Sebanyak 2.200 bibit pohon ditanam di kawasan hutan Megamendung, Kabupaten Bogor, pada Sabtu (18/4/2026) sebagai bagian dari program reforestasi yang digagas oleh alumni Kolese Kanisius (CC) Jakarta. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara alumni CC dengan Yayasan Hutan Organik (YHO) sebagai mitra strategis dalam upaya pemulihan lingkungan.
Program yang diberi nama “Back2Nature – CCAD 2026: Engaging Canisian” ini tidak hanya fokus pada penanaman, tetapi juga penyerahan donasi sebesar Rp 225 juta. Dana tersebut dialokasikan untuk mendukung keberlanjutan program reforestasi, termasuk penanaman 1.000 tanaman keras dan 1.000 pohon kopi.
Tanaman keras dipilih untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan berfungsi sebagai cadangan air, sementara pohon kopi diharapkan dapat menjadi komoditas ekonomis yang membantu pembiayaan perawatan jangka panjang.
Dukungan Multi-Pihak
Ketua Panitia Back2Nature, Julius Mario, menjelaskan bahwa kegiatan ini terwujud berkat dukungan dari berbagai pihak. “Kegiatan ini terwujud berkat dukungan komunitas alumni; mitra swasta, yakni Solterra Solar Technology, Multikarya Asia Pasifik Raya Tbk (MKAP), PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dan beberapa pihak lain; pemerintah melalui Kementerian Kehutanan, bersama Yayasan Hutan Organik yang konsisten memulihkan kawasan hutan penyangga Jakarta,” ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (19/4/2026).
Kegiatan penanaman ini merupakan bagian dari rangkaian acara CCAD 2026 yang bertujuan untuk memperkuat ikatan persaudaraan antargenerasi alumni Kolese Kanisius sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan lingkungan.
“Melalui Back2Nature, dan kegiatan-kegiatan lain dalam CCAD 2026, kami ingin memperkuat brotherhood lintas generasi CC sekaligus menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat dan lingkungan,” ucap Rifan Oktavianus, Ketua Umum CCAD 2026.
Pendekatan Agroforestri untuk Keberlanjutan
Program reforestasi ini juga mendapatkan tambahan 200 bibit pohon dari Pusat Pengembangan Hutan Berkelanjutan, Kementerian Kehutanan RI, yang diserahkan untuk memperkaya biodiversitas di kawasan Megamendung.
Pendiri Yayasan Hutan Organik, Rosita Istiawan, menekankan pentingnya pendekatan agroforestri untuk memastikan keberlanjutan program. “Banyak program berhenti di penanaman. Kami menerapkan metode agroforestry dengan pendekatan tanam–rawat sebagai solusi problematika tersebut. Hasil panen kopi akan membantu pembiayaan perawatan, sehingga tanaman keras dapat tumbuh optimal sebagai penjaga ekologi,” tuturnya.





