Regional

Semarang Bakal Lebih Panas, BMKG Beri Peringatan Serius soal “El Nino Godzilla”

Advertisement

Semarang diprediksi akan mengalami musim kemarau yang lebih panas dan kering pada semester kedua tahun 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan peluang terjadinya fenomena El Nino dengan intensitas lemah hingga moderat mencapai 50-60 persen.

Fenomena ini diperkirakan akan berdampak pada perpanjangan musim kemarau dan penurunan curah hujan yang signifikan di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Jawa Tengah. Prakirawan BMKG Stamet Ahmad Yani Semarang, Ferry Oktarisa, menjelaskan bahwa istilah populer “El Nino Godzilla” bukanlah terminologi ilmiah resmi, melainkan julukan untuk El Nino yang sangat kuat atau ekstrem.

“Istilah El Nino Godzilla sebenarnya bukan istilah ilmiah resmi, tapi julukan populer untuk El Nino yang sangat kuat atau ekstrem,” ujar Ferry Oktarisa saat diwawancarai Kompas.com pada Senin (20/4/2026). Ia menambahkan bahwa El Nino sendiri adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang berpengaruh besar terhadap cuaca global.

Kemarau di Semarang Datang Lebih Cepat

Dampak nyata dari fenomena El Nino ini adalah musim kemarau yang diperkirakan akan lebih panjang dan kering. Khususnya untuk wilayah Semarang, terutama di kawasan Pantura, awal musim kemarau diprediksi akan datang lebih cepat dari jadwal normalnya.

“Sebagian wilayah Semarang, terutama wilayah Pantura, diprediksi maju satu dasarian untuk masuk musim kemarau,” ungkap Ferry.

Advertisement

Secara teknis, El Nino merupakan fase dari El Nino-Southern Oscillation (ENSO) di mana suhu permukaan laut di Samudra Pasifik menghangat di atas rata-rata. Kondisi ini menyebabkan pergeseran pusat konveksi awan ke arah timur, sehingga Indonesia cenderung mengalami kondisi kekeringan. Sebaliknya, fase La Nina justru akan membawa cuaca yang lebih basah dengan curah hujan tinggi.

Imbauan Hemat Air dan Jaga Kesehatan

Meskipun BMKG tidak merinci angka pasti rata-rata suhu udara yang akan terjadi, Ferry memastikan bahwa suhu di Semarang akan terasa jauh lebih panas dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Berdasarkan pantauan, musim kemarau di Semarang sendiri telah mulai memasuki pertengahan April 2026.

Menyikapi potensi cuaca ekstrem ini, BMKG mengimbau masyarakat untuk melakukan langkah mitigasi mandiri. Fokus utama imbauan adalah pada pengelolaan sumber daya air dan menjaga kondisi fisik.

“Diimbau agar masyarakat menghemat air dengan mempersiapkan tampungan air. Selain itu, perbanyak minum saat cuaca panas ekstrem dan hindari beraktivitas di luar ruangan pada siang hari jika tidak mendesak,” pungkas Ferry.

Advertisement