Sebanyak 21 siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) Supiturang 2, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, terpaksa mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA) berbasis komputer secara bergantian pada Senin (20/4/2026). Kondisi ini terjadi lantaran bangunan sekolah yang berlokasi di lereng Gunung Semeru itu telah lenyap diterjang erupsi dahsyat pada 19 November 2025.
Hariono, salah seorang guru SDN Supiturang 2, mengungkapkan bahwa imbas dari erupsi Semeru tahun lalu membuat puluhan siswanya harus menghadapi ujian dalam kondisi serba terbatas. Seluruh perangkat komputer dan laptop milik sekolah dilaporkan hilang saat bencana alam tersebut meluluhlantakkan kawasan Pronojiwo.
Saat ini, sebanyak 70 siswa SDN Supiturang 2, mulai dari kelas 1 hingga kelas 6, terpaksa menumpang belajar di ruang kelas Madrasah Diniyah yang berlokasi di kampung setempat. “Untuk TKA dari 21 siswa kami serba keterbatasan, perangkat kami hilang saat erupsi tahun lalu,” kata Hariono di Lumajang, Senin (20/4/2026).
Keterbatasan Perangkat dan Akses Internet
Menyiasati kondisi tersebut, sekolah telah berupaya membeli tiga unit laptop baru untuk menunjang kegiatan operasional dan pembelajaran. Namun, jumlah tersebut masih belum mencukupi untuk kebutuhan pelaksanaan TKA bagi 21 siswa kelas 6. Bahkan, dengan tambahan dua unit laptop milik pribadi para guru, puluhan siswa ini terpaksa harus dibagi dalam empat sesi ujian.
“Kami menyediakan lima laptop, jadi harus bergantian kita bagi jadi empat kali sesi,” terang Hariono.
Selain kendala perangkat, akses internet yang sulit di lereng Gunung Semeru juga menjadi tantangan tersendiri. Meskipun koneksi internet tersedia, para guru merasa khawatir jika ujian dilaksanakan serentak oleh seluruh siswa, khawatir akan terjadi hambatan.
“Akses internet ada tapi kami agak khawatir, jadi akhirnya kami bagi ke beberapa sesi,” tambahnya.
Semangat Siswa di Tengah Keterbatasan
Meskipun harus menjalani TKA dalam situasi yang tidak ideal, para siswa menunjukkan semangat belajar yang tinggi. Firda, salah seorang siswa kelas 6, mengaku tidak mengalami kendala berarti dalam mengoperasikan komputer saat ujian. Namun, ia mengakui bahwa tingkat kesulitan soal-soal yang diujikan cukup menantang.
“Bisa pakai (komputer), sudah diajari sebelumnya, yang sulit soalnya,” ujar Firda.
Sementara itu, Nita, siswa lainnya, mengungkapkan harapannya agar segera dapat kembali belajar di sekolah yang baru, sehingga proses pembelajaran dapat berjalan lebih nyaman.
“Pengennya balik ke sekolah lagi, biar belajarnya enak,” tuturnya.





