Food

R.A. Kartini dan Kisahnya Sebagai Seorang Vegetarian

Advertisement

Sosok Raden Adjeng Kartini, pahlawan emansipasi wanita dan pejuang pendidikan, menyimpan sisi lain yang jarang terungkap: prinsip hidupnya sebagai seorang vegetarian. Pilihan yang terbilang visioner di awal abad ke-20 ini bukan sekadar tren, melainkan sebuah keputusan spiritual dan moral mendalam baginya.

Fakta ini terungkap melalui korespondensi Kartini dengan sahabat-sahabatnya di Belanda. Dalam suratnya kepada Ny RM Abendanon-Mandri dan suaminya tertanggal 27 Oktober 1902, saat usianya menginjak 23 tahun, Kartini mencurahkan isi hatinya mengenai perubahan pola makannya.

“Kami sekarang pantang makan daging. Sudah lama kami merencanakan itu, dan bahkan beberapa tahun saya hanya makan tanaman saja, tetapi tidak punya cukup keberanian susila untuk bertahan. Saya masih muda sekali, masih berusia 14, 15 tahun.”

Kartini, yang saat itu merujuk pada dirinya dan saudara-saudaranya, mengakui perjuangan awal untuk mempertahankan prinsip tersebut. Ia juga pernah mengutip, “Vegetarisme itu doa tanpa kata kepada Yang Maha Tinggi,” sebuah pernyataan yang kemudian menjadi populer di kalangan para vegetarian.

Namun, pilihan gaya hidup tanpa daging ini ternyata menyimpan lapisan cerita yang lebih kompleks, terutama ketika mendekati akhir hayatnya. Spekulasi dan perdebatan sempat muncul terkait kondisi kesehatannya, sebagaimana diulas oleh Antara News pada 21 April 2018.

Misteri di Balik Akhir Kehidupan Kartini

Raden Adjeng Kartini meninggal dunia pada 17 September 1904, di usia yang sangat muda, 25 tahun, hanya sepuluh bulan setelah pernikahannya. Menurut penuturan Bupati Rembang, suaminya, Jacques Henrij Abendanon, Kartini dalam keadaan sadar sepenuhnya hingga detik-detik terakhir.

Advertisement

Setengah jam sebelum meninggal, Kartini mengeluh perutnya tegang. Dokter sipil Van Ravesteijn sempat memberikan obat, namun ketegangan di perut Kartini justru menghebat, dan ia pun menghembuskan napas terakhirnya di pelukan suaminya dan di hadapan dokter.

Di masa lalu, sebagian kalangan mempertanyakan apakah gaya hidup vegetarian Kartini berpengaruh pada ketahanan fisiknya, terutama saat menghadapi proses persalinan yang sulit. Tuduhan bahwa pola makan tanpa daging ini menjadi salah satu penyebab kematiannya karena potensi kekurangan nutrisi saat hamil sempat beredar.

Namun, para dokter dan ahli gizi di era modern lebih cenderung memperkirakan kematian Kartini disebabkan oleh preeklampsia, atau peningkatan tekanan darah yang signifikan selama dan sesaat setelah kehamilan. Sayangnya, tidak ada riwayat medis lengkap yang tersimpan untuk membuktikan spekulasi-spekulasi tersebut.

Misteri kematian Kartini setelah melahirkan putra pertamanya ini sering kali dikaitkan dengan komplikasi kehamilan yang disebut eklamsia. Muncul pertanyaan pula mengenai apakah pola makan vegetarian yang dijalani Kartini saat itu sudah didukung oleh asupan nutrisi yang memadai untuk ibu hamil di zamannya.

Meskipun demikian, banyak ahli sejarah menekankan bahwa keterbatasan fasilitas medis dan risiko persalinan pada awal abad ke-20 menjadi faktor utama yang lebih relevan, terlepas dari pola makan yang dijalani oleh tokoh emansipasi wanita ini.

Advertisement