayakan. Mulai dari berhasil mandi dengan tenang, sesi menyusui yang lancar, hingga keberanian meminta bantuan, semua adalah bagian dari proses pemulihan yang patut dibanggakan.

Advertisement