Puluhan petani di Desa Kertosari, Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember, Jawa Timur, menghadapi kerugian besar akibat tercemarnya lahan persawahan mereka. Dugaan kuat mengarah pada limbah dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pakusari yang merembes ke saluran irigasi, khususnya di Dusun Lamparan, dan telah merusak lahan pertanian selama beberapa tahun terakhir.
Air lindi dari tumpukan sampah yang meresap ke dalam tanah bermuara ke saluran irigasi sawah, menyebabkan air berwarna gelap dan mengeluarkan bau busuk. Kondisi ini berulang kali membuat tanaman mati sebelum panen, memaksa para petani menanggung kerugian yang terus-menerus.
Bukhari, Petani yang Sawahnya Gagal Panen Berulang Kali
Bukhari (65), salah satu petani yang terdampak, menceritakan bagaimana sawahnya berulang kali mengalami gagal panen akibat pertumbuhan tanaman padinya yang abnormal. Kerusakan lahan semakin parah sejak awal tahun 2025. Menurutnya, tanaman padinya seperti hidup enggan mati tak mau.
“Busuk leher, kering daun, sehingga produktivitasnya itu turun drastis yang mestinya itu dapat kalau rata-ratanya 6 ton per hektar kemarin cuma sedikit, bahkan sekarang mau ditanami lagi mati,” ungkapnya.
Bukhari menyebutkan bahwa sawahnya berjarak hanya lima meter dari gunungan sampah TPA Pakusari. Saat Kompas.com meninjau langsung ke lokasi, padi milik Bukhari terlihat kerdil dan beberapa sudah mengering. Genangan air yang sedikit di lahan pun berwarna hitam pekat, membuat tanah di sekitarnya juga berwarna serupa.
Air irigasi yang mengalir ke sawahnya tampak berwarna hitam pekat dan berbau busuk.
Bukhari menambahkan, ia kembali menanam pada musim tanam kedua tahun ini. Namun, hingga sebulan berlalu, padinya tidak menunjukkan pertumbuhan. Bahkan, beberapa tanaman langsung mengering. Padahal, pupuk telah dioptimalkan di lahan seluas 4.000 meter persegi miliknya, dan upaya penyulaman telah dilakukan hingga tiga kali.
“Bahkan kalau sudah disulam lagi tetap mati. Jadi enggan saya untuk tanam lagi karena takut ruginya itu. Terus-terusan tambah rugi, tanaman enggak hidup-hidup,” keluhnya kepada Kompas.com, Senin (20/4/2026).
Situasi ini membuat Bukhari terpaksa tidak melanjutkan penanaman padi di sawah Dusun Lamparan karena tidak sanggup menutupi biaya produksi. Ia menyimpulkan bahwa sawahnya sudah tidak lagi produktif.
Upaya beralih ke tanaman cabai rawit pun pernah dilakukan tahun lalu, namun tidak berhasil menyelamatkan kondisi lahan. Tanaman cabai tumbuh lambat, kerdil, terserang hama, dan hasil panen jauh dari normal hingga tidak mencapai titik impas modal. Bukhari mengaku nyaris menyerah dan berharap ada perbaikan irigasi dari pihak terkait agar sawahnya kembali normal.
“Agar sawah atau tanah yang tercemar dari TPA ini cepat dikembalikan lagi ke normalnya, kualitas tanahnya. Sehingga bisa ditanami seperti biasanya,” katanya.
Advertisement
Rifa’i: Padi Baru Ditanam Langsung Kering Akibat Tercemar
Persoalan serupa juga dialami Rifa’i (39). Petani yang sawahnya berjarak hanya setengah meter dari TPA Pakusari ini mengalami masalah yang lebih serius. Padi yang baru ditanam di sawah seluas 1,5 hektar miliknya langsung mengering, meskipun sudah dilakukan penyulaman hingga tiga kali.
“Kalau tercemar sudah dari 2010, tapi efeknya masih enggak separah sejak tahun kemarin,” katanya.
Rifa’i mengungkapkan bahwa produktivitas tanamannya terus menurun setiap tahun. Hasil panen padinya tidak lagi optimal. Kerugian yang dialami dalam sekali musim tanam bisa mencapai puluhan juta rupiah. Ia mengaku telah berinisiatif membuat saluran irigasi sendiri dengan biaya Rp 15 juta.
“Tapi ya alirannya tetap air tercemar, warnanya seperti kecap. Lama-kelamaan air itu menyerap juga,” ujar pria asal Dusun Sumber Dandang itu.
Rifa’i dan petani lainnya sangat yakin bahwa irigasi sawah mereka tercemar dari TPA Pakusari.
“Secara kasat mata saja, airnya itu keluar dari tanah gunungan sampah TPA, kayak sumber itu,” katanya.
Ia juga menambahkan bahwa para petani biasanya memakai sepatu bot saat ke sawah untuk menghindari kontak langsung kaki dengan air. “Satu gatal, kedua panas,” ujar Rifa’i.
Pantauan Kompas.com di lokasi, terlihat rembesan air hitam pekat keluar dari tanah yang merupakan lahan TPA Pakusari dan mengalir ke irigasi sawah. Sepanjang saluran irigasi pun berubah warna menjadi hitam dan berbau busuk. Saat musim kemarau, air cenderung mengalir lambat dan terkadang mengendap lama.
“Kalau baru kemarau panjang kan enggak ada air. Airnya itu kalau lama-kelamaan kayak lendir, berminyak,” kata Rifa’i.
Para petani berharap ada upaya penghentian pencemaran dari pemerintah daerah. Sementara sawahnya tidak menghasilkan, Rifa’i kini bergantung pada pekerjaan sampingan sebagai sales jajanan.





